pabrik rokok

Pabrik Rokok Harus Bertanggung Jawab atas Kasus Epicentrum Covid-19

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Semakin hari semakin banyak saja pabrik rokok yang menjadi epicentrum penyebaran covid-19. Dimulai dari pabrik rokok Sampoerna di Surabaya, hingga terakhir PT Tanjung Odi di Sumenep. Lalu, bagaimana sebenarnya nasib para pekerja di pabrik rokok itu?

Pada kasus terakhir, di PT Tanjung Odi, dikabarkan lebih dari 160 pekerja yang reaktif covid-19 setelah menjalani tes rapid. Tes rapid ini sendiri dilakukan setelah beberapa pekerjanya terkonfirmasi positif corona. Setelahnya, sesuai protokol, pabrik pun ditutup setidaknya selama 14 hari dan pekerja diisolasi secara mandiri di rumah masing-masing.

Pabrik rokok yang menjadi mitra produksi dari perusahaan rokok besar Gudang Garam ini memang tengah menjadi sorotan. Pasalnya ini adalah kasus terbesar pabrik rokok menjadi epicentrum baru penyebaran covid-19. Dan tentu saja, dalam hal ini, perusahaan dituntut bertanggungjawab atas persoalan tersebut.

Mungkin memang pabrikan seperti PT Tanjung Odi bukanlah pabrikan besar yang dikenal. Namun, perlu diingat, ini adalah pabrik mitra yang memproduksi rokok untuk Gudang Garam. Dan nama terakhir, adalah salah satu perusahaan rokok besar di Indonesia.

Baca Juga:  Memahami Ruang Merokok

Meski tidak secara langsung terkait, harusnya perusahaan pengguna mitra seperti Gudang Garam dan Sampoerna perlu membuat protokol ketat apabila tetap ingin menjalankan produksi di masa pandemi. Jangan sampai, aktivitas produksi justru menjadi wadah epicentrum baru penyebaran virus corona, seperti yang terjadi di Sumenep ini.

Jangan kemudian, karena menggunakan outsourcing berbasis mitra produksi, pabrikan besar tidak mau bertanggungjawab atas persoalan ini. Karena perkara ini tidak hanya menjadi masalah buat mereka, tetapi juga pabrikan rokok secara umum. Mengingat persoalan ini bakal menjadi catatan buruk untuk industri rokok di Indonesia, dan membuat publik makin diskriminatif terhadap rokok.

Memang sih PT Tanjung Odi kemudian tetap memperhatikan nasib pekerjanya. Misalnya, dengan tetap membayar penuh upah para pekerja walau tengah dirumahkan untuk isolasi mandiri. Namun, tetap saja, persoalan kesehatan dan keselamatan pekerja harus menjadi prioritas di masa pandemi seperti sekarang. Tentu nyawa pekerja itu adalah yang utama.

Okelah keberlangsungan hidup pekerja harus tetap dijaga lewat berjalannya produksi. Toh pabrikan tak harus menghentikan produksi karena pandemi. Kan tinggal menjalankan protokol kesehatan yang berlaku dengan pengawasan yang ketat. Jangan malah acuh dan tidak peduli seperti tak ada apa-apa.

Baca Juga:  Tembakau dan Neokolonialisme Gaya FCTC

Sebagai contoh, di Kudus, PT Djarum telah memberlakukan protokol kesehatan yang berlaku dan mengawasi hal tersebut dengan ketat. Bahkan, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menjadikan Djarum sebagai salah satu perusahaan percontohan yang menjalankan protokol kesehatan dengan baik.

Setidaknya, ini menjadi bukti bahwa berlangsungnya produksi tidak selalu membuat perusahaan menjadi epicentrum penyebaran covid-19. Selama protokol kesehatan dijalankan dengan ketat, juga diawasi dengan benar, produksi bisa tetap berjalan tanpa harus takut perkara pandemi ini.

Aditia Purnomo

Bukan apa-apa, bukan siapa-siapa | biasa disapa di @dipantara_adit