Rokok Bikin Kita Tambah Stress?

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Narasi negatif soal rokok masih saja terus digaungkan. Kali ini datang dari portal berita ayobandung.com yang memberitakan bahwa merokok memberi dampak buruk pada kesehatan mental kita. Sungguh sebuah teori yang sangat absurd mengingat sesungguhnya betapa pentingnya rokok bagi para perokok. Tentu kalian para perokok bisa membayangkan nikmatnya sebatang rokok dalam hari-hari kalian yang sedang penat.

Ayobandung.com memberitakan bahwa ada sebuah mengamati lebih dari 2.000 siswa yang terdaftar di universitas-universitas Serbia. Penelitian menyurvei tentang kebiasaan merokok dan gejala depresi mereka. Penelitian dilakukan oleh para peneliti, di antaranya University of Belgrade Serbia dan Univesity of Pristina Kosovo. Temuan menunjukkan di antara siswa yang merokok tingkat depresi klinisnya adalah dua hingga tiga kali lebih tinggi daripada di antara siswa yang tidak merokok. Lebih khusus lagi, 14 persen siswa yang merokok di University of Pristina Kosovo ditemukan menderita depresi dibandingkan dengan hanya empat persen dari peserta yang tidak merokok.

Baca Juga:  Kampus dan Ketidakadilan Terhadap Perokok

Di University of Belgrade, 19 persen perokok menderita depresi dibandingkan dengan 11 persen yang bukan perokok. Temuan ini masih berlaku bahkan setelah para peneliti memperhitungkan latar belakang ekonomi dan sosial politik siswa.

Begitulah isi bunyi hasil riset yang mereka lakukan dengan sampel 2.000 siswa di beberapa universitas di Serbia. Tentu sebagai sebuah hasil karya ilmiah saya mengapresiasi hal tersebut. Namun, sebagai sebuah karya ilmiah pula juga bukan berarti bebas kritik toh. Pertama saya mengkritik tentang metode bagaimana riset ini dilakukan. Pasalnya, tak dijelaskan secara rinci metode yang dipilih serta validitas lebih lanjutnya.

Kedua, hasil riset ini sungguh sangat lucu. Bagaimana bisa sebuah rokok bisa memberikan dampak depresi bagi mereka yang mengkonsumsinya. Bukannya justru malah sebaliknya,. Berkaca dari diri saya sendiri, rokok mampu menjadi teman yang baik ketika hari-hari penat saya tiba. Untuk hal ini saya tidak perlu metode ilmiah untuk menjawabnya. Di lingkaran saya pun demikian, ketika suntuk tiba, pusing tak karuan, menghisap sebatang rokok justru malah memberi ketenangan, bahkan tak sedikit juga yang mendapatkan jawaban atas keresahan tersebut.

Baca Juga:  Agar Perda KTR Surabaya Tidak Menjadi Aturan yang Kontraproduktif

Jadi begini, biar sedikit ilmiah sedikit. Pada sebatang rokok ada kandungan nikotin di dalamnya. Kandungan nikotin itu ditulis kok pada bungkus rokok yang kita beli, ditulis pula berapa kandungannya di situ. Adanya nikotin pada rokok bukan hal yang negatif kok, kandungan nikotin juga ada pada kentang, terong, kol, tomat, dan beberapa sayuran yang kita konsumsi itu. Kehadiran nikotin itu mampu merangsang kerja otak kita dan membuat kita menjadi lebih tenang.

Lagian, jika rokok malah membuat kita semakin depresi maka saya yakin tak akan banyak karya-karya hebat yang dibuat oleh para perokok. Kalau memang ada waktu coba ziarah ke makam Albert Einstein bagaimana rokok membantunya melahirkan hal-hal hebat. Coba berkunjung ke makam bapak bangsa kita, Soekarno, dan tanyakan bagaimana rokok mampu menolongnya di saat-saat rumit sebelum kemerdekaan diproklamirkan. Tanya juga pada Pramoedya Ananta Toer bagaimana bisa menghasilkan karya-karya kelas wahid meski pun punya kebiasan merokok. Coba tanya sana!

Justru baca berita tentang hasil penelitian ini bikin saya tambah pusing. Sudah penelitiannya jauh di Serbia sana eh malah dicoba untuk nakut-nakutin kita yang ada di sini. Ketimbang pusing mending saya ambil sebatang rokok dulu dan membakarnya, sambil bergumam dalam hati “aya-aya wae, Kang!”

Baca Juga:  Biar Cukai Naik, SKT Harus Tetap Hidup

 

Indi Hikami

TInggal di pinggiran Jakarta