Kesalahan perokok
Opini

Maurizio Sarri dan Kesalahan Perokok

Di tengah-tengah masyarakat yang diskriminatif pada perokok, segala potensi dan prestasi seolah tak terlihat hanya karena seseorang merokok. Sebaliknya, satu kegagalan saja sudah lebih dari cukup untuk menghakimi kesalahan perokok.

Maurizio Sarri jadi salah satu contoh betapa perokok kerap dipandang miring. Berhasil membawa Juventus meraih trofi Liga Italia Serie-A kesembilan, tak serta merta membuat namanya harum. Kegagalan Juventus melangkah ke perempat final Champions League berujung pada pemecatan Sarri.

Sebentar. Kalau mau melihat secara objektif, nampak wajar saja jika tim sekelas Juventus punya ekspektasi tinggi pada Sarri. Trofi Serie-A sudah seperti pencapaian minimum Juventus. Champions League adalah salah satu target utama Juventus di bawah asuhan Sarri. Sayang, langkah mereka dihentikan oleh Olympique Lyon.

Pemecatan Maurozio Sarri menimbulkan banyak spekulasi. Mulai dari ketidaksukaan beberapa pemain pada strategi dan taktik, hingga isu soal ketidaksukaan pemain pada kebiasaan merokok sang pelatih. Isu yang terakhir disebut sungguh sangat disayangkan.

Menjadi perokok bukan berarti tak bisa berprestasi. Toh, Sarri membuktikan masih bisa meraih trofi Liga Italia. Setahun sebelumnya, Sarri juga berhasil membawa Chelsea menjuarai Europa League. Sungguh bukan sebuah prestasi remeh. Sialnya, beberapa pihak menganggap salah satu kesalahan Sarri adalah menjadi perokok.

Baca Juga:  Bagaimana Sebaiknya Kampanye Kesehatan Tentang Rokok Dilakukan?

Sebuah kabar berhembus, beberapa pemain Juventus tak suka kebiasaan merokok Sarri. Konon, pemain sayap asal Brazil, Douglas Costa, pernah berteriak di ruang ganti karena merasa terganggu pada aroma asap rokok. Dan Sarri adalah satu-satunya perokok dalam skuad. Maka telunjuk banyak orang mengarah padanya.

Pemain senior yang juga kapten tim, Giorgio Chiellini pun dikabarkan tidak suka dengan kebiasaan merokok pelatihnya. Bahkan dia dikabarkan tidak suka dengan aroma mulut Sarri. Konon, Chiellini akan segera membilas diri usai berbicara langsung dengan Sarri. Situasi tersebut diduga jadi pemicu tidak harmonisnya ruang ganti Juventus.

Apa yang dialami Maurizio Sarri–terlepas dari benar atau tidaknya kabar tersebut–adalah bentuk ketidakadilan publik pada perokok. Betapa tidak, kegagalan meraih gelar seharusnya cukup dikaitkan dengan persoalan strategi dan taktik, tapi oleh media justru dibingkai seolah karena aktivitas merokoknya.

Maurizio Sarri, bersama banyak olahragawan yang juga perokok, perlu dipandang sebagai seorang profesional. Keberhasilan seorang olahragawan selayaknya dinilai dari proses dan aktivitas olahraga juga profesinya. Pun demikian sebaliknya. Kegagalan juga harus dinilai secara objektif dan profesional, jangan serta-merta dilabel sebagai kesalahan perokok.

Baca Juga:  3 Alasan Kenapa Saya Membutuhkan Rokok

Ketidakmampuan Sarri untuk menahan hasrat merokok juga tak bisa dibenarkan. Kalau memang dia mau merokok, sebaiknya tidak dilakukan dalam ruangan, meski Italia tidak melarang aktivitas merokok dalam stadion. Tapi itu pun tak bisa dijadikan tolak ukur keberhasilan seorang pelatih.

Satu lagi kesalahan perokok yang kerap diabaikan adalah kecenderungan perokok untuk pasrah pada stigma negatif yang mengalir deras. Bagi saya, perokok harus bisa bangkit melawan berbagai stigma negatif dengan berani bersuara.

Selain itu, perokok juga harus terus mengukir prestasi di berbagai bidang. Dengan demikian, pandangan miring pada perokok bisa perlahan tegak dan lurus.

Keep your head up, Sarri!

Penulis di Komunitas Kretek

You might also like