Manfaat Rokok, Mencairkan ‘Mulut Asem’ Demonstran

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Sebagian kalangan mungkin sulit bersetuju jika kita bicara manfaat rokok bagi masyarakat. Apalagi jika isi kepala telah dikuasai narasi-narasi kesehatan yang menjelekkan rokok. Rokok dicap sumber segala penyakit. Lebih jauh disebut sebagai ancaman bagi masa depan bangsa.

Masyarakat umumnya tahu bahwa bangsa ini memang tidak sedang baik-baik saja, maka konyol belaka jika semua hal yang berkaitan dengan masa depan ditentukan oleh rokok. Fatal betul logika yang terperangkap kebuntuan itu. Meski faktanya, manfaat rokok dalam mencairkan suasana terbukti di berbagai kesempatan.

Sebagaimana publik ketahui omnibus law sebagai sebuah paket kebijakan demikian sarat dengan kepentingan politik. Masa depan dunia kerja di Indonesia, pula kelangsungan hajat hidup masyarakat diatur tanpa mufakat para pihak. Terbukti dengan disahkannya UU Cipta Kerja.

Hanya segelintir elit kekuasaan saja sepertinya yang berhak menentukan nasib dan masa depan rakyat Indonesia. Padahal, sejatinya negara dan birokrasinya ada untuk mewujudkan amanat cita-cita bersama. Bukan cita-cita sepihak.

Baca Juga:  Ruang Merokok Bandara Husein Sastranegara Tak Ramah Perokok

Tak perlu kaget, jika kemudian banyak elemen masyarakat turun ke jalan melakukan protes. Aksi massa meletus di berbagai tempat. Jakarta dan Yogyakarta adalah dua kota yang menjadi sorotan media terkait gelombang protes masyarakat terhadap proses disahkannya UU Cipta Kerja.

Di luar itu, ada peristiwa unik dari kepingan aksi massa tersebut, peristiwa yang bikin kita kadang senyam-senyum sendiri. Terekam melalui video yang diunggah di twitter, terdengar permintaan seorang pendemo yang meminta rokok ke barisan polisi yang tengah siaga menghadang mereka.

Lucunya di sini, di tengah situasi yang tidak kondisif itu permintaan pendemo direspon sungguhan oleh aparat. Para pendemo bersuka ria mendapatkan rokok pemberian aparat, mendadak suasana menjadi cair. Wajah tegang berubah lentur, mulut asem pun terbebaskan.

Pada kepingan peristiwa ini kita dapat menarik kesimpulan, bahwa dalam kondisi tegang sekalipun, masyarakat punya cara dalam mencairkan suasana. Bahkan menjalin keakraban antar entitas melalui rokok.

Kepingan peristiwa unik ini mungkin tergolong biasa bagi kita perokok. Sebagai makhluk sosial kita kerap mudah akrab dipertautkan oleh kesukaan yang sama. Bahkan lebih dalam dari itu ketika instrumen rasa senasib yang mempertautkan.

Baca Juga:  Kabupaten Kotawaringin Timur Belum Siap Terapkan Perda KTR

Jika ditilik ke dalam kepingan peristiwa aksi tersebut, di situ mengisyaratkan adanya rasa senasib sebagai sesama pelakon di jalanan, meski antar entitas (aparat-demonstran) tersekat oleh dikotomi antagonisme dan protagonisme yang dibangun oleh para penyelenggara ‘tontonan’.

Bahkan kalau kita tarik lagi ke sejarah lama, presiden Soekarno pun menjadikan rokok sebagai alat diplomasi politik. Ataupula yang dilakukan Haji Agus Salim waktu menyindir bangsawan Inggris melalui asap kreteknya.

Iya, rokok dipandang dari berbagai dimensi (poleksosbud) mencuatkan berbagai hikmah pembelajaran. Bahwa hidup dan masadepan kita bukanlah ditentukan oleh rokok ataupula para regulator yang bermain dalam omnibus law. Masadepan bangsa ini sepenuhnya berdaulat di atas cita-cita bersama. Itu yang harus kita bela.

Jibal Windiaz

anak kampung sebelah