Perempuan merokok di arab saudi

Kebangkitan Demokrasi dan Perempuan Merokok di Arab Saudi

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Warna baru kini tengah meliputi Arab Saudi setelah pemimpin mereka, Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman membuka ruang demokrasi yang cukup signifikan. Satu hal yang cukup menarik perhatian adalah kebebasan dan kemerdekaan yang didapati oleh para perempuan di sana. Wajar saja, mengingat permasalahan gender di Arab Saudi adalah salah satu hal yang disoroti dunia luar di tahun-tahun sebelumnya.

Perempuan di Arab Saudi kini diberi ruang yang seluas-luasnya untuk mengekspresikan diri. Selain mulai diperbolehkan menyetir kendaraan pribadi, bisa menikmati fasilitas bioskop, saat ini perempuan di Arab Saudi juga bisa menikmati rokok secara terbuka. Sebelumnya, ada semacam peraturan yang melarang perempuan untuk merokok hingga bahkan melakukannya di ruangan terbuka.

Keleluasaan yang didapati ini kemudian dirayakan betul oleh masyarakat terkhusus para perempuan di sana. Saya kira ini adalah berkah yang besar yang didapatkan oleh para perempuan Arab Saudi. Walau sebenarnya budaya merokok di kalangan perempuan Arab Saudi sebenarnya bukan sesuatu yang baru bagi mereka. Saya pernah membaca sebuah berita yang terbit di republika sekitar lima tahun lalu yang menyebutkan bahwa persentase perokok perempuan di Arab Saudi ada sekitar empat sampai lima persen.

Baca Juga:  Dampak Erupsi Gunung Agung pada Lahan Tembakau dan Cengkeh

Bukan hal yang berlebihan kemudian jika para perempuan di Arab Saudi merayakan kebebasan ini dengan suka cita. Pada hakikatnya perempuan memang pada dasarnya punya kesamaan hak dengan kaum pria. Bagaimanapun, rokok memang tidak bisa digeneralisir sebagai produknya para lelaki. Perempuan pun boleh menikmatinya secara bebas asal dengan syarat memenuhi batas umur yang diperbolehkan.

Kabar baik yang terjadi nun jauh di Arab Saudi seharusnya bisa kita terapkan di sini. Perempuan di Indonesia juga bisa bebas merayakan kemerdekaannya seperti yang dilakukan di Arab Saudi. Walau kita sama-sama paham, musuh bersama dari perokok perempuan adalah stigma. Masih banyak yang kemudian beranggapan bahwa perempuan perokok adalah seorang jalang, tak bermoral, dan segala cap negatif yang dilekatkan.

Stigma-stigma negatif tersebut juga sedang dilawan oleh para perempuan di Arab Saudi. Apalagi angin perubahan yang cukup signifikan ini baru berlangsung beberapa tahun saja setelah Arab Saudi dikuasai oleh kelompok agamis dengan pemikiran yang sangat konservatif. Sebaliknya di Indonesia, budaya patriarki masih saja mendominasi walau pasca reformasi upaya penegakkan demokrasi terus dilakukan, termasuk perjuangan kesetaraan gender.

Baca Juga:  Kak Seto, Jangan Ajari Anak-Anak dengan Gaya Boomer!

Saya coba sedikit memberikan sebuah data yang sebenarnya sangat dilematis. Data dari Global Gender Gap Index 2018, indeks Ketimpangan Gender (Gender Inequality Index/GII) Indonesia tercatat di angka 0,453 poin, berada di atas rata-rata negara ASEAN yang sebesar 0,356 poin. Indonesia berada di peringkat keempat tertinggi setelah Kamboja (0,473 poin), Laos (0,461 poin), dan Myanmar (0,456 poin). Data ini sebenarnya menjadi tamparan buat pemerintah yang selalu mengglorifikasi bahwa Indonesia adalah negara paling demokratis di kawasan ASEAN.

Kesetaraan gender tak hanya bisa diukur dengan partisipasi perempuan di ranah politik, justru jauh lebih itu. Ada variabel lain yang misalnya familiar di telinga adalah masih tinggikah tingkat kekerasan seksual terhadap perempuan, atau sejauh mana peraturan di Indonesia tidak diskriminatif terhadap gender. Ini masih menjadi pekerjaan rumah yang berat di Indonesia. Terlebih kita mengetahui baru-baru ini ada larangan merokok untuk perempuan bahkan dengan sanksi yang berat ketimbang pria di Universitas Pamulang.

Meski upaya perjuangan kesetaraan gender masih menempuh jalan yang panjang namun apa yang terjadi di Arab Saudi adalah kabar baik yang harus disebarkan. Bukan hal yang buruk juga jika kita kemudian ikut merayakan kebebasan seperti yang dilakukan oleh para perempuan di Arab Saudi. Karena sesuatu yang baik memang harus terus dipublikasikan dan kemerdekaan tidak akan tumbuh tanpa memperjuangkannya.

Baca Juga:  Petani Tembakau dan Kearifan Lokal
Indi Hikami

TInggal di pinggiran Jakarta