Bungkus Rokok Mau Dibuat Lebih Seram?

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Beberapa kelompok tengah gencar mendorong agar Pictorial Health Warning (PHW) atau peringatan kesehatan bergambar pada bungkus rokok diperbesar menjadi 90 persen. Kelompok yang dimaksud ya jelas antirokok.

Berbagai lembaga antirokok yang mengatasnamakan kesehatan, berkali-kali mengadakan riset tentang prevalensi perokok di Indonesia. Hasilnya, prevalensi perokok di Indonesia tak kunjung menurun bahkan cenderung meningkat. Demikianlah temuan yang mereka dapatkan.

Sebagai tindak lanjut, solusi yang mereka pilih adalah mendorong pemerintah untuk mengesahkan PHW 90 persen tadi. Implikasi yang diharapkan terjadi adalah perokok malas, jijik, atau pula ketakutan untuk merokok. Kemudian menimbulkan perubahan sikap untuk berhenti dan meninggalkan rokok.

Adalah Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), salah satu lembaga berlabel kesehatan yang menjadi agen antirokok di Indonesia. Mereka juga sedang giat bicara soal PHW 90 persen. Terbaru, mereka mengadakan konferensi pers bertajuk Peningkatan Besaran Peringatan Kesehatan Bergambar pada Bungkus Rokok di Era Pandemi Covid-19, pekan lalu.

“Peringatan Kesehatan Bergambar pada bungkus rokok merupakan sarana edukasi yang murah dan sangat efektif mengomunikasikan mengenai bahaya rokok kepada masyarakat,” ujar Ketua Tobacco Control Support Center IAKMI, Sumarjati Arjoso SKM.

Baca Juga:  Keikutsertaan Kepala Daerah Antirokok dalam Pembentukan Perda KTR

Pertanyaannya, edukasi apa yang kita dapatkan dari sebuah gambar mulut bernanah? Segala dikaitkan dengan pandemi COVID-19 pula.

Harusnya jujur saja, orientasi gambar penyakit di bungkus rokok jelas untuk menakut-nakuti, bukan untuk edukasi. Toh, pernah ada masa di mana bungkus rokok tidak dikotori gambar-gambar penyakit. Ketika itu hanya ada peringatan tertulis (baru kemudian ditambah gambar). Dan mereka bilang prevalensi perokok tetap naik. Sudah jelas gagal, kenapa malah mau memperbesar ukurannya?

Bungkus rokok di Indonesia saat ini ditempeli PHW berukuran 40 persen dari ukuran bungkus. Wacana soal bagaimana seharusnya tampilan bungkus rokok tidak pernah jelas. Di roadmap Menkes soal pengendalian tembakau ada rencana kemasan rokok polos atau plain packaging.

Lembaga kesehatan lain justru mewacanakan agar jangan polos, melainkan dipenuhi dengan PHW. Tujuannya ya supaya semakin seram lagi. Macam-macam wacana yang hasilnya pun tak memberi dampak penurunan prevalensi perokok.

Lagi pula, perokok itu manusia dewasa berusia di atas 18 tahun. Bukan lagi anak-anak. Ya masa pendekatannya dengan ditakut-takuti. Ra mashok.

Tapi, kalau pun rencana soal PHW terus berlanjut, sebaiknya lakukan dengan jujur dan berintegritas. Gak perlu pakai drama dan kontroversi seperti kasus Dadang dari Kuningan. Katanya mau mengedukasi, bukan?

Baca Juga:  Menguji Konsep Thirdhand Smoker Ala Anti Rokok
Aris Perdana

Manusia yang dikutuk untuk bebas | @arisperd