merokok

Apakah Boleh Merokok di Hari Natal?

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Kalau ada pertanyaan: “Apakah umat kristen boleh merokok di hari Natal?” Jawabannya jelas boleh. Boleh banget.

Sebentar. Saya tidak hendak menjabarkan dalil agama dalam tulisan ini. Tapi, seperti hari lainnya, natal tidak dikecualikan bagi perokok. Maksudnya, yang merokok tetap boleh merokok. Yang tidak merokok, ya jangan merokok. Intinya, semua tetap bersukacita dalam perayaan natal.

Pada momen natal kemarin, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) bersama dengan lembaga antirokok membuat suatu gerakan #Christmas2Quit. Gerakan apa ini?

#Christmas2Quit adalah kampanye yang mengajak masyarakat untuk berhenti merokok dan menciptakan kawasan tanpa rokok di gereja serta lingkungan sekitar. Ya, hari natal diisi dengan kampanye gerakan antirokok.

Pada konteks pembatasan perokok di rumah ibadah, saya sepakat. Bahkan bisa diberlakukan seterusnya, tak hanya natal. Tidak etis saja merokok di dalam rumah ibadah.

Lagi pula, manusia waras mana yang terpikir untuk klepas-klepus ngudud saat orang di sekitarnya tengah khusyuk berdoa? Rasanya tidak ada juga. Jadi, dengan atau tanpa adanya ketentuan Kawasan Tanpa Rokok, hampir tidak mungkin orang merokok di dalam rumah ibadah.

Baca Juga:  Merokok Nggak Apa-Apa, yang Penting Bisa Main Bagus di AS Roma

Nah, menjadikan natal sebagai momentum untuk berhenti merokok juga sah untuk dilakukan. Setiap individu berhak menentukan pilihannya sendiri. Persoalannya, apakah kampanye semacam ini perlu disuarakan oleh otoritas keagamaan yang oleh sebagian umat dianggap sebagai representasi ajaran keimanan?

Ini yang menurut saya perlu diluruskan. Kembali ke hak individu. Kalau menjadi non perokok dibolehkan, ya menjadi perokok pun sama. Toh tidak ada dalil agama yang secara eksplisit mengatur perihal rokok. Demikian pula dengan hukum positif di negara ini. Tidak ada larangan orang merokok. Ada pun aturan hukum ya soal pembatasan ruang seperti yang saya sepakati di awal tadi. Itu pun harus diikuti dengan pemenuhan hak perokok (dalam bentuk ruang merokok) sebagaimana yang dijamin konstitusi.

Tidak ada alasan juga bagi gereja untuk mengurusi ranah privasi umat, dalam hal ini pilihan merokok. Apalagi kabarnya gerakan #Christmas2Quit juga bertujuan mendorong keluarnya surat edaran gereja perihal rokok.

Sekali lagi, ini bukan soal dalil agama. Justru, menurut saya, sebaiknya dalil agama (perkara halal-haram) tidak dilibatkan perihal aktivitas merokok. Tapi yang pasti, pemuka agama juga banyak yang merokok. Kendati merokok, mereka tetap pemuka agama. Dan tidak ada yang salah dengan itu karena merupakan ranah privasi individu.

Baca Juga:  Perempuan Merokok Sudah Pasti Nakal?

Kembali menyoal Natal, tahun ini mungkin berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Umat kristen di seluruh dunia harus melewati hari besarnya dalam suasana pandemi. Semua serba terbatas. Sebagai perokok, salah satu rekreasi yang dimiliki dalam menghadapi penatnya pandemi, ya jelas rokok.

Pemerintah sudah berulang kali mengeluarkan himbauan agar kita tidak memaksakan diri berlibur di libur natal dan tahun baru. Jadi, sebagai rekreasi sederhana, perokok bisa merokok. Ya masa sudah dilarang liburan ke luar masih tidak boleh merokok?

Lagi dan lagi, semua ini terlepas dari perdebatan halal-haram. Setelah semua krisis ini berakhir, kita berharap kehidupan kembali normal. Natal tahun depan bisa dirayakan dengan berlibur, agar kehidupan tiap orang bisa berbahagia, tidak disibukkan dengan kehidupan privasi orang lain.

Selamat natal bagi kretekus yang merayakan.

Aris Perdana

Warganet biasa | @arisperd