Deddy Corbuzier

Soal Rokok dan Anak, Deddy Corbuzier Keliru

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Saya teringat kembali pada satu twit yang pernah ditulis oleh seorang Zen Rahmat Sugito (Zen RS), “Anak-anak tidak tahu batas. Orang-orang dewasa tidak tahu diri.” Sebuah kutipan yang sangat dahsyat menurut saya. Anak-anak memang hidup dalam dunia imajiner yang mereka bangun sendiri. Akan tetapi orang tua hidup dalam dunia nyata yang terkadang bukan dari sesuatu keinginan yang mereka bangun. Ada batas antara kehidupan anak-anak dan orang dewasa. Seringkali batas itu dilewati oleh anak-anak dan orang dewasa.

Rokok bukanlah barang yang hadir dalam dunia anak-anak. Ia bahkan tak muncul dalam imaji yang diciptakan dalam keriangan permainan mereka selama sehari-hari. Rokok adalah barang dan anugerah untuk orang dewasa. Jelas di sini ada perbedaan antara anak-anak dan dewasa. Anak-anak tak boleh merokok, orang dewasa pun tak boleh memberikan rokok kepada anak-anak. Batasan yang harus dimengerti dan bahkan diatur dalam undang-undang.

Ketika kemudian anak-anak merokok dan melewati batasan tersebut maka orang dewasa pun jangan sampai melewati batasan itu pula. Seperti apa yang kemudian dilakukan oleh Deddy Corbuzier pada anaknya. Ia memberikan beer dan rokok sebagai bentuk pendidikan kepada anaknya bahwa suatu saat agar bisa memilih untuk tidak mengkonsumsi dua barang tersebut. Saya apresiasi apa yang dilakukan dedi sebagai bentuk pendidikan dan kewajiban orang tua terhadap anak. Tapi tentu saya harus mengkritik caranya.

Baca Juga:  Pentingnya Keberadaan Pabrik Rokok Lokal Bagi Masyarakat Sekitar

Beer dan rokok adalah produk untuk orang dewasa. Apa yang anak-anak tahu tentang dua hal itu adalah tentang keingintahuan tentang rasa dan mungkin bentuk dari beer dan rokok. Tapi memberi mereka untuk mencobanya adalah hal yang bagi saya adalah melanggar batas. Sesuai apa yang diucapkan oleh Deddy Corbuzier bahwa dengan diberi beer dan rokok maka anaknya akan trauma dengan dua hal itu dan dikemudian hari tidak akan mencobanya. Sungguh Deddy? Mengajarkan trauma pada anak-anak?

Anak-anak memang tak tahu batas. Karena ketidaktahuan itu maka tugas orang tua untuk memberi tahu tentang batasannya. Tapi orang dewasa juga jangan sampai tidak tahu diri dengan memberikan trauma tentang realitas dunia orang dewasa kepada anak-anak.

Sungguh akan ajaib jika kemudian kita menerapkannya pada pendidikan seksual sejak dini misalnya. Anak-anak diberikan seksualitas tanpa mereka tahu fungsinya apa lalu kemudian timbul trauma dan menghantui masa depannya kelak. Bisa jadi anak tersebut ketika tumbuh besar akan trauma menghadapi momen seksualitas, bahkan dalam tingkatan yang legal.

Baca Juga:  Kretek, Produk Budaya yang Menjadi Penghidupan Masyarakat Nusantara

Manusia mengalami perkembangan psikososial yang berkaitan dengan emosi, motivasi dan perkembangan pribadi manusia serta perubahan dalam bagaimana individu berhubungan dengan orang lain. Psikososial jelas berkaitan dengan realitas sosial, di mana beer dan rokok juga bagian di dalamnya. Sigmen Freud melalui pendekatan psiko analisisnya kemudian mencoba membagi fase psikososial tersebut dalam beberapa fase umur.

Penganut faham psikonalisis meyakini bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan kepada anak amat bergantung pada proses belajar yang dialami anak. Dalam mengajarkan sesuatu kepada anak salah satunya adalah memperhatikan perkembangan kognitif (cognitive development), yakni perkembangan fungsi intelektual atau proses perkembangan kemampuan/kecerdasan otak. Di sini kemudian saya bertanya apakah dengan memberikan beer dan rokok agar anak-anak trauma dan tak mengkonsumsinya di waktu yang akan datang adalah cara yang tepat sesuai aspek kognitif tadi? Silahkan jawab sendiri.

Biarkanlah anak-anak bermain dalam imajinasinya sendiri yang tidak dicampuraduk oleh kepentingan orang dewasa. Seperti yang saya katakana di awal bahwa beer dan rokok bagi anak-anak dalah hanya sebatas keingintahuan saja. Ajarkan secara tepat tentang dua produk tersebut. Mencecokinya? Sama saja dengan memaksanya untuk merasakan apa yang orang dewasa rasakan bukan? Mereka belum punya nalar yang jauh untuk itu. Ini hanya ego kita sebagai orang dewasa.

Baca Juga:  Mengembalikan Khitah Perokok Santun

Apa yang saya tulis adalah kritikan terhadap pola asuh anak. Asumsi saya bisa pula dibantah oleh orang lain, termasuk Deddy Corbuzier sendiri. Sekali lagi ini bukan untuk mengkritik Deddy Corbuzier as a person. Bagaimana pun ada banyak pendapatnya yang saya sepakati dan jadikan pegangan.

Sebagai penutup saya akhiri dengan pernyataan seorang Ali Bin Abi Tholib yang mengatakan: “Undzur mâ Qôla walâ Tandzur man Qôla” yang berarti perhatikan apa yang dikatakan, jangan memperhatikan siapa yang mengatakan.

Indi Hikami

TInggal di pinggiran Jakarta