Fadjroel Rachman Tidak Bersalah, Kita yang Terlalu Berharap

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Juru Bicara Presiden RI, Fadjroel Rachman, mengajak kita, para perokok, untuk segera mengakhiri kebiasaan merokok demi menuntaskan program pengentasan kemiskinan. Dengan bermodal tabel Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), beliau menyebut rokok adalah penyumbang kemiskinan terbesar kedua.

“Tahukah anda, penyumbang terbesar kedua garis kemiskinan di Indonesia? ROKOK! Tidakkah lebih baik kita menghentikan konsumsi rokok ini? Sekarang angka kemiskinan terendah dalam 20 tahun terakhir, 9,22 persen! (BPS, 2020). Terimakasih kerja keras  Presiden @jokowi & jajaran~ FR” cuit akun @fadjroeL.

Seperti inikah kualitas Juru Bicara Presiden kita? Beginikah cara seorang petugas Istana Negara yang juga Komisaris BUMN membaca tabel data? Apakah pernyataannya ini mewakili sikap Presiden?

Dari tabel yang dicantumkan memang menunjukan bahwa rokok ada di urutan kedua (di bawah beras) sebagai penyumbang garis kemiskinan. Baik di kota maupun di desa, beras, rokok dan telur ayam menjadi 3 teratas dalam tabel daftar makanan penyumbang kemiskinan.

Lantas apakah berhenti merokok akan serta-merta mengentaskan kemiskinan? Tidakkah lebih baik kita menghentikan konsumsi beras, mengingat beras adalah juara di tabel tersebut? Atau kita perlu berhenti mengonsumsi semua yang terdaftar di sana? Mari hargai logika Fadjroel Rachman dengan sejenak tertawa.

Baca Juga:  Harap-harap Cemas Petani Tembakau

Kita bisa mulai dari definisi miskin. Secara harfiah, Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan miskin dengan tidak berharta benda. Lebih lanjut, definisi miskin pada umumnya adalah ketidakmampuan mengimbangi tingkat kebutuhan hidup dengan tingkat penghasilan ekonomi yang rendah.

Sementara kalau merujuk pada Undang-Undang RI nomor 13 Tahun 2011 tentang Penanganan Fakir Miskin, yang dimaksud dengan orang miskin adalah orang yang sama sekali tidak mempunyai mata pencaharian dan/atau mempunyai sumber tetapi tidak mempunyai kemampuan memenuhi kebutuhan dasar yang layak bagi kehidupan dirinya dan/atau keluarganya. Itulah landasan pemahaman yang disepakati oleh pemerintah dan masyarakat kebanyakan.

Menyebut rokok sebagai biang keladi kemiskinan adalah kesimpulan yang prematur. Ada banyak variabel dari faktor ekonomi makro dan mikro di sana. Jika dilihat dengan makro, angka kemiskinan di Indonesia membengkak akibat pertumbuhan ekonomi yang relatif rendah sehingga tidak mampu menyerap angkatan kerja yang masuk ke pasar tenaga kerja (jobless growth). Alhasil, pengangguran mengalami peningkatan. Kalau sudah mengganggur tentu saja penghasilan ekonominya menjadi rendah.

Baca Juga:  Cukai Rokok dan Logika Perputaran Uang

Kenaikan harga kebutuhan pokok yang tidak terkendali juga bisa menjadi faktor penentu kemiskinan seseorang. Oleh sebab itu, mereka yang berada di kelompok rentan miskin bisa dengan mudah tergelincir ke dalam kategori miskin kalau-kalau harga kebutuhan pokok tak lagi bisa mereka jangkau.

Belum lagi berbicara soal kebijakan fiskal dan moneter, kebijakan politik, inflasi, bencana alam, utang luar negeri, kerugian negara dari kasus mega korupsi, demo berjilid-jilid, dan lain-lain. Masih sangat banyak faktor lainnya. Menjadikan rokok sebagai kambing hitam kemiskinan adalah manifestasi nyata dari kegagalan pemerintah menyelesaikan beragam persoalan. Ini upaya melarikan diri.

Kembali ke Fadjroel Rachman. Dalam satu cuitan yang sama, beliau menuding rokok mampu memiskinkan orang sekaligus juga mengapresiasi keberhasilan Presiden Jokowi menekan angka kemiskinan menjadi yang terendah dalam 20 tahun terakhir. Tidak jelas ini kritik atau pujian.

Apakah Fadjroel tidak tahu bahwa rokok adalah penyumbang cukai tertinggi di APBN? Apakah dia juga belum tahu kalau Jokowi adalah orang yang meneken Perpres yang menjadikan pajak rokok sebagai penyelamat defisit anggaran BPJS Kesehatan? Tidak tahukah dia kalau ada banyak fasilitas umum seperti rumah sakit yang dibangun oleh rokok sebagai elemen kontributornya? Tahukah Fadjroel kalau Adian Napitupulu, Fadli Zon dan beberapa pejabat negara yang lain adalah perokok? Apakah Fadjroel hendak menyindir mereka?

Baca Juga:  Ironi Kecil tentang Kopi, Rokok, dan Asal Usul

Narasi Fadjroel soal rokok dan kemiskinan semakin memantapkan pesimistis publik pada pemerintah. Sebelumnya juga banyak menteri yang mengeluarkan pernyataan menyebalkan dan menyakiti hati rakyat. Beras mahal, rakyat diimbau diet nasi. Cabai mahal, rakyat diminta tanam sendiri. BPJS mahal, rakyat disuruh agar jangan sakit. Besok, jangan heran kalau negara menyarankan kita latihan berenang sebagai solusi menghadapi banjir atau menginstruksikan kita berhenti bernafas sebagai solusi menghadapi kabut asap.

Beginilah watak pemerintah kita; abai dan lepas tangan. Alih-alih melaksanakan kewajiban, mereka justru melimpahkan tugas-tugasnya untuk diselesaikan oleh warga negara.

Keengganan membaca persoalan secara struktural berimplikasi pada kualitas argumentasi seseorang. Inilah yang sedang dipertontonkan oleh Fadjroel Rachman si aktivis reformasi yang juga Komisaris BUMN yang juga Juru Bicara Presiden RI.

Terlepas dari itu semua, Fadjroel tidak bersalah, dia hanya menjadi diri sendiri. Memang itulah kapasitasnya. Kita yang salah karena terlalu berharap pada sosoknya.

Aris Perdana

Manusia yang dikutuk untuk bebas | @arisperd