iklan rokok

Melihat Cara Iklan Rokok Bekerja

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Sejauh pengalaman saya sebagai perokok, saya tidak pernah melihat orang tertarik merokok karena iklan rokok. Jika mengacu pada apa yang saya alami, saya merokok karena lingkungan. Melihat banyak teman merokok membuat saya ikut merokok. Tapi mulai merokok karena iklan, saya kira bukan itu cara kerja dunia.

Jika mau melihat bagaimana iklan rokok bekerja, maka target dan sasaran mereka adalah perokok. Mengingat kebanyakan iklan  dibuat untuk memasarkan rokok-rokok baru. Ya ada sih rokok lama populer yang beriklan, tapi sekarang sudah tidak banyak seperti dulu. Dan target dari iklan-iklan rokok baru ini jelas adalah orang yang sudah merokok.

Menawarkan jenis rokok baru terhadap orang yang belum atau tidak merokok jelas adalah perbuatan bodoh. Kalau mau menawarkan rokok pada orang jenis ini, harusnya ya menggunakan brand yang sudah besar dan dikenal walau pun orang tersebut tidak pernah merokok sebelumnya. Karena brand image adalah hal yang penting bagi orang awam, termasuk dalam urusan rokok.

Baca Juga:  Surat Terbuka Seorang Perokok untuk Faisal Basri yang Termasyhur

Jika kemudian rokok yang baru diproduksi dan belum punya brand baik, bagaimana mungkin orang yang tidak merokok mau mengisapnya. Lah mereka tahu produk itu saja tidak, ditawarkan ya tidak bakal tertarik. Beda hal jika kasusnya adalah perokok, sebagai orang yang merokok mereka mungkin saja ingin mencoba hal baru. Dan inilah yang disasar oleh iklan rokok.

Keingintahuan akan produk-produk baru memang menjadi hal yang disasar iklan. Misalnya, iklan Djarum Super Next yang belakangan kerap hadir, itu ya membuat saya ingin mencoba rokok baru keluaran PT Djarum ini. Atau kemudian iklan dari rokok Divo yang saya lihat pada Baliho, itu membuat saya ingin menjajal bagaimana rasa dari rokok tersebut.

Anda boleh tanyakan ke orang-orang yang tidak merokok, apakah hal yang sama bisa terjadi pada mereka? Tentu tidak. Berbeda kasusnya jika iklan yang keluar menampilkan aktivitas merokok. Mungkin saja orang-orang bisa ingin mencobanya karena melihat aktivitas merokok di iklan. Untungnya, hingga hari ini aturan melarang iklan rokok menampilkan aktivitas tersebut.

Baca Juga:  Tembakau Temanggung Tak Semua Terserap, Bupati Bertindak

Boleh jadi, pihak-pihak yang menyatakan jika promosin ikllan produk rokok itu membuat prevalensi perokok anak atau setidaknya keberadaan iklan tersebut membuat anak-anak ingin merokok berkaca pada iklan-iklan produk yang lain. Saya sih sepakat jika iklan Indomie mujarab membuat orang yang melihatnya jadi ingin makan Indomie. Apalagi kalau Indomie goreng, aduh enaknya.

Namun, pada konteks ini, hal ini tidak bisa berlaku karena iklan dari produk ini tidak menampilkan aktivitas merokok. Beda dengan iklan produk lain yang bisa melakukannya. Kalau Cuma menampilkan keindahan alam atau laki-laki naik mobil sih, saya tak bakal tertarik untuk mulai merokok.

Ingat, hampir seluruh kejadian orang di bawah umur merokok itu dimulai karena pergaulan. Melihat banyak teman merokok, Ia jadi ikut merokok. Atau melihat orang di sekelilingnya merokok, Ia jadi ikutan merokok. Dan para perokok pemula itu tidak termakan oleh iklan, tapi oleh aktivitas teman. Jadi, tidak tepat anggapan jika iklan rokok dihapus, anak-anak bakal tidak merokok. Tidak seperti itu, malih.

Baca Juga:  Rumah Bebas Rokok dan Kegilaan Kepala Daerah
Aditia Purnomo

Bukan apa-apa, bukan siapa-siapa | biasa disapa di @dipantara_adit