Rokok Membuat Orang Miskin

Salah Kaprah Tuduhan Rokok Membuat Orang Miskin

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Hampir dalam setiap pembahasan tentang bantuan sosial dari pemerintah selalu membawa-bawa perkara rokok ke dalamnya. Biasanya, pembahasan ini dibuka dengan arahan pemerintah agar tidak menggunakan dana bansos untuk membeli rokok. Hingga kemudian muncul tuduhan jika rokok membuat orang miskin jadi makin miskin.

Ini adalah masalah, khususnya untuk perokok. Anggapan jika rokok membuat orang miskin jelas keliru. Dan tuduhan kemiskinan yang dialamatkan pada rokok adalah sebuah upaya melarikan diri dari pemerintah atas masalah tersebut.

Begini, sulit untuk menyatakan jika kamu miskin karena rokok. Mengingat kemiskinan itu lahir karena banyak faktor. Dan faktor-faktor itu jelas merupakan tanggung jawab negara. Misalkan, kemiskinan jelas lahir dari ketidakmampuan negara menciptakan lapangan kerja. Atau dari kebijakan upah murah yang hingga masih dipelihara negara. Itu hanya dua contoh saja.

Seandainya memang anggapan rokok membuat rokok miskin itu benar-benar nyata, seharusnya jumlah orang miskin mayoritas perokok. Namun, hingga hari ini, masih ada begitu banyak juga orang tidak merokok tapi miskin. Semua ini terjadi karena mereka tidak memiliki pekerjaan atau gaji yang kelewat kecil.

Baca Juga:  Tarif Cukai Belum Naik Saja Harga Rokok Sudah Naik

Dengan begitu, anggapan rokok membuat orang miskin ini harusnya dihilangkan. Karena jelas kemiskinan itu lahir dari keadaan yang tercipta (atau malah dipelihara) oleh negara. Seandainya semua orang bisa mendapatkan pekerjaan dan gaji yang layak, mereka tentu tidak akan miskin-miskin amat.

Selain itu, bagi banyak orang, membeli rokok ini bisa dianggap investasi tersendiri. Karena dengan mengisap rokok, orang-orang justru mendapatkan semangat dan mood baru untuk bekerja dan mencari uang. Hal ini tentu baik untuk penghasilan, karena dengan bekerja lebih bisa mereka bisa mendapatkan hasil yang juga lebih.

Untuk perkara bansos sendiri, perlu diakui jika masih ada orang-orang yang membelanjakan dana bantuan untuk membeli rokok. Karena itu, untuk para perokok, mari berhenti menggunakan dana bantuan untuk membeli rokok. Kalau memang mau merokok, beli sendiri pakai uang hasil bekerja.

Meski begitu, tentu tidak pantas jika semua perkara terkait bansos ini justru membahas pembelian rokok bagi penerima. Padahal, ketimbang membahas itu, masih ada banyak hal lain yang bisa diurus terkait bansos. Misalnya, memastikan dana bansos diberikan tepat sasaran dan tanpa potongan dari pihak-pihak tertentu.

Baca Juga:  Perang Nikotin Di Balik Isu Kesehatan

Digantinya Menteri Sosial Julian Batubara ke Tri Rismaharini dilakukan karena kasus korupsi dana bansos. Namun, ketimbang membahas transparansi dana dan memperbaiki sistem, semua pembahasan terkait bansos mengarah ke persoalan rokok. Ini sungguh aneh dan tidak adil kiranya.

Suka atau tidak, hingga saat ini uang dari perokok masih menjadi salah satu pemasok anggaran terbesar untuk negara. Dan oleh sebab itu, maka upaya menjadikan rokok dan perokok sebagai kambing hitam kemiskinan harusnya tak lagi dilakukan negara. Karena, jika memang rokok memiskinkan, maka yang ikut terlibat dalam pemiskinan itu adalah negara.

Aditia Purnomo

Bukan apa-apa, bukan siapa-siapa | biasa disapa di @dipantara_adit