Simplifikasi Cukai rokok

Cukai Naik Saat Pandemi Sama Dengan Bunuh Diri 

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tulus Abadi meminta pemerintah untuk sekali lagi menaikkan tarif cukai rokok saat ini. Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) ini menilai pandemi corona menjadi momen yang tepat bagi pemerintah untuk melakukan kebijakan tersebut. Sungguh sebuah pernyataan yang dahsyat. Pernyataan yang tak lagi mampu kita pikirkan dengan akal sehat. Atau jangan-jangan Tulus Abadi juga tak lagi menggunakan akal sehat dalam menyampaikan pernyataannya itu.

Ekonomi Indonesia kini tengah lesu! Kira-kira begitulah yang tertulis pada berbagai judul di media massa. Bank Indonesia (BI) menyebutkan bahwa kegiatan dunia usaha menurun pada kuartal I-2020. BI menyebut dari nilai saldo bersih tertimbang (SBT) pada kuartal I-2020 -5,56% turun signifikan dibandingkan periode kuartal IV-2019. Baru kuartal satu saja sudah menurun. Bagaimana dengan kuartal-kuartal berikutnya. Pandemi Corona tentu jadi penyebabnya, tapi di sisi lain, negara juga butuh dana dari perputaran ekonomi untuk menghadapi situasi seperti ini.

Rantai pasokan (supply chain) perusahaan yang bergerak di sektor produksi rokok akan terganggu karena penerapan PSBB di berbagai wilayah. Penutupan yang terjadi di mana-mana akan membatasi distribusi rokok di berbagai daerah. Sekuritas juga memprediksi akan sulit bagi seluruh industri rokok dan tembakau untuk mendongkrak penjualan karena perlambatan ekonomi mulai terjadi.

Baca Juga:  Menkeu Andalkan DBHCHT untuk Penanggulangan Virus Corona

Belum hilang dalam ingatan kita bahwa kenaikan tarif cukai rokok secara progresif di 2020 ini saja sudah menjadi pukulan yang telak bagi industri rokok. Dampaknya sudah mulai terasa. Terjadi penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Belum lagi dengan pendapatan UMKM yang menurun mengingat selama ini mereka juga banyak terbantu dari hasil penjualan rokok.

Apa yang kemudian disampaikan oleh Tulus Abadi memang sejatinya menunjukkan akal pikirannya sebagai seseorang antirokok yang kaffah. Tidak lagi memandang kondisi secara jernih, asal pukul saja. Entah apa yang merasukinya hingga tak punya cukup nalar memandang banyak industri yang melemah di masa pandemi seperti ini. Sudah sampaikah berita di telinga dia tentang dana cukai rokok yang digunakan untuk membantu pemerintah dalam upaya mengatasi pandemi? Saya rasa sudah tapi kupingnya penuh dengan kotoran-kotoran akibat bisikan dari sesama antirokok.

Di saat pandemi seperti ini ekonomi tetap harus bergerak. Saya memang bukan ahli ekonomi tapi saya percaya bahwa daya konsumsi menjadi salah satu penggeraknya. Jika daya konsumsi masyarakat bisa tetap terjaga saja maka ini sudah jadi kabar baik bagi Indonesia. Negara butuh uang dari mana lagi untuk mengatasi ini kecuali dari pajak. Jika cukai rokok tetap dipaksakan naik, bisakah anda membayangkannya? Tentu bayangan kita akan sama, sama-sama dipenuhi dengan bayangan buruk. Tidakkah Tulus Abadi memahami itu?

Baca Juga:  Raisa Himbau Perokok untuk Lebih Peduli Lingkungan

Apa yang disampaikan Tulus Abadi tentang kenaikan cukai rokok di tengah pandemi adalah sama saja ajakan untuk bunuh diri. Ajakan bunuh diri ini tak perlu dihiraukan apalagi menggunakan dalil kesehatan. Kalau memang tak sehat kenapa tidak meminta pemerintah bubarkan saja pabrik rokok di tengah pandemi ini? Mengapa harus meminta pemerintah untuk menaikan cukai? Silahkan jawab pertanyaan ini, yang mulia Tulus Abadi!

Indi Hikami

TInggal di pinggiran Jakarta