Perempuan merokok di arab saudi

Perempuan Merokok Sudah Pasti Nakal?

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Kini sudah banyak perempuan menjadi perokok. Mereka banyak terlihat di berbagai tempat. Kita bisa menemukan perempuan merokok di kafe, di taman, atau area publik mana pun.

Fenomena perempuan merokok tentu bukan hal baru. Sebenarnya sudah dari lama ada. Namun, fenomena ini tetap menimbulkan pertanyaan di benak banyak orang. Apa alasan para perempuan tersebut mengisap rokok? Apa tujuannya? Stigma negatif pun banyak disematkan pada perempuan-perempuan ini. Stigma ini muncul mendahului kehendak untuk mencari tahu.

Beberapa orang menuduh perempuan menjadikan sebats sebagai ajang keren-kerenan. Ada pula yang melabel bahwa perempuan-perempuan tersebut nakal, binal, dan segudang label negatif lain. Keji memang. Tapi, itu faktanya; cara pandang sebagian masyarakat kita memang masih diskriminatif.

Padahal, tidak pernah ada sejarah atau literatur yang menyebutkan bahwa merokok adalah aktifitas khusus laki-laki. Maksudnya, tidak ada kriteria gender bagi perokok. Laki-laki dan perempuan sama-sama boleh mengonsumsi rokok, asal sudah berusia di atas 18 tahun dan sadar akan faktor risiko.

Baca Juga:  Kampanye Tolak Pacar Perokok adalah Hal Konyol yang Meledek Kewarasan

Stigma negatif pada perempuan merokok selama ini lahir dan lestari akibat kampanye busuk antirokok. Kelompok inilah yang membangun narasi buruk soal rokok. Mulai dari isu kesehatan ‘rokok biang keladi segala macam penyakit’, isu ekonomi ‘rokok biang keladi kemiskinan’, hingga yang berkaitan dengan gender seperti stigma negatif bahwa perempuan merokok pasti nakal, adalah hasil karya kampanye antirokok.

Bagaimana bisa perokok perempuan dianggap nakal sedang perokok laki-laki masih mungkin baik? Pola pikir macam apa yang sebenarnya mewabah di masyarakat kita?

Rokok kerap dijadikan indikator baik buruk seseorang, terutama perempuan. Balik lagi, ini hasil dari kampenye busuk antirokok. Sialnya, cara pandang biadab ini juga kerap dipakai oleh laki-laki yang merokok. Harus kita akui, sebagian perokok juga belum mampu adil sejak dalam pikiran. Perokok laki-laki juga terkadang memandang miring perempuan yang merokok. Tak jarang pula pandangan miring ini termanifestasikan dalam perbuatan.

Untuk para laki-laki yang begitu, kalian bisa cari pacar yang tidak merokok. Siapa pun berhak menentukan kriteria pasangan tanpa intervensi pihak luar. Tapi, bersikap diskriminatif adalah persoalan lain. Untuk yang terakhir itu tak bisa dibenarkan.

Baca Juga:  Mencurigai Antirokok di Balik Hoax Gajah Merokok

Dari beberapa narasi soal perokok perempuan, ada satu yang menggelitik. Aktifitas merokok yang dilakukan perempuan sering dianggap sebagai pelarian dari problem domestik seperti masalah keluarga dan masalah mental. Hebat sekali manusia-manusia ini, bisa mendikte kehidupan manusia lainnya.

Kaum hawa yang merokok tak jauh dari dugaan broken home, putus cinta, depresi dan citra buruk sejenisnya. Padahal, ada banyak perempuan yang memilih jadi perokok ya karena memang suka saja. Mereka ingin, dan mereka lakukan, sekalipun dalam suasana hati riang. Sudah, itu saja.

Lagipula, rokok memang punya khasiat relaksasi. Pusing dan penat kehidupan lumayan berkurang dengan merokok. Gak cuma buat perempuan, laki-laki juga banyak yang mengobati stres dengan merokok. Kenapa? Karena memang ampuh. Gak percaya? Coba saja.

Aris Perdana

Manusia yang dikutuk untuk bebas | @arisperd