Elias Alderete dan Fenomena Pesepakbola Merokok

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Pesepakbola merokok bukanlah hal yang baru. Ada banyak nama besar di dunia sepak bola yang merupakan seorang perokok. Mulai dari Radja Nainggolan, Mesut Özil, hingga Gianluigi Buffon, adalah sederet nama pesepakbola beken yang diketahui mengonsumsi rokok.

Nama-nama itu tidak sembarangan. Mereka adalah atlet dengan segudang pengalaman dan prestasi. Melalui mereka pula perokok bisa membuktikan kalau tudingan antirokok keliru. Perokok juga bisa berprestasi.

Tak hanya pemain, pelatih sepak bola kenamaan pun ada yang merokok. Sebut saja Carlo Ancelotti, Marcello Lippi, Jürgen Klopp, dan Maurizio Sarri, adalah pelatih top yang sempat diketahui merokok. Mereka pun berprestasi di timnya masing-masing.

Belakangan, dunia sepakbola Indonesia dihebohkan oleh pemberitaan Elias Alderete, mantan pemain Arema FC yang menyebut liga sepak bola di Indonesia tidak profesional. Tudingan tersebut dilontarkan lantaran Alderete melihat ada rekan setimnya ketika di Arema yang merokok dan mengonsumsi kentang goreng.

“Sangat berbeda dengan Argentina. Liganya tidak terlalu profesional. Saya melihat teman satu tim makan kentang goreng (french fries), dan beberapa diantaranya merokok. Di sisi lain, saya harus akui sepak bola di sana cepat, dan pemain berlari dengan cara luar biasa,” ujar Alderete, dikutip dari media Argentina, Clarin.

Begini. Pada satu titik, kita bisa sepakat bahwa liga sepak bola di Indonesia dikelola dengan kurang profesional. Warga negara Indonesia sendiri banyak yang mengkritik pengelolaan sepak bola dalam negeri. Tapi, kalau tudingan tersebut lahir hanya karena ada pemain yang merokok, ya rasanya berlebihan sekali.

Baca Juga:  Menghargai Rokok dalam Dunia Pergerakan

Kita tidak mungkin menyebut Premiere League tidak profesional karena Mesut Özil yang merupakan pemain Arsenal ternyata perokok. Atau mengomentari profesionalisme di La Liga dan Serie-A Italia karena ada banyak pemain di sana yang juga merokok.

Yang lebih miris, Elias Alderete menyampaikan komentarnya itu di media Argentina, tempat Ia berkarir saat ini. Rasanya kritik akan lebih objektif apabila disuarakan ke media di Indonesia, atau langsung ke manajemen klub Arema. Sayang, tidak begitu yang terjadi.

Sementara asisten pelatih Arema, Kuncoro menanggapi santai pernyataan Alderete. Ia memaklumi, mungkin Alderete terbiasa berada di lingkungan dengan kultur yang berbeda, meski menganggap pesepakbola merokok bukanlah hal baru.

Elias Alderete sendiri sebenarnya berstatus pemain Arema FC hingga Maret 2021. Namun, karena kompetisi tak kunjung berjalan imbas pandemi virus corona, Elias Alderete memilih berpisah dan kembali ke klub asalnya yang tampil di kasta kedua sepakbola Argentina, Club Atletco Chacarita Juniors.

Alih-alih mengomentari dari sisi pengelolaan, Alderete malah fokus bicara soal kebiasaan pemain yang merupakan urusan personal.

Baca Juga:  Rokok pada Perhelatan Rambu Solo’ dan Rambu Taka’

Fenomena ini adalah manifestasi cara pikir antirokok pada umumnya. Kelompok antirokok memang cenderung menjadikan rokok sebagai biang dari beragam persoalan, tanpa mau melihat sisi lain. Mulai dari kemiskinan, penyakit, hingga kebakaran gedung, adalah contoh persoalan yang mereka sebut diakibatkan oleh rokok. Cara pikir ini harus diluruskan.

Sumber gambar: goal.com
Aris Perdana

Manusia yang dikutuk untuk bebas | @arisperd