Efek Merokok Bagi Jiwa dan Raga

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Efek merokok itu beraneka ragam. Dan hampir semuanya adalah keburukan. Tak cukup berlembar kertas folio untuk mencatat daftar penyakit mengerikan yang mengintai akibat dari aktifitas merokok. Pokoknya ngeri. Jauhi rokok.

Seperti itulah rokok dicitrakan. Media dan internet jadi ujung tombak propaganda semacam ini, dibawah komando kelompok antirokok. Kelompok ini paling sering membicarakan rokok–terkadang lebih sering dari perokok sendiri. Bisa jadi itu bentuk dedikasi mereka pada anggaran agenda pengendalian rokok.

Kita tentu sudah hafal nama-nama penyakit yang kerap diasosiasikan dengan rokok dan perokok. Sebut saja kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin; adalah beberapa di antaranya. Iya, perokok sudah hafal betul isi peringatan di bungkus rokok.

Tapi, apa betul penyakit-penyakit tersebut muncul sebagai efek dari merokok?

Begini. Rokok memang produk yang punya faktor risiko. Oleh karenanya, konsumennya dibatasi oleh standar usia. Hanya manusia dewasa yang diperkenankan untuk mengonsumsi rokok. Berapa batasan usia manusia dewasa? Regulasi di negara kita menentukan 18 tahun jadi usia minimum seorang perokok. Jadi, perokok adalah orang-orang yang sudah paham akan risiko.

Baca Juga:  Putusan MA, Pajak Rokok Bukan Untuk Kampanye Anti Rokok

Nah, kenyataan seringkali menyajikan fakta yang berbanding terbalik dengan kebanyakan klaim dari antirokok. Sebagai contoh, ada banyak orang yang bukan perokok tapi mengidap penyakit yang digadang-gadang sebagai efek merokok. Dengan demikian, jelas sudah bahwa semua orang berpotensi sakit, perokok atau bukan.

Tapi mereka pasti terpapar asap rokok orang lain. Mereka perokok pasif. Perokok pasif justru lebih berbahaya.

Argumentasi tersebut sudah pasti keluar pertama kali jika ada fenomena seperti di atas. Antirokok akan selalu menemukan bualan jalan untuk mendiskreditkan rokok. Padahal, kampanye perokok pasif sudah lama terbantahkan.

Fakta lain yang disuguhkan oleh kenyataan adalah banyaknya perokok yang hidup bugar hingga usia sepuh. Ada banyak perokok yang masih hidup di usia 70-80 tahunan. Bahkan, lebih menakjubkan lagi, ada yang hidup sampai ratusan tahun. Ini fakta. Kita bisa temukan contoh-contohnya di sini.

Perlu digarisbawahi, saya tidak mengklaim bahwa merokok bisa bikin panjang umur. Saya hanya mengabarkan bahwa ada lho perokok yang panjang umur. Vice versa, yang gak merokok juga banyak kok.

Baca Juga:  Tak Bisa Berkurban dan Haji Karena Merokok Itu Cuma Pikiran Orang Tak Mampu

Dua fakta ini setidaknya cukup untuk dijadikan dasar gugatan pada klaim-klaim antirokok. Maksudnya, kampanye antirokok itu bukanlah firman, bukan kebenaran yang absolut. Ia masih punya ruang kesalahan. Maka sah-sah saja jika ada orang yang tidak mau langsung percaya. Setidaknya begitu menurut saya.

Seperti yang sudah saya sampaikan, rokok adalah produk yang punya faktor risiko. Efek merokok tentu ada. Sebagai perokok saya mau bersaksi, aktifitas merokok juga berefek pada jiwa dan raga saya. Saya merasa lebih rileks tiap habis nyebats. Kalian bagaimana?

Aris Perdana

Manusia yang dikutuk untuk bebas | @arisperd