Perokok

Perokok, Artis, dan Kampanye Antirokok

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Polo Srimulat, komedian senior, dikabarkan masuk ruang ICU di Rumah Sakit Awal Bros, Kalimalang, pekan lalu. Penyakit paru-paru lama yang pernah diderita dikabarkan kambuh dan menyerang pelawak yang merupakan perokok ini.

Polo memang punya riwayat penyakit paru-paru. Pada tahun 2015 ia pernah menjalani pengobatan intensif selama enam bulan hingga dinyatakan sembuh. Lima tahun berselang, penyakit itu kambuh.

Tak ayal, banyak media yang mengabarkan. Maklum, begitulah kehidupan publik figur, erat dengan pemberitaan. Sialnya, dari sekian kabar soal Polo Srimulat, kebanyakan berita mengaitkannya dengan rokok. Iya, rokok.

Portal berita detikcom, misalnya, membuat judul “Sakit Paru-paru Polo Srimulat Kambuh karena Rokok”. Padahal, setelah membaca isi beritanya, kita tak mendapatkan konfirmasi secara medis, benarkah rokok yang jadi penyebab kambuhnya penyakit Polo. Yang bisa kita temui hanya pernyataan bernada dugaan dari adik beliau, Putut Wahyu, yang mengaitkan status Polo sebagai perokok.

Rekan sesama komedian di Srimulat, Doyok, menyebut justru pola hidup Polo selama ini dinilainya baik. Doyok yang juga perokok merasa bahwa aktivitas merokok Polo tak sekuat dan seintens dirinya. Bahkan Polo juga dilihatnya rajin minum obat.

Baca Juga:  Saya Merokok, Saya Menabung, Saya Bisa Beli barang Mahal

“Nggak juga, kadang-kadang saja merokok, malah saya yang merokoknya kuat. Saya bulu tangkis merokok,” ungkap Doyok.

Lantas, kenapa media berani memberi kesimpulan di judulnya, bahwa Polo kambuh karena rokok? Ya, karena trafik rokok di internet memang deras. Apalagi dikaitkan dengan penyakit dan publik figur, tentu menjadi ‘sesuatu‘ bagi industri media.

Hal serupa pernah terjadi ketika istri Om Indro Warkop meninggal dunia. Sosok almarhumah dimanfaatkan sebagian kelompok tak bertanggungjawab sebagai alat kampanye antirokok. Kala itu sempat beredar meme dan poster yang mengaitkan istrinya dengan perokok pasif, lantas diprotes oleh Om Indro sendiri.

Sebelumnya, kematian almarhum komedian Gogon juga sempat jadi bahan pemberitaan yang mengusung frame kampanye anti rokok. Framing pemberitaan di beberapa media mengaitkan kematian Gogon dengan aktivitas merokoknya meski tak pernah terbukti apa benar rokok yang ‘membunuh’ Gogon.

Framing yang dimaksud adalah memanfaatkan kabar duka cita tersebut untuk memancing klik dari pembaca. Setelah dibaca, ternyata isinya kental dengan nuansa kampanye-kampanye antirokok itu tadi.

Baca Juga:  Perda KTR Solo yang Sesat Sejak Dalam Pikiran

Sepintas tidak ada yang salah dari berita macam ini. Mereka pun bisa saja berkelit bahwa tujuan mereka hanya membuat awareness pada publik agar lebih berhati-hati pada penyakit yang senantiasa mengintai. Terlihat mulia, bukan?

Pertanyaannya: apa alasan menyusupkan frasa “rokok” atau “merokok” dalam judul maupun isi berita duka? Ya, jelas. Pembaca diharapkan takut untuk merokok karena diposisikan berhadap-hadapan dengan risiko penyakit bahkan, pada titik tertentu, risiko kematian.

Semua orang bisa sakit. Semua orang pasti mati, siapapun mereka, perokok atau bukan. Kita bisa menemukan banyak orang berumur panjang meski tak pernah menghentikan aktivitas merokok, dan vice versa, ada banyak orang yang tidak merokok tapi bermasalah dengan paru-paru.

Semoga kita semua selalu sehat.

Aris Perdana

Manusia yang dikutuk untuk bebas | @arisperd