Anak Perokok Berpotensi Membawa Cacat Fisik?

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tak pernah berhenti sebagian masyarakat mengait-ngaitkan anak perokok dalam upaya mendiskreditkan rokok. Misalnya, mengaitkan cacat bawaan lahir dengan kebiasaan merokok orangtuanya. Padahal tak sedikit kasus yang menyatakan fakta sebaliknya.

Saya tidak ingin memperlebar polarisasi orang tua perokok ataupun bukan, namun hendaknya logika kita sebagai orang tua perlu kritis terhadap informasi yang mengarahkan kita untuk berhenti menalar faktor lainnya.

Kita sepakat, bahwa rokok memiliki faktor risiko. Itu makanya dalam tulisan terdahulu, tidak dianjurkan kepada ibu hamil untuk merokok. Berpuasalah dari rokok. Pun terhadap suami perokok untuk tetap berlaku santun dalam merokok.

Namun, dalam berbagai kesempatan termasuk di dalam informasi media, persoalan yang berkaitan dengan ketidaksempurnaan fisik anak, sumbing misalnya, lantas saja rokok yang dijadikan penyebab utamanya. Sependek pengalaman saya, perilaku orang tua saat kehamilan memang harus benar-benar dijaga. Bukan melulu soal rokok.

Soal pola makan dan gaya hidup di antaranya. Di beberapa daerah, masih ada kepercayaan tradisional yang menyebutkan bahwa perilaku yang berkaitan dengan menzalimi binatang menjadi pantang dilakukan saat kehamilan. Walaupun itu untuk kebutuhan konsumsi, semua harus dilakukan dengan wajar.

Baca Juga:  FCTC dan Penggiringan Opini yang Meresahkan

Artinya, dibutuhkan kehati-hatian yang ekstra dalam konteks menjaga kehamilan agar semua berjalan lancar dan selamat. Termasuk untuk tidak mendekati suatu hal yang mengakibatkan depresi. Mana ada sih, orangtua yang menginginkan anaknya lahir dengan membawa kekurangan fisik.

Hampir tidak ada penjelasan ilmiah yang menyoroti secara khusus terkait kebiasaan orang tua merokok membuat anak menjadi sumbing. Beberapa faktor lain yang perlu menjadi perhatian utama tentunya soal genetik serta asupan gizi. Ini tidak bisa diabaikan sebagai penentu di antara faktor lainnya.

Contohnya saya, ibu saya perokok, sementara bapak tidak. Ibu saya mendapatkan pendampingan yang ekstra semasa mengandung saya, berdasar cerita mendiang nenek. Pendampingan ekstra ini iya dari suami, iya dari nenek juga. Itulah kenapa untuk pasangan pekerja yang sedang hamil berhak mendapatkan hak cuti.

Alhamdulillah, saya terlahir tanpa kekurangan fisik. Semoga ini tidak dianggap takabur ya, lur. Sebab biar bagaimanapun, ada kehendak yang lebih menentukan atas kesempurnaan kita. Maka, bagi saya informasi yang framing anak perokok berpotensi membawa cacat fisik, itu hanya bualan belaka.

Baca Juga:  Bu Susi, Merokok adalah Hak Anda

Terakhir, sebagai orang tua, kita tidak boleh serta merta menjadi abai terhadap hal-hal yang memang berpotensi berimbas ke anak kita. Sederhananya, ya soal perilaku hidup, taruhlah kita bukan perokok, tapi punya kebiasaan lain menyangkut kesenangan pribadi. Iya sebaiknya jangan juga dicontohi ke anak.

Pula perokok ketika ada anak-anak, sejak jauh hari kita tekankan untuk tidak merokok di dekat anak. Seyogyanya merokoklah di tempat yang jauh dari jangkauan anak. Bukan apa-apa, anak-anak ini termasuk golongan rentan, seperti juga ibu hamil. Sebagai orang yang memiliki kesadaran santun, iya kita harus mengutamakan kepedulian kita pada mereka.

Itulah esensi santun dalam etos perokok santun. Tabik.

Jibal Windiaz

anak kampung sebelah