Kak Seto, Jangan Ajari Anak-Anak dengan Gaya Boomer!

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Seto Mulyadi, atau yang biasa dipanggil Kak Seto menyarankan kepada para orang tua di masa pandemi ini untuk tetap produktif memberi pendidikan kepada anak-anak. Salah satunya adalah dengan mengenalkan bahaya rokok pada mereka.

Menurutnya, cara paling tepat dalam mengenalkan bahaya rokok pada mereka adalah melalui nyanyian atau lagu. Sebuah cara yang yang menurut saya memang terlihat kreatif namun justru malah dengan ide-ide yang sangat usang alias boomer banget.

Jadi begini, mengenalkan rokok pada anak-anak sebenarnya sah-sah saja. Karena bagaimanapun mereka belum cukup umurnya untuk mengkonsumsi rokok. Akan tetapi melalui pendekatan membuat lagu bagi mereka justru adalah cara-cara yang usang.

Pasalnya, mereka yang lahir di era sekarang yang juga disebut generasi Z dan Alfa justru memiliki kecerdasan yang tinggi. Kemampuan intelegensi mereka tinggi dan itu yang seharusnya perlu diasah oleh para boomer.

Pola-pola mengajari anak-anak dengan metode lagu seperti yang Kak Seto paparkan justru membuat mereka terjebak dengan cara pendidikan yang usang. Saya sebagai generasi yang lahir di era 1990-an menyadari betul bahwa bagaimana orang tua mengenalkan sesuatu melalui lagu tidak sepenuhnya berhasil. Salah satunya adalah nina bobo di mana lagu tersebut mengajarkan ketakutan. Kalau tidak bobo digigit nyamuk.

Baca Juga:  Menghikmati Anugerah Tembakau Melalui Festival Tungguk Tembakau

Belum lagi lagu-lagu anak-anak yang diciptakan pemerintah. Lagu-lagu tersebut memiliki pesan terselubung yang disematkan oleh pemerintah, entah motifnya apa. Tentu paradigma ini adalah dengan cara berpikir orang dewasa.

Akan tetapi jika lagu-lagu tersebut terus menerus diberikan pada mereka maka tentu bakal mempengaruhi pola pikirnya kelak. Parahnya lagi, Kak Seto juga bahkan membuat lagu bahaya rokok dengan menyematkan lirik lagu seperti ini: Ayo, teman jangan merokok, Rokok itu juga narkoba’.

Dalih Kak Seto adalah rokok seperti narkoba karena dinilainya bersifat adiktif. Nah ini yang kemudian perlu mendapatkan kritik yang keras. Kok bisa para boomer mengajarkan suatu kebohongan dengan dalih menggunakan cara yang kreatif.

Rokok sangat jauh berbeda dengan narkoba. Rokok bersifat legal dan penjualannya diatur dalam undang-undang. Sedangkan narkotika perederannya dilarang oleh negara. Narkotika haram digunakan oleh seluruh golongan umur sedangkan rokok hanya tidak boleh digunakan oleh mereka di bawah 18 tahun. Rokok tidak memiliki kandungan yang berbahaya sedangkan narkoba adalah sebaliknya. Sampai di sini paham, Kak Seto?

Baca Juga:  Harga Rokok Naik, Sudahkah Pemerintah Memenuhi Hak Perokok?

Analogi-analogi seperti lirik lagu di atas yang menyamakan rokok dengan narkoba justru akan menyesatkan. Apalagi generasi Z dan Alfa yang memiliki potensi intelegensi tinggi. Potensi kecerdasan itu tak akan terasah jika mereka tak mendapatkan porsi pendidikan yang tepat sesuai dengan kebutuhan mereka. Memberikan lagu dengan bau propaganda ala-ala pendidikan era boomer dulu justru malah melemahkan mereka.

Atau jangan-jangan lagu tersebut mampu dikritisi oleh generasi Z dan Alfa melalui pertanyaan-pertanyaan polos nan menohok khas anak-anak kecil. Jika ini tentang rokok, maka cukup memberi contoh yang baik dalam mengedukasi mereka.

Contohnya adalah dengan tidak merokok langsung di depan mereka, tidak menyuruh mereka membeli rokok di warung. Dengan cara seperti itu justru akan membangun daya intelegensi bagi mereka, mengapa tidak boleh dan sebagainya. Bukan dengan bikin lagu yang berbau propaganda. Haaahh, dasar Boomer!

Indi Hikami

TInggal di pinggiran Jakarta