Komnas PT

Komnas PT Harusnya Berbuat yang Lebih Penting

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Adalah anti rokok, kelompok yang selama pandemi COVID-19 di Indonesia kerap melakukan aksi yang unfaedah alias tidak perlu. Beberapa waktu lalu, Tulus Abadi, ketua YLKI mendorong pemerintah menaikkan tarif cukai rokok (lagi), padahal tarif cukai rokok baru saja mengalami kenaikan terbesar sepanjang sejarah. Tak mau kalah, Komnas Pengendalian Tembakau (Komnas PT) ikut-ikutan aksi.

Bedanya, Komnas PT langsung menyurati Presiden Joko Widodo. Surat tersebut mereka layangkan dalam rangka mendukung pemerintah untuk menanggulangi wabah COVID-19. Anehnya, mereka mendukung dengan menuntut. Iya, menuntut. Dukungan pada pemerintah hanya semata nampak luarnya saja. Sejatinya mereka menuntut pemerintah, dengan beragam otoritasnya, agar mengeluarkan larangan merokok bagi masyarakat Indonesia.

Surat yang dibacakan langsung dalam konferensi video tersebut ditandatangani oleh organisasi berlabel kesehatan di bawah naungan Komnas PT. Di antaranya ada Yayasan jantung Indonesia (YJI), Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), YLKI, dan lainnya. Total ada 17 organisasi anggota Komnas PT di bawah pimpinan Hasbullah Thabrany. Ya, isu rokok memang makanan tetap organisasi kesehatan di mana pun.

Dalam pernyataannya, Hasbullah Thabrany menyebut bahwa rokok membawa faktor risiko yang mempermudah komplikasi terjadi. Selain itu, rokok juga dinilai membuat masyarakat biasa jadi semakin rentan terinfeksi virus corona. Dan, yang selalu mereka sampaikan di berbagai kesempatan, rokok juga menyebabkan kemiskinan.

Thabrani menyebut bahwa dalam situasi penuh kekacauan, akan ada pihak-pihak yang memanfaatkan kesempatan untuk kepentingan pribadi. Narasi tendensius ini dialamatkan pada kelompok pro tembakau. Sulit memahami logika ini.

Kampanye semacam ini sudah rutin mereka lakukan, jauh sebelum pagebluk corona mendunia. Jadi, tidak berlebihan jika kita mencurigai justru mereka yang memanfaatkan momentum situasi krisis kesehatan hari ini. Variabel COVID-19 terkesan dipaksakan masuk dalam narasi mereka. Kalau besok dunia dilanda wabah cantengan, rasanya mereka tetap akan melakukan kampanye yang sama.

Padahal, beberapa penelitian internasional yang belakangan mencuat menunjukkan klaim sebaliknya. Melalui riset New England Journal of Medicine, diketahui bahwa persentase perokok yang terinfeksi virus di Wuhan, China justru lebih kecil daripada mereka yang bukan perokok.

Penelitian lainnya oleh tim dokter Prancis di Paris lebih ekstrim lagi. Dalam dokumen laporannya, tertulis bahwa mereka yang merokok setiap hari jauh lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami infeksi bergejala akibat SARS-CoV-2 dibandingkan dengan populasi umum. “We rarely see this in medicine.”

Jadi, ini bukan klaim dari perokok. Ini data penelitian ilmiah yang dilakukan oleh stakeholder kesehatan. Lagi pula, masih ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh 17 organisasi kesehatan yang tergabung dalam Komnas PT. Dalam situasi hari ini, tindakan nyata dari orang-orang seperti mereka jelas lebih dibutuhkan dibanding pernyataan-pernyataan kontraproduktif. Bisa dengan galang dana, layanan pengecekan kesehatan gratis, atau bahkan melakukan pengabdian dengan turun ke desa-desa.

Oh, sudah dilakukan semua? Kerja yang bagus, sekarang kembali diam. Sebagaimana yang Bli Jerinx katakan, publik butuh ketenangan, bukan narasi-narasi ketakutan. Itu unfaedah.

Tabik.

Baca Juga:  Djarum dan Pentingnya Kretek Bagi Kudus
Aris Perdana

Manusia yang dikutuk untuk bebas | @arisperd