tembakau

Ketika Negeri Tembakau Perangi Pandemi Corona

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Kuba bukanlah negara yang besar jika dibandingkan Indonesia. Luas negara ini hanya 109,884 km², hanya kira-kira seperlima dari luas Jakarta. Meski begitu, peran negeri tembakau yang satu ini tidak bisa dianggap kecil dalam dunia internasional.

Pada perang melawan pandemi corona yang digalakkan negara-negara sedunia, Kuba menjadi salah satu negara yang mengirimkan tenaga medisnya ke negara terdampak, misal Italia. Walau di Kuba sendiri pandemi corona telah masuk dan terdeteksi, hal ini tidak mengurungkan kebiasaan Kuba untuk mengekspor dokter dan bantuan kesehatan untuk dunia.

Sekadar mengingatkan, mungkin hari ini Kuba adalah salah satu negara dengan sistem kesehatan terbaik di dunia. Selain memiliki sekolah kedokteran internasional bernama ELAM dengan beasiswa penuh bagi para mahasiswanya, Kuba juga memiliki sistem consultorio yang menjamin kesehatan masyarakatnya hingga tingkat terkecil dalam lingkungan tinggal warga.

Sistem kesehatan publik, ini sebenarnya mirip Puskesmas di Indonesia. Namun, consultorio ini berada ditingkat Rukun Tetangga (RT). Karena itu, banyak siswa yang sekolah di ELAM berasal dari negara-negara yang membutuhkan tenaga dokter untuk melayani komunitas, terutama di pedesaan.

Untuk itu juga kemudian Kuba melatih para calon dokternya untuk bertugas di berbagai belahan dunia. Para dokter yang disiapkan harus siap untuk melayani korban. Mereka didoktrin, bukan tentang paham komunisme tentu saja, melainkan mereka diajarkan tentang kemanusiaan agar siap membantu negara-negara yang membutuhkan seperti keadaan sekarang ini.

Jika ada pernyataan dari Amerika Serikat yang mengatakan kalau Kuba mengeksploitasi para pekerja medisnya dengan memotong gaji karena tugas luar negeri, kita sudah tahu bahwa itu hanya propaganda belaka. Ingat, selama ini Amerika Serikat menjadi negara yang memblokade ekonomi Kuba.

Saya selalu teringat sebuah pernyataan dari Presiden Legendaris Kuba Fidel Casto yang menyatakan kalau mereka tidak memiliki nuklir dan tidak mengirimkan tentara ke negara lain, melainkan Kuba mengirimkan dokter-dokternya ke negara lain. Saya kira, itu adalah salah satu pidato terbaik yang pernah saya dengar dan mengetuk nurani kemanusiaan ini.

Secara ekonomi, Kuba memang bukan negara kaya, tetapi mereka masih bisa mendapatkan pemasukan devisa salah satunya dari ekspor tembakau dan cerutu milik mereka. Sekadar mengingatkan, tembakau dari Kuba adalah salah satu yang terbaik di dunia. Sementara cerutu dari tembakau Kuba masih menjadi yang terbaik di dunia.

Dulu, sesaat sebelum embargo ekonomi terhadap Kuba dilakukan Amerika Serikat, Presiden John F Kennedy mengimpor begitu banyak cerutu dari tembakau Kuba karena Ia adalah penikmatnya. Setelah itu, barulah AS memberlakukan blokade ekonomi hingga sekarang. Namun, tetap saja, Kuba masih menjadi negara yang mampu menghidupi rakyatnya dari hasil bumi mereka, termasuk tembakau.

Inilah perlawanan nyata terhadap Corona dari sebuah negeri tembakau bernama Kuba. Walau negaranya tidak kebal corona dan sudah ada puluhan kasus positif, tetapi mereka tidak pernah lupa untuk mengirimkan bantuan tenaga medis kepada negara terdampak lainnya. Salut dan hormat setinggi mungkin kepada Kuba. 

Baca Juga:  Ade Rai dan Gagal Paham Soal Produk Konsumsi
Aditia Purnomo

Bukan apa-apa, bukan siapa-siapa | biasa disapa di @dipantara_adit