pelarangan-menjual-rokok-kepada-anak

Perokok Anak Bisa Diatasi Tanpa Menaikkan Cukai

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Fenomena perokok anak terus jadi polemik. Kelompok antirokok sangat sering memainkan narasi perokok anak dalam agenda pengendalian tembakau. Karena memang begitulah cara kerja mereka (baca: antirokok); membangun citra buruk pada rokok.

Padahal, peredaran rokok di Indonesia terikat pada regulasi yang sangat ketat. Mulai dari pembatasan usia konsumen, pembatasan ruang bagi perokok, hingga pembatasan iklan, adalah beberapa bukti bahwa rokok dan perokok cenderung disudutkan.

Antirokok, melalui isu kesehatannya, kerap kali mengait-ngaitkan keberadaan iklan rokok dan display rokok di ritel sebagai faktor utama meningkatnya angka perokok pemula. Publik dipaksa percaya akan adanya kebenaran bahwa iklan rokoklah penyebab tunggal atas munculnya beberapa kasus terkait anak di bawah umur yang merokok.

Persoalan perokok anak pada akhirnya ditindaklanjuti dengan wacana menaikkan tarif cukai rokok, yang secara otomatis turut mendongkrak harga jual rokok. Selain harga, solusi lain yang dipilih adalah dengan menutup display rokok dengan tirai. Maksudnya agar anak-anak tidak melihat produk rokok.

Baca Juga:  Kretek dan Blantik Asing

Ada beberapa langkah lain yang sebenarnya lebih bijak untuk diambil. Di antaranya adalah dengan memperketat pengawasan dalam distribusi rokok ke masyarakat. Misal, dengan memberlakukan larangan menjual rokok pada anak.

Langkah bijak tersebut telah dilakukan oleh lebih dari 120 ribu toko klontong yang tergabung dalam SRC. Di toko-tokok mereka terpampang pengumuman sosialisasi Program Pencegahan Akses Pembelian Rokok oleh Anak-anak (PPRA). Pengumuman tersebut berwujud stiker dengan kalimat-kalimat peringatan.

Ini tentu perlu diapresiasi. Perlu juga dicontoh oleh berbagai warung yang menyediakan rokok sebagai salah satu produk dagangannya. Bahwa anak memang bukanlah target pasar rokok, bahwa anak adalah kelompok rentan yang belum layak merokok, tentunya perlu jadi komitmen bersama. Para perokok santun wajib memegang komitmen itu.

Dengan demikian, kampanye antirokok yang senang merawat polemik bisa diredakan pelan-pelan.

Di samping para pedagang harus mencegah penjualan rokok pada anak, ada juga elemen orang tua dan keluarga yang perlu memainkan peran. Edukasi harus dikedepankan. Anak-anak harus diberi tahu kalau mereka boleh merokok, kelak ketika mereka sudah berusia 18 tahun, tidak sekarang.

Baca Juga:  Jika Industri Hasil Tembakau Mati, Apakah Nasib Para Pembenci Rokok Bakal Lebih Baik?

Intinya, tindakan pencegahan harus dijadikan instrumen utama, alih-alih terus menaikkan harga cukai rokok.

Aris Perdana

Manusia yang dikutuk untuk bebas | @arisperd