berhenti merokok

Menyoal Berhenti Merokok Massal Akibat Corona

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Sebuah penelitian di Inggris menyebutkan bahwa ada 300.000 orang yang memutuskan untuk berhenti merokok karena takut terpapar virus corona. Temuan ini konon katanya diperkuat oleh data dari Yougov yang bekerja sama dengan Action on Smoking Health yang menyebutkan orang-orang berhenti merokok agar bisa hidup lebih sehat. Benarkah 300.000 orang tersebut memilih untuk berhenti merokok karena Corona atau jangan-jangan dipengaruhi oleh faktor lain?

Angka tersebut saya dapatkan dari berita yang dirilis oleh okezone.com pada 6 Mei 2020 dengan judul “Takut Covid-19, Banyak Orang Pensiun Merokok.” Berita ini tak mencantumkan link dan data pasti tentang temuan 300.000 orang berhenti merokok. Satu-satunya media yang dijadikan rujukan adalah media asal Inggris, The Sun. Tertulis satu kalimat di berita okezone.com tersebut seperti ini:

Penelitian menemukan bahwa dua persen perokok telah berhasil berhenti sejak awal pandemi. Delapan persen sedang mencoba untuk berhenti, sementara 36 persen mengatakan mereka telah mengurangi.”

Berita-berita tentang kaitan antara rokok dan corona ini sudah sering kita temukan sejak awal tahun. Berita ini masif dirilis oleh berbagai media massa tanpa mempertimbangkan asas keberimbangan berita di dalamnya. Bahkan kalau kita bisa kritik, berbagai berita tersebut nyaris tanpa data  dan hasil riset yang valid dan hanya mengandalkan pernyataan tokoh kesehatan belaka.

Baca Juga:  Tembakau Mulai Tidak Terserap Meski Tarif Cukai Belum Naik

Ketika berbagai berita negatif yang mengaitkan rokok sebagai penyebab terpapar corona ini masif digencarkan maka sudah barang pasti masyarakat akan mengkonsumsi berita tersebut setiap harinya. Jika menggunakan teori propaganda yang dikumandangkan oleh petinggi Nazi saat itu, Joseph Goebbels, maka masyarakat pastinya akan menerima mentah-mentah kabar itu akibat berita yang masif disebar ke khalayak umum. Kabar bohong yang terus menerus dibuat maka berpotensi akan dibenarkan oleh masyarakat.

Ini kemudian bagaimana media itu mampu menjadi satu instrumen dalam menghegomi pemikiran masyarakat. Efeknya adalah masyarakat akan percaya betul bahwa rokok menjadi biang kerok seseorang untuk terkena virus corona. Maka seperti pertanyaan saya di awal, benarkah 300.000 orang tersebut berhenti merokok karena corona atau justru dipengaruhi faktor lainnya?

Saya melihat bahwa masyarakat memilih untuk berhenti merokok dikarenakan efek pemberitaan yang berulang-ulang kali dibaca. Efek pemberitaan tersebut memberikan satu guncangan psikologi berupa ketakutan mereka untuk kembali menghisap rokok. Padahal, jika mereka memperkaya literasi tentu tidak akan muncul kekhawatiran tentang merokok. Di sini kemudian masalahnya muncul, keberimbangan berita antara corona dan rokok ini tidak sering muncul di media besar atau mainstream. Akibatnya terjadi distorsi luar biasa dalam arus informasi di masyarakat tentang rokok dan corona.

Baca Juga:  Keberadaan Ruang Merokok di Gedung Pemerintahan itu Penting dan Perlu

Distorsi informasi itu kian menjadi-jadi di era konvergensi seperti saat ini. Nyaris jika kita tidak mampu jernih betul dalam melihat pemberitaan, maka seringnya kita terjebak dalam informasi yang hanya satu sisi. Begitu juga dengan pemberitaan terkait rokok, padahal temuan dan hasil riset baru dikeluarkan bahwa perokok justru minim menjadi korban corona.

Jadi sebenarnya kita bisa mempertanyakan hasil riset yang menunjukkan ada 300.000 orang yang berhenti merokok karena corona. Berita tersebut tidak mencantumkan riset terkait apalagi metodenya. Jikalau ada penelitiannya pun seharusnya dibuat lebih mendalam karena efek media bisa jadi memegang peranan besar bagi keputusan seseorang untuk berhenti merokok.

Indi Hikami

TInggal di pinggiran Jakarta