rokok elektrik
Opini

Rokok Elektrik, Produk Ngebul yang Memanfaatkan Isu Kesehatan

Dalam urusan merokok, para perokok di hadapkan pada berbagai pilihan produk. Selain beragam jenis rokok konvensional, ada juga rokok elektrik yang kini telah lazim dikonsumsi oleh sebagian perokok. Umumnya produk ini disebut vape.

Hampir sebagian besar pengguna vape adalah konsumen rokok yang terilusi oleh narasi kesehatan. Banyak kalangan menyebut, mengonsumsi vape jauh lebih aman dibanding rokok konvensional. Bagi saya, tak ada produk konsumsi yang tak memiliki faktor risiko.

Di masa pandemi ini, isu kesehatan sangat potensial dimanfaatkan untuk melariskan suatu produk bisnis. Termasuk soal vape. Tentu kita masih ingat, adanya perusahaan rokok asing (BAT) yang mengklaim punya vaksin corona dari tembakau dan sedang dikembangkan. Tentulah itu menjadi kabar baik yang cukup kontroversi.

Sebagaimana kita tahu, tembakau distigma oleh rezim kesehatan sebagai msusuh kesehatan. Namun, jika kita tilik di balik stigma itu, bisnis nikotin juga menjadi lahan dagang korporasi farmasi yang bermain melalui isu kesehatan.

Ada beberapa korporasi farmasi yang membidik nikotin untuk dikembangkan sebagai produk alternatif untuk mengalihkan pilihan perokok. Iya lagi-lagi dalilnya atas nama kesehatan. Lebih detil soal ini bisa ditelesik melalui buku Nicotine War karya Wanda Hamilton.

Beberapa tahun terakhir, perusahaan rokok asing menggunakan jurus serupa dengan mengeluarkan berbagai varian produk. Semisal juul, iqos, dan vape. Dalam bisnis ini mereka memanfaatkan wacana kontroversi terkait nikotin dan tar.

Produk alternatif yang mereka lariskan dicap lebih sehat dari rokok lantaran tidak mengandung tar, namun tetap produk alternatif ini memanfaatkan unsur nikotin. Sejatinya, ini hanyalah permainan klaim pasar saja, menjelekkan rokok karena dibakar dan menghasilkan tar, sementara produk keluaran mereka berbasis nikotin tanpa menghasilkan tar (residu). Itu saja.

Baca Juga:  Tingwe Massal di Harlah NU ke 97

Iya kalau bicara bahaya residu, produk makanan berupa sate juga potensial berbahaya. Namun, stigma dari perang dagang nikotin ini akan tidak relevan kalau sate yang dimusuhi dan diperangi. Pastinya lebih tepat ya rokok. Apalagi pasar perokok di Indonesia sangat menggiurkan untuk direbut.

Maka, tak heran jika jurus dagang rokok eletrik serta produk alternatif lainnya mendiskreditkan rokok dan berupaya merebut pasarnya. Nah, dalam kondisi pandemi yang menimbulkan berbagai persoalan penanganan, upaya memanfaatkan liquid vape sebagai vaksin corona juga dibunyikan.

Dengan membunyikan isu itu, tentu saja akan mendongkrak pamor rokok elektrik. Selain pula akan semakin layak untuk punya nilai lebih dari produk lainnya. Sekali lagi, ini hanyalah akal-akalan dagang saja, dengan memanfaatkan kerisauan publik terkait corona dan kelemahan sikap pemerintah dalam menanganinya.

Iya, hampir sebagian besar korporasi farmasi berlomba-loma mengeruk keuntungan dari bisnis vaksin. Moderna misalnya, berdasar analisis Wall Street, sahamnya meningkat setelah memproduksi vaksin corona. Artinya, bisnis vaksin dalam kondisi pandemi yang tidak menentu ini sangat cuan bagi mereka.

Haiya, kabarnya lagi, pendapatan Pfizer pada 2021 diproyeksi akan jauh melampaui produk terlaris perusahaan dari tahun lalu, yakni vaksin pneumonia yang menghasilkan penjualan US$5,8 miliar. Kalau urusan vaksin coronanya, Pfizer bermitra dengan BioNTech, perusahaan asal Jerman yang mengembangkan vaksin corona sejak lalu.

Baca Juga:  Turis yang Merokok di Jakabaring Tak Sepenuhnya Bersalah

Kenapa saya menyoroti ini, iya lantaran adanya isu tentang vaksin Pfizer berbentuk rokok elektrik. Namun kemudian, setelah isu itu dikonfirmasi, disebutkan itu hoax belaka. Meski, bukan tidak mungkin kalau itu semacam upaya penetrasi pasar untuk memetakan respon publik.

Pada prinsipnya, vaksin adalah sarana untuk pembentukan kekebalan fisik. Bukan penuntas virus corona. Menyoal vaksin covid-19, setidaknya ada 6 jenis yang ditetapkan pemerintah sebagai pilihan. Ada 107 juta penduduk yang ditargetkan untuk vaksinasi menggunakan produk dari Sinovac, COVAX, dan Merah Putih.

Saat ini, pemerintah sedang menunggu izin darurat dari Badan POM untuk pelaksanaan vaksinasi ini. Untuk perkara vaksinasi ini tentu ada berbagai tahapan yang harus klir dilakukan para pihak, terutama pemerintah. Ada beberapa indikator ideal terkait keamanan dari vaksin tersebut.

Iya, sebagai rakyat konsumen, kita tentu menginginkan yang terbaik dari penanganan pandemi. Jangan sampai merepotkan bahkan bikin stres. Sejatinya, masyarakat juga punya cara tersendiri untuk menjaga kekebalan tubuh, dengan mengonsumsi jamu dan berolahraga misalnya. Termasuk pula dengan sebats, sebagai ikhtiar untuk tetap rileks dan tidak stres.

Penulis di Komunitas Kretek