Limbah rokok

Limbah Rokok Memiliki Nilai Ajaib Bagi Insan Kreatif

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Limbah rokok tak selamanya menjadi momok lingkungan, apalagi di tangan orang kreatif. Unsur-unsur yang terdapat pada produk konsumsi legal itu tentu dapat disulap menjadi hal-hal berguna. Selagi kita punya peduli untuk menjadikannya bermanfaat lagi, maka jadilah.

Dalam konteks kreativitas ini saya menyebutnya sebagai daur guna. Di beberapa negara maju, puntung rokok dapat dimanfaatkan menjadi barang-barang berguna. Di Jogja ada seniman yang memanfaatkan abu rokok sebagai pengganti cat untuk melukis.

Limbah rokok tak cuma puntung, ada beberapa unsur produk ini yang dapat diolah, bungkusnya bisa dijadikan asbak, abu rokoknya bisa digunakan untuk melukis ataupula menyumbat luka. Kertasnya bahkan oleh seorang Edi Purwanto, perajin asal Kudus, Jawa Tengah, dapat dimanfaatkan menjadi boneka.

Karyanya ini disebut sebagai boneka lilit. Dari elemen limbah ini, Edi mengaku mendapatkan penghasilan dan permintaan tinggi dari konsumennya. Ini satu hal yang patut disyukuri. Bukan Cuma soal nilai tambah yang didapat, namun pula mampu membuat perajin ini dikenal oleh banyak wisatawan.

Baca Juga:  Di Tengah Masyarakat, Perokok Maupun Vapers Harus Sama-sama Menjaga Etiket

Kita sebagai perokok mungkin tak terpikir untuk membuat kreasi boneka seperti yang dilakukannya. Ia mengembangkan gagasan kreatifnya bermula dari hal sederhana, yakni untuk tali tas souvenir. Kemudian berkembang membuat boneka dengan memanfaatkan kertas filter yang diubahnya menjadi tali.

Produknya cukup diminati oleh sejumlah wisatawan, awalanya dia memfokusukan penjualan produknya dijual di area wisata Borobudur. Selanjutnya, kreasi Edi semakin dikenal dan meluas bahkan sampai ke manca negara.

Di tangan insan kreatif, jangankan limbah rokok, limbah kemasan produk konsumsi apa pun dapat didaur guna menjadi sesuatu yang baru. Maka dari sisi ini benar saja apa yang dikatakan oleh mendiang WS Rendra, bahwa daya adaptasi dan daya kreasilah sejatinya yang bangsa ini miliki.

Sebagaimana kita tilik kemunculan produk kretek. Produk kreasi Haji Djamhari ini kemudian mendapatkan tempat yang cukup prestisius sebagai penyumbang devisa negara. Industri kretek terus berkembang walaupun harus melewati berbagai dinamika sejarah.

Tidaklah keliru jika produk Edi Purwanto di masa datang akan sampai pada derajat industri yang lebih membanggakan. Artinya, boleh jadi di masa datang boneka lilit buatannya dirujuk menjadi ikon kreativitas yang berbasis semangat daur guna.

Baca Juga:  Rokok, Covid-19, dan Betapa Menyebalkannya Media

Saya percaya masih banyak insan kreatif lainnya yang mampu sejajar dengan perajin asal Kudus tersebut. Tak dipungkiri memang, manusia Indonesia memiliki kemampuan luar biasa yang mampu bersaing terkait kreativitasnya.

Selanjutnya, berpulang kepada kita yang sehari-hari mendapati banyak bekas produk konsumsi yang kerap dianggap momok. Apakah mau memanfaatkannya atau tidak, berpulang kepada minat dan visi hidup masing-masing.

Alangkah baiknya, jika kita belum sampai pada keinginan berkreasi, jagalah spirit perokok santun dengan tetap menjaga kebersihan lingkungan dari limbah produk yang kita konsumsi.

Jibal Windiaz

anak kampung sebelah