Selain Bahan Baku Kretek, Cengkeh Bisa Jadi Jamu Penjaga Stamina

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Pasca diumumkannya dua WNI terjangkit Virus Corona (COVID-19) pada awal Maret lalu, harga rempah-rempah pada sejumlah pasar di Jakarta Pusat mulai melonjak drastis. Terlebih harga cengkeh yang sudah menembus angka Rp200 ribu per kilogram.
Meski di tingkatan petani cengkeh sendiri, di Semeleuh Aceh misalnya, harga cengkeh turun drastis dari panen tahun sebelumnya. Sebagai pengingat, cengkeh adalah salah satu komponen utama produk kretek. Sekira 97 persen cengkeh di Indonesia terserap industri rokok, kretek terutama.
Turunnya harga cengkeh yang dialami petani adalah imbas dari regulasi cukai 2020 dengan kenaikan tarif yang gila-gilaan. Pembatasan kuota produksi terjadi. Harga rokok menjadi mahal. Sama nasibnya dengan tembakau pasca kenaikan cukai, sebagian petani cengkeh tak menjual sepenuhnya untuk industri kretek, ada yang memang untuk disimpan sebagai tabungan. Ada yang menjualnya untuk permintaan pasar lain.

Namun dengan merebaknya endemi Covid-19 di Indonesia yang juga telah menggemparkan dunia. Karena tercatat sudah banyak menelan korban jiwa di bebagai negara termasuk di Indonesia. Kemudian di Jakarta, banyak orang memilih langkah-langkah pencegahan. Hal serupa berlaku pula di berbagai daerah lainnya.

Baca Juga:  Sudah Waktunya Meninjau Angka Harapan Hidup Bukan Melulu dari Perkara Rokok

Beragam cara pencegahan ditempuh. Iya di antaranya dengan memanfaatkan rempah-rempah untuk dijadikan jamu. Termasuk pemanfaatan cengkeh. Tak heran jika harga cengkeh di tingkatan pedagang melonjak tinggi. Selain itu terhambatnya akses distribusi turut pula mempengaruhi naiknya harga-harga. Bisa dibilang ini satu anomali yang menguntungkan bagi pedagang.

Tak dipungkiri, sebagian besar masyarakat percaya bahwa rempah-rempah mampu dijadikan penangkal virus mematikan itu. Padahal tidak mutlak begitu juga. Sejatinya, rempah-rempah tidak hanya untuk bumbu masak, oleh sebagian masyarakat juga dibuat jamu. Diketahui jamu sendiri juga meningkatkan daya tahan tubuh.

Dengan lain kata, kebugaran tubuh kita akan senantiasa terjaga oleh keutamaan yang dikandung pada rempah-rempah. Tentu saja tidak serta merta jamu dari rempah jadi penangkal virus Covid-19, perlu penjelasan lain yang lebih valid dari para hali soal ini. Namun paling tidak, dengan mengonsumsi rempah secara berangsur dapat meningkatkan imunitas tubuh.

Tapi akan percuma juga minum jamu kemudian tanpa diimbangi dengan berolahraga. Stamina yang fit hanya dapat ditunjang oleh kebiasaan kita dengan menjaga pola hidup yang seimbang. Terkait pemanfaatan rempah untuk jamu, yang secara prinsip adalah upaya merawat daya tahan tubuh, memang telah menjadi pengetahuan turun temurun di bangsa ini. Seperti juga produk kretek yang lahir dari pengetahuan yang terwaris dari generasi ke generasi.

Baca Juga:  Industri Rokok Di Balik Itu!

Hanya saja di era canggih ini, sebagian kalangan tidak terlalu memperhatikan komponen cengkeh yang dikandung pada produk kretek. Boleh dikatakan, sedikit orang yang paham bahwa prinsipnya produk kretek ini setara dengan jamu. Hanya beda cara mengonsumsinya saja. Kenapa bisa disebut jamu, iya karena pada konten kretek tidak hanya terdapat tembakau cengkeh saja, ada unsur rempah lainnya yang juga terlibat.

Jangan sampai jadi sesat tafsir juga, bukan berarti dengan merokok kita lantas terbebas dari serangan Covid-19. Ada prosedur penting yang harus kita lakoni bersama, terutama dalam menjaga kebersihan. Baik kebersihan diri maupun lingkungan. Penggunaan disinfektan atau sekurangnya mencuci tangan dengan sabun, serta penggunaan masker untuk sehari-hari jangan sampai diabaikan. Selanjutnya, jangan sampai pikiran kita juga jadi stress karena kondisi saat ini. Agar sedikitnya mengurangi stress, iya jangan lupa sebats.

Jibal Windiaz

anak kampung sebelah