cukai rokok

Pandemi Corona Belum Pengaruhi Pembelian Pita Cukai Rokok

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Rokok bagi para perokok pada kondisi lockdown seperti sekarang menjadi kebutuhan yang tak terelakkan. Bukan apa-apa, ketika semua orang terpaksa harus menetap di rumah, bekerja dari rumah, melakukan aktivitas yang serba terisolir. Kondisi ini tentu sangat berpengaruh terhadap psikis masyarakat. Membeli stok rokok adalah opsi yang masuk akal, selain menyetok kebutuhan pokok lainnya.

Pada kondisi masyarakat yang serba terisolir ini, konsumen dihadapkan pada opsi yang mau tak mau harus mampu menyiasati ketersediaan kebutuhan sehari-hari. Meski harga rokok saat ini tidak lagi sama dengan kondisi sebelum ada regulasi cukai yang baru. Pilihan perokok untuk tetap bisa ngebul adalah keniscayaan. Di tengah kondisi yang cukup mengguncang sendi-sendi aktivitas ekonomi masyarakat. Pemesanan pita cukai dari pihak pabrikan tercatat belum terlalu terpengaruh.

Sitidaknya hal itu dtengarai oleh pihak Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai (KPPBC) tipe Madya di Kudus, Jawa Tengah, bahwa pemesanan pemesanan pita cukai rokok masih berjalan lancar. Bahkan sejauh ini belum ada perusahaan rokok yang mengurangi pemesanan. Artinya, pandemi Covid-19 belum terlalu memberi pengaruh signifikan terhadap target produksi perusahaan rokok di Kudus.

Baca Juga:  Rencana Ngawur Penghapusan Bantuan Sosial Bagi Perokok

Artinya, ketika pabrikan masih mampu produksi rokok seturut target produksinya. Konsumen rokok tidak perlu terlalu resah akan kelangkaan rokok di pasaran. Beda halnya dengan yang saya alami sepekan kemarin, sewaktu harus nyetok bahan makanan sehari-hari, salah satunya adalah tahu. Di warung sayur dekat rumah, tahu terbilang langka, kabarnya tak ada lagi tersedia di pasaran. Saya tidak sedang membanding-bandingkan dua produk yang memang secara esensi berbeda. Untuk menyiasati kebutuhan akan protein yang didapat dari kedelai, saya menggantinya dengan membeli tempe. Agaknya hal semacam ini pun bisa terjadi pada perokok lainnya ketika dihadapkan pada persoalan kelangkaan rokok, mau tak mau iya harus nyetok tembakau dan beralih melinting rokok sendiri.

Pandemi Covid-19 ini memang bukan sesuatu yang bisa disepelekan. Akibat makin meningkatnya jumlah orang yang terserang virus tersebut akibat penyebarannya yang sulit terkontrol. Banyak pihak, termasuk masyarakat sendiri melakukan inisiatif untuk membatasi penyebarannya. Beberapa daerah secara inisiatif sudah melakukan karantina wilayah, atau yang biasa disebut lockdown. Termasuk Jakarta beberapa waktu ini.

Baca Juga:  Geliat Cengkeh Indonesia

Untuk mengantisipasi kondisi terisolir itulah, tak ayal sebagian perokok harus menyetok rokok di rumah. Barangkali salah satu opsi inilah yang membuat permintaan pita cukai rokok tetap berjalan lancar. Meski pada kondisi sekarang, aktivitas distribusi sebagian kebutuhan masyarakat terhambat. Namun secara pasti, menurut pihak KPPBC Kudus, perusahaan rokok juga mempertimbang adanya lonjakan permintaan rokok yang biasanya terjadi pada saat lebaran. Perusahan rokok pun mengambil antisipasi dengan membeli cukai terlebih dahulu.

Perlu diketahui, untuk memproduksi rokok dalam jumlah yang ditargetkan, perusahaan rokok tidak bisa memproduksi rokok tanpa membeli pita cukai lebih awal. Dari kondisi permintaan pita cukai yang relatif lancar itu, agaknya target penerimaan cukai yang dibebankan kepada pihak KPBBC tahun ini terbilang realistis. Meski semua itu masih perlu membaca data dan kemungkinan lebih lanjut.

Sebagai konsumen, kita tentu tahu pada kondisi ini pemasukan negara dari cukai rokok telah pula memberi andil bagi penanggulangan Covid-19. Hal itu tertuang dalam Permenkeu 19/PMK.07/2020, cukai rokok yang dibayar oleh konsumen menjadi salah satu kontribusi perokok dalam menghadapi kondisi yang memukul banyak sektor di bangsa ini. Namun bukan berarti kita patut berlaku jumawa ataupula takabur dalam kondisi seperti sekarang. Kita juga perlu lebih perhatian mematuhi protokol yang sudah ditetapkan, setidaknya dengan tidak menambah beban menjadi pasien yang harus dirawat, yang dengan begitu kita telah mengurangi beban pemerintah sampai nanti momok virus ini sirna dari bumi Indonesia. Amiin.

Baca Juga:  Ruang Merokok Bukan Wadah Untuk Mengucilkan Perokok
Jibal Windiaz

anak kampung sebelah