Harga rokok naik

Harga Rokok Naik, Perokok Sudah Siap?

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Seperti layaknya sebuah ritual musiman, perokok harus secara rutin menghadapi kenaikan rokok di setiap tahunnya. Secara rutin pula sekitar Februari-Maret, harga rokok akan naik mengikuti kebijakan kenaikan tarif cukai yang ditetapkan oleh negara. Dari hal rutin tersebut sebenarnya siapkah perokok menghadapi tren harga yang terus naik?

Sebagai informasi harga rokok mulai mengalami kenaikan yang beragam. Sampoerna A Mild kini naik menjadi 25 hingga 26 ribu rupiah. Gudang Garam Filter naik menjadi 19 hingga 20 ribu rupiah. Juga demikian dengan Djarum Super yang menjadi sekitar 19 hingga 20 ribu rupiah.

Memang perokok di Indonesia menjadi terbiasa dengan kenaikan harga yang secara rutin melonjak di tiap tahunnya. Akan tetapi meski terbiasa namun belum tentu mereka siap menghadapi hal tersebut. Buktinya, dua tahun belakangan fenomena tingwe menjamur dan ramai toko-toko tembakau yang bervariatif. Selain itu muncul pula rokok-rokok dengan level harga low entry yang penjualannya pun perlahan-lahan naik.

Dua fenomena tersebut sebenarnya membuktikan bahwa para perokok sebenarnya tidak siap dengan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok. Akibatnya ketika tarif cukai rokok membumbung tinggi, maka mereka harus mencari solusi, ya salah satunya dengan membeli barang yang lebih terjangkau bagi kantong mereka.

Baca Juga:  Penyederhanaan Golongan Cukai Rokok Hanya Menguntungkan Perusahaan Rokok Putih

Tidak ada orang yang benar-benar siap dengan Covid-19, begitu juga dengan dampak ekonomi yang dihadirkan oleh virus tersebut. Pemasukan jadi kembang kempis dan kondisi makin dipersulit dengan harga rokok yang semakin tinggi.

Hal ini memperparah kondisi ketidaksiapan masyarakat di Indonesia dalam menghadapi dampak Covid-19. Seandainya memiliki pemerintah yang bisa mengeluarkan kebijakan tepat sasaran, setidaknya masyarakat Indonesia tidak dihantui oleh malam-malam panjang penuh kekhawatiran.

Akan tetapi bersyukurlah hidup di Indonesia, di mana masih banyak pabrik rokok berskala kecil yang hidup. Ibarat saling melengkapi, saat inilah rokok dengan harga terjangkau memainkan perannya. Mereka mampu menjadi penolong bagi banyak kantong masyarakat di Indonesia.

Seperti halnya simbiosisme mutualisme dalam ekosistem industri hasil tembakau, pabrik-pabrik rokok berskala kecil yang mulai kebanjiran order ini pula mendapatkan keuntungan yang nantinya mampu menggerakkan roda ekonomi di kawasan sekitar mereka.

Indi Hikami

TInggal di pinggiran Jakarta