Perokok

Perokok Juga Harus Beradaptasi Dengan New Normal

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Sesuai arahan Bapak Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, masyarakat diimbau untuk berdamai dengan virus coronaberdamai dengan virus corona saat kondisi pandemi seperti ini. Saya melihat bahwa kemungkinan besar kelonggaran kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) akan perlahan-lahan diterapkan. Dengan demikian bahwa kondisi new normal adalah sebuah keniscayaan dan sudah di depan mata. Sebagai seorang perokok, apa yang perlu kita siapkan dalam kondisi tersebut?

Berbagai pernyataan dari para pakar menyebutkan bahwa corona tak akan pernah hilang dari muka bumi, seperti virus-virus lainnya. Akan tetapi penanganan dan pencegahannnya yang akan tetap terus digencarkan. Sembari perjuangan untuk menemukan vaksin sebagai penyembuhan virus corona terus digarap, pemerintah di berbagai negara mulai melonggarkan aturan-aturannya.

Patut kita sadari betul bahwa kondisi setelah pandemi ini atau yang kini populer disebut new normal akan segera berlangsung. Menurut pandangan saya, kondisi tersebut akan melahirkan tradisi-tradisi dan aturan-aturan baru akibat dari apa yang terjadi di masa pandemi. Semuanya akan berubah, begitu juga dengan keseharian kita para penikmat rokok.

Baca Juga:  Menangkap Potensi Pasar Rokok Ilegal dan Kemungkinan Lain

Tetap menjaga kesehatan dan kebersihan diri adalah satu hal yang mutlak perlu kita jaga. Di masa pandemi kita sudah sangat terbiasa untuk membersihkan tangan, dan bagian tubuh lainnya. Begitu juga dengan sudah terbiasanya kita untuk membersihkan lingkungan. Sebagai perokok, tradisi ini yang perlu kita garis bawahi. Karena menjaga lingkungan juga kewajiban kita semua.

Satu hal yang menarik bahwa dalam kehidupan new normal, kita sebagai perokok tak perlu lagi malu untuk menunjukkan identitas diri. Pasalnya, kita terbukti mampu bertahan di tengah serangan virus. Penelitian yang menyebutkan bahwa persentase para perokok yang terpapar corona cenderung sedikit, meski bukan berarti tak ada. Bahkan muncul sebuah dugaan sementara bahwa nikotin kemungkinan memberikan perlindungan bagi diri kita dari serangan virus.

Seharusnya dari data penelitian tersebut tak ada alasan lagi untuk kita berhenti merokok di masa new normal. Walau pun merokok atau berhenti sebenarnya adalah pilihan masing-masing. Akan tetapi, setidaknya pandemi memberikan satu hikmah bawa rokok sebenarnya tidak membahayakan asal kita mampu menjaga kebersihan dan kesehatan.

Baca Juga:  Dan para petani tembakau itu memeluk Cak Nun

Dengan demikian bahwa dalam masa new normal, kita sebagai perokok juga harus tertib mentaati beberapa peraturan. Walau tingkat kepedean kita semakin tinggi seusai kondisi ini bukan berarti kita bisa arogan untuk merokok di sembarang tempat. Saat ini mari kita memulai untuk tertib dan tidak merokok di tempat yang dilarang dan juga dekat dengan anak-anak serta ibu hamil.

Selanjutnya yang menjadi penting adalah kita juga harus memahami bahwa merokok joinan berpotensi untuk penyebaran virus corona atau lainnya. Baiknya saat badai corona usai, kita mulai berhenti untuk menghisap satu rokok bersama. Bukan berarti solidaritas sesama penghisap rokok malah berkurang, justru banyak hal-hal solidaritas lainnya yang lebih subtantif yang bisa kita lakukan.

Jaga kesehatan dan kebersihan, taati peraturan yang ada, mulai berhenti joinan satu rokok bersama. Jika tidak dimulai dari sekarang maka kapan lagi?

Indi Hikami

TInggal di pinggiran Jakarta