Harga Rokok

Harga Rokok dan Pernyataan Absurd Menteri yang Mangkir

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Naiknya harga rokok dari tahun ke tahun telah menimbulkan banyak persoalan di masyarakat. Tak dipungkiri, kenaikan secara gradual akibat regulasi cukai yang dimainkan pemerintah ini berdampak besar. Tidak hanya bagi masyarakat konsumen, di sektor hulu industri rokok apalagi.

Hasil panen petani tak lagi terserap pabrikan seperti masa-masa sebelumnya. Sementara modal produksi tidak berimbang lantaran tembakau mereka tak terjual semua di pasaran. Tak heran lagi, jika kemudian petani melakukan berbagai luapan protesnya.

Di tengah kondisi pandemi yang tak menentu, kini petani tembakau harus menanggung pula hantaman regulasi yang berimbas pada anjloknya harga tembakau. Tembakau yang tidak terserap pabrikan terpaksa dijual murah di pasaran.

Kondisi tak menentu ini ditambah lagi dengan sikap-sikap pamong negeri ini yang seakan-akan masa bodoh, tak gubris pada penderitaan yang dialami petani tembakau. Sudah begitu, ada menteri yang melontarkan pernyataan absurd tentang rokok yang dikaitkan dengan Narkoba.

Atas dasar logika itu, dia yang berposisi sebagai Menteri Sosial menginginkan harga rokok dibuat semahal mungkin, pula dilarang menjual secara ketengan. Edan! Sudahlah petani mengalami kesulitan, ditambah pernyataan yang bikin resah publik. Kemudian para petani tembakau pun bereaksi.

Baca Juga:  Perokok, Artis, dan Kampanye Antirokok

Reaksi atas pernyataan itu selanjutnya ditempuh petani ketika Mensos tengah melakukan kunjungan ke Temanggung. Di acara tersebut, setelah beberapa perwakilan petani menunggu dengan penuh harap dan sabar, Pak Mensos kok ya mangkir, dengan cara yang terbilang cundang sekali. Mensos pulang tanpa pemberitahuan.

Tentu saja itu bukan hanya cundang, namun juga membuat perwakilan petani tambah tersinggung. Bukan apa-apa, sudah disetujui protokoler untuk bertemu Mensos, lha kok menterinya malah kabur. Para petani lantas menyampaikan kekecewaannya melalui media.

Bahwa sejatinya di balik kesuksesan pejabat tersebut, ada andil dukungan para petani tembakau—yang membuatnya kemudian mendapatkan posisi di pemerintahan. Hal ini yang membuat perwakilan petani tembakau sangat kecewa.

Jelas saja para petani tembakau ini memiliki kepentingan, mereka bergantung hidup dari pertembakauan. Lantas ada pejabat yang dulunya mencari dukungan dari petani kini malah melempar peryataan yang mengancam sumber penghidupan mereka.

Logikanya sederhana saja, kalau harga rokok dibuat tidak masuk akal, maka akan berdampak pada skema produksi rokok yang ditetapkan pabrikan. Langkah pembatasan kuota produksi pastinya bikin susah petani. Di harga yang sekarang saja angka penjualan rokok mengalami penurunan.

Baca Juga:  Rokok Sebagai Sarana Diplomasi di Setiap Zaman

Apalagi jika memang pernyataan absurd Bapak Mensos terbukti, rokok dibuat tambah mahal harganya. Iya itu sama dengan membunuh sumber hajat hidup orang banyak. Artinya, bukan hanya petani yang terdampak, stakeholder lainnya pun.

Di mana coba integritas pejabat macam itu? Diminta pertanggung jawaban kok malah minggat. Bedebah betul sikap elit kekuasaan yang mengingkari soko guru negerinya (baca: petani). Hih!

Jibal Windiaz

anak kampung sebelah