Rokok Dan Teh Panas Tak Bisa Bersatu

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Rokok dan kopi adalah pasangan emas. Maksudnya, banyak perokok yang menjadikan kopi sebagai pendamping kala menikmati waktu santai. Meski demikian, rokok dan teh juga bisa jadi pilihan. Intinya, aktivitas nyebats semakin nikmat jika ada minuman pendamping.

Sialnya, karena akrab dengan rokok, kopi justru jadi bulan-bulanan antirokok. Ya, setelah sibuk memusuhi rokok, kopi pun dikampanyekan buruk oleh mereka (baca: antirokok). Mereka lantas menyimpulkan bahwa kolaborasi antara rokok dengan kopi adalah komposisi paripurna menuju penyakit jantung paling berbahaya dan bahkan berujung kematian.

Belum puas mengusik hubungan rokok dengan kopi, kini mereka menyasar hubungan yang lain. Rokok dan teh juga ikut dikampanyekan buruk. Kasihan rokok, semua yang berhubungan dengannya akan otomatis dicitrakan buruk. Pengecualian hanya ada pada cukai rokok yang justru selalu dinantikan.

Kembali menyoal rokok dan teh. Sebuah artikel memuat hasil penelitian yang menyebut hobi minum teh panas akan meningkatkan risiko seorang perokok terkena kanker hingga lima kali lipat. Saya ulangi, lima kali lipat.

Baca Juga:  FCTC Dalam Pandangan Jokowi

Penelitian yang dimaksud dilakukan di Peking University Health Science Center, China. Diungkapkan bahwa suhu panas dari teh kemungkinan merusak sel-sel dinding esofagus para perokok, sehingga kanker mudah menyebar. Penelitian tersebut melibatkan 450 ribu orang selama sembilan tahun, dan menghasilkan 1731 orang yang terserang tumor esofagus akibat peningkatan sel kanker.

Kalau kopi dan teh tidak bisa lagi dinikmati, lantas apa yang bisa diminum oleh perokok? Air putih? Itu sudah pasti. Jamu? Ya, bolehlah. Keduanya adalah minuman sehat yang dibutuhkan tubuh.

Tapi masak kita tidak bisa minum selain air putih dan jamu? Apa jangan-jangan air putih dan jamu juga bahaya bagi perokok? Kalau kelak narasi itu muncul, kita tentu tidak akan kaget lagi. Lha, segala yang berkaitan dengan rokok selalu dicitrakan buruk selama ini.

Melihat polanya, antirokok sangat kekanakan. Mereka akan memusuhi semua teman-teman dari musuhnya. Watak ini ya wataknya anak-anak yang belum dewasa. Kita pasti pernah mendengar istilah “teman dari musuhku adalah musuhku juga”. Begitu kira-kira pola pikir antirokok.

Baca Juga:  Pemerintah DKI Jakarta Jangan Latah Membuat Raperda KTR

Antirokok hanya berkutat menuduh rokok menyebabkan penyakit jasmani, di sisi lain para perokok semakin sehat jiwanya. Jiwa sehat inilah yang menjadi rahasia kecerdasan kaum perokok. Faktanya demikian, banyak karya-karya fenomenal lahir dari gagasan seorang perokok.

Kembali ke soal rokok dan teh, saya baru hendak memberi saran agar para perokok minum es teh saja, mengingat yang dituding berbahaya adalah kolaborasi rokok dengan teh panas. Eh, belakangan dijelaskan bahwa risiko tersebut hanya terjadi pada para perokok yang juga pecandu alkohol. Kalau hanya perokok saja, ya tidak termasuk.

Haish, semakin absurd saja kampanye antirokok. Semua dicampuraduk.

Aris Perdana

Manusia yang dikutuk untuk bebas | @arisperd