Petani Tembakau dan Kearifan Lokal

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Temanggung sebagai daerah penghasil tembakau juga menghasilkan beberapa jenis tanaman sayuran. Sudah lazim di antara tanaman tembakau juga ditumbuhi tanaman sela. Petani sengaja memanfaatkan lahan miliknya untuk memenuhi kebutuhan pangan. Tanaman kacang-kacangan yang kerap dijadikan sebagai tanaman sela di perkebunan tembakau. Upaya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari itu didapat dari komoditas tembakau dan tanaman sayuran lainnya.

Di masa pandemi ini, daerah Temanggung juga turut terdampak oleh situasi yang serba riskan ini. Permintaan tembakau dari pabrikan mengalami penurunan, ditambah lagi terganggunya aktivitas ekonomi pasar akibat social distancing. Banyak sektor usaha mandeg, karena pandemi Covid-19 cukup memukul siklus perdagangan. Ekonomi nasional sedang sulit terbilang. Diprediksi krisis akibat pandemi ini akan berlangsung panjang.

Untuk itu Bupati Temanggung, M Al Khadziq, mengatakan di tengah wabah Covid-19, kemungkinan bisa terjadi krisis ekonomi. Ditengarai hal tersebut berakibat pada krisis cadangan pangan. Dia menganjurkan masyarakat Temanggung untuk pula mengantisipasi kondisi krisis cadangan pangan. Yakni dengan tidak hanya menanam tembakau yang sudah menjadi sumber pendapatan utama masyarakat, tetapi juga disertai menanam tanaman pangan yang bisa menjadi sumber konsumsi sehari-hari nantinya.

Baca Juga:  Diskriminasi Pemkot Pontianak soal Kebijakan Rokok

Seperti kita ketahui, komoditas perkebunan di Temanggung tidak hanya berupa tembakau. Komoditas kopi, vanili, apel, kentang, juga tanaman sayuran lainnya telah menjadi sumber andalan masyarakat. Menyikapi kondisi krisis akibat pageblug saat ini, Bupati Temanggung lebih menekankan masyarakat untuk pula menanam jagung, ubi, dan ketela. Hal itu baginya cukup dapat mengantisipasi kemungkinan terburuk dari krisis yang berkepanjangan. Seperti yang kita ketahui, pada musim ini para petani baru memasuki musim tanam tembakau. Untuk itu, seturut himbauan Bupati, pihak dinas pertanian setempat pun menyarankan hal serupa.

Sejatinya, persoalan pageblug yang tengah melanda masyarakat kita sudah dapat disikapi oleh masyarakat. Terlebih lagi masyarakat tani. Masyarakat agraris bukan tidak punya cara-cara antisipatif dalam menjawab persoalan yang mereka hadapi. Iya salah satunya dengan pemanfaatan lahan perkebunan mereka yang secara turun temurun, pasca panen tembakau akan disusul dengan menanam tanaman lain yang dapat menjadi sumber pangan petani. Dengan kata lain, petani sudah terlatih secara alamiah oleh lingkungan agrarisnya yang selama ini turut membentuk nilai-nilai kearifan.

Baca Juga:  Kretek bukan Rokok

Salah satu contoh adalah dengan adanya sistem ‘lumbung’ sebagai tempat menyimpan stok hasil bumi dari yang petani tanam. Dari lumbung itulah cadangan pangan untuk masa selanjutnya dipeersiapkan. Lumbung adalah salah satu produk kearifan lokal dalam menyikapi berbagai kemungkinan. Mulai dari persoalan buruknya musim ataupula untuk menyikapi persoalan lainnya yang bersifat darurat. Lumbung sudah menjadi tempat menabung cadangan pangan masyarakat agraris pada umumnya. Ini salah satu bukti bahwa masyarakat tani memiliki bentuk kearifannya sendiri.

Menyikapi berbagai fenomena alam sebetulnya petani sudah terbiasa. Ketika padi tak lagi bisa menjadi sumber pangan sehari-hari, petani sudah terbiasa membuat olahan ketela dan ubi. Sebagai sumber panganan pokok, bahkan bisa dikatakan jauh sebelum padi menjadi sumber makanan pokok, masyarakat agraris di Nusantara sudah menjadikan tanaman polo pendem sebagai sumber makanan sehari-hari.

Jadi, sebetulnya mendengar anjuran pemimpin daerahnya, mungkin rasanya seperti mengajari bebek berenang. Namun, sekali lagi karena nilai-nilai kearifan yang dimiliki petani itulah yang membuat petani senantiasa rendah hati, menyelaraskan hidup dengan apa yang alam sediakan. Semangat selalu buat kaum tani Indonesia.

Baca Juga:  Diperlukan Teladan dan Saling Mengingatkan Antar Sesama
Jibal Windiaz

anak kampung sebelah