Rokok, Covid-19, dan Betapa Menyebalkannya Media

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Hampir setiap hari isu rokok menjadi bahan pemberitaan di media. Baik media mainstream maupun media abal-abal yang memang dibentuk untuk menghembuskan isu negatif soal rokok, sama-sama memiliki porsi yang besar untuk memberitakan isu rokok. Media yang seharusnya memberikan informasi dan mencerdaskan masyarakat, justru bertransformasi menjadi salah satu stimulan gerakan anti rokok.

Tuduhan ini tentu hanya dialamatkan pada media-media tertentu. Tidak semua. Media-media ini (yang menjadi stimulan gerakan anti rokok), kerap menggunakan kata kunci “rokok” untuk menghasilkan judul bombastis. Tujuannya jelas memanfaatkan frasa “rokok” yang memang trafiknya cukup tinggi di mesin pencarian Google.

Ada beberapa media yang menggunakan kata rokok dikaitkan dengan suatu fenomena sosial yang mengerikan seperti pembunuhan, misalnya. Seperti judul berita di Tribunnews ini: Diminta Berhenti Merokok, Pria Ini Tikam Istrinya yang Sedang Hamil Sebanyak 8 Kali. Mengerikan, bukan?

Setelah membaca muatan beritanya, kita bisa paham bahwa masalahnya ini bukan sekadar perkara ‘diminta berhenti merokok’. Lebih dari itu, ternyata sang suami sedang dalam pengaruh alkohol alias mabuk. Pertanyaan saya: kenapa judulnya tak menyebut suami mabuk? Kok, terkesan menjadikan rokok sebagai sebab? Dan ternyata kejadian ini pun jauh di Rusia sana. Apakah Tribunnews Pekanbaru meliput langsung ke sana? Kenapa tak menyebut “Rusia” dalam judulnya?

Baca Juga:  Samosir, Harapan Baru Penghasil Tembakau

Akhir-akhir ini media seolah menemukan ‘makanan’ baru. Pandemi virus corona (Covid-19) yang tengah mewabah di seluruh dunia mengisi hampir setiap headline media massa. Hari-hari kita diisi oleh beragam model pemberitaan soal Covid-19.

Sama seperti rokok, Covid-19 kerap digunakan sebagai judul dari pemberitaan untuk memanfaatkan trafik yang cukup tinggi mesin pencarian Google. Ada beberapa berita yang memasukkan frasa “corona” atau “covid-19” pada judulnya, hanya demi meraih klik dari pembaca.

Sebagai contoh berita berjudul Dokter Teman Raditya Dika Meninggal Diduga Karena Corona, Sosoknya Disebut Baik dan Pintar. Publik tidak memerlukan informasi tentang sosok teman Raditya Dika. Yang kita butuhkan adalah informasi seputar gejala yang dialami, riwayat penyakit, atau penanganan pertama yang diperlukan. Tapi mengapa media memberitakan sosok baik dan pintar? Yap! Karena penyedia berita yakin bahwa akan ada orang yang membacanya. Simpel.

Beberapa berita kontroversial lainnya bisa kita temukan di internet. Banyak. Judul-judul bombastis yang ternyata berisi informasi tak terkonfirmasi. Alih-alih mengabarkan, media justru sering menebarkan kepanikan. Media juga bertanggung jawab pada kekacauan pasar, kenaikan harga, dan kelangkaan barang-barang tertentu.

Baca Juga:  Kenapa Jokowi Bisa Selip Lidah Soal Rokok?

Media hari ini menyediakan berita bukan untuk memberi informasi atau meliterasi publik. Media adalah bisnis. Penting atau tidak sebuah informasi bukanlah soal, asal mendatangkan untung. Hal ini diperparah dengan kebiasaan masyarakat kita yang juga doyan dengan kabar-kabar miring dan gosip. Jadilah sebuah ekosistem yang mengkhawatirkan.

Dalam situasi seperti saat ini bahkan ada saja berita yang bisa-bisanya mengaitkan rokok dan corona dalam satu berita. Jangan tanya riset ilmiah yang mendukung, berita semacam ini jelas punya agenda framing. Politisasi corona tak hanya dilakukan oleh politisi kita, tapi juga dimainkan oleh anti rokok. Perokok dicitrakan rentan terserang Covid-19.

Saya tidak tahu, apakah berita-berita buruk tentang rokok itu memang sekadar bertujuan meraup klik dari pembaca, atau memang hasil dari sebuah kerja sama yang super licik antara anti rokok dengan media stimulannya demi keuntungan semata. Wallahu a’lam.

Aris Perdana

Manusia yang dikutuk untuk bebas | @arisperd