Tingwe

Tingwe Massal di Harlah NU ke 97

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Selalu ada yang menarik dari peringatan hari lahir Nahdlatul Ulama. Acara Harlah NU ke-97 yang bertempat di Sekretariat Pengurus Cabang Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah kali ini, digelar pameran tembakau dan kopi. Menariknya adalah di dalam pameran tersebut digelar kegiatan ngelinting dhewe alias tingwe secara massal yang dihadiri oleh ratusan nahdliyin dari Jawa Tengah. KH Ubaidillah Shodaqoh yang merupakan Rais Syuriah PWNU Jateng menjadi inisiatornya.

Sebagai seorang perokok dan juga warga NU secara kultural. saya berterima kasih kepada KH Ubaidillah Shodaqoh sudah menginisiasi acara tingwe massal tersebut. Di saat harga rokok yang semakin melonjak akibat tarif cukai yang ditinggikan oleh pemerintah, perokok butuh tokoh yang mampu menyuarakan keresahan tersebut.

Ya, maklum saja banyak sosok perokok yang memilih diam. Meski KH Ubaidillah Shodaqoh menyebut acara tersebut digelar agar masyarakat Indonesia lebih mengenal tembakau di nusantara, bagi saya tidak sesederhana itu. Tingwe massal di Harlah NU saya anggap seperti sebuah protes yang dilakukan oleh para nahdliyin terhadap kesewenang-wenangan pemerintah dalam menaikkan harga tarif cukai rokok.

Baca Juga:  Penyumbang Devisa itu Bernama Tembakau

Apa yang diharapkan KH Ubaidillah Shodaqoh tampaknya memang menjadi fakta saat ini. Teman-teman saya yang mulai beralih untuk melinting sendiri, kini mulai mengenal ragam dan varietas tembakau di tanah air. Bahkan, mereka tak malu-malu untuk saling bertukar tembakau, mengenalkannya kepada para perokok lain, bahkan meracik sendiri kretek yang mereka ingin konsumsi.

Jumlah toko yang menjual tembakau kini pun semakin menjamur di berbagai kota. Di tempat saya tinggal saat ini, Jogjakarta, mulai hadir toko-toko baru yang menjual tembakau. Bahkan omset mereka pun naik seiring permintaan tembakau yang tinggi di masyarakat.

KH Ubaidilah Shodaqoh juga, menurut saya, sedang melakukan agenda untuk membuat tingwe tak lagi dianggap barang yang ndeso. Dulu, aktivitas tingwe dianggap dilakukan oleh orang-orang di desa, saat ini coba lihat banyak anak muda di kota-kota besar yang tak lagi malu-malu menunjukkan aktivitas melinting mereka. Selain itu, tingwe massal pada Harlah NU di Jawa Tengah sebenarnya semakin menguatkan posisi NU sebagai organisasi yang membela kretekus dan petani tembakau serta cengkeh.

Baca Juga:  Kekonyolan yang Berulang, Mustahik yang Kedapatan Merokok Dicoret dari Haknya

Seperti yang kita ketahui, mungkin hanya NU yang peduli betul terhadap hal ini. Tradisi menghisap kretek begitu kuat dalam organisasi ini, budaya nyebats memang tumbuh dan besar di kalangan pesantren. Terlebih, NU juga berani mengeluarkan fatwa bahwa rokok bukan produk yang haram. Berbeda dengan Muhammadiyah yang turut mengharamkan rokok dengan dalil kesehatan.

Hal tersebut membuat banyak ulama NU yang tampil untuk menunjukkan dirinya adalah seorang kretekus. Gus Muwafiq contohnya, yang kini sedang digandrungi anak muda, ia juga sering membicarakan seputar rokok dalam ceramahnya. Dengan cara bertuturnya yang santai, Gus Muwafiq mampu mengantarkan pesan alasan mengapa NU memilih untuk tidak mengharamkan rokok.

Suatu saat dalam ceramahnya Gus Muwafiq bertutur bahwa rokok adalah obat stres bagi masyarakat Indonesia. Bagi saya ini benar adanya. Beberapa waktu lalu saja ada berita seseorang tak jadi bunuh diri karena ditawari sebatang rokok. Coba dibayangkan, betapa dahsyatnya rokok dalam kehidupan masyarakat Indonesia, tentu kasus ini banyak dijumpai di tengah-tengah masyarakat.

Baca Juga:  Merokok di Ruang Privat Bukanlah Urusan Bima Arya

Indonesia beruntung memiliki tembakau yang menunjang pembangunan di negeri ini. Lebih beruntungnya lagi Indonesia memiliki Nahdlatul Ulama yang juga turut berjuang melindungi tembakau di negeri ini. Selamat ulang tahun NU, jaya selalu!

Indi Hikami

TInggal di pinggiran Jakarta