3 Gaya Bebas Yang Biasa Dilakukan Perokok

Perokok Pasif, Mitos Yang Terus Direproduksi

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Perokok pasif adalah istilah yang populer di masyarakat. Siapa yang mempopulerkan istilah ini? Apa dan siapa saja yang dimaksud dengan perokok pasif?

Untuk pertanyaan pertama, jawabannya sudah jelas antirokok. Mereka adalah kelompok yang paling rajin mengampanyekan bahaya perokok pasif. Itu terus direproduksi dari waktu ke waktu. Isu perokok pasif ini bagai senjata usang andalan kelompok antirokok. Sudah terbukti ngawur, tapi masih dipakai.

Menurut definisi yang mereka pakai, perokok pasif adalah mereka yang bukan perokok–tidak mengonsumsi produk olahan tembakau–tapi terdampak efek samping dan risiko dari rokok. Biasanya, mereka mengidentikkan anak-anak sebagai kelompok yang jadi ‘korban’.

Beberapa waktu yang lalu, misalnya, seorang dokter asal Turki menyebut bahwa perokok pasif sama bahayanya dengan perokok aktif. Jutaan orang meninggal tanpa mengonsumsi rokok, dan sebagian besar dari mereka adalah anak-anak. Nah, itu dia kata kuncinya: anak-anak.

Kita akan sangat pusing dengan istilah aktif-pasif semacam ini. Seseorang disebut perokok ya karena merokok. Dan, ‘merokok’ adalah kata kerja. Sekali lagi, kata kerja. Seseorang dikatakan merokok hanya jika dia secara aktif mengerjakan sesuatu, dalam hal ini mengonsumsi rokok. Jadi, kalau dia tidak ‘merokok’ (tidak aktif mengonsumsi rokok) bagaimana bisa disebut perokok???

Baca Juga:  Tingwe Sebagai Ekspresi dari Pembangkangan Sipil

Bagaimana, pusing, kan?

Kita tinggalkan dulu soal bahasa. Istilah ini populer setelah adanya penelitian dari Environmental Protection Agency (EPA) atau Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat. Dalam laporannya, mereka mengklaim perkara secondhand smoker merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius, yang membunuh sekitar 3.000 non perokok Amerika setiap tahun akibat kanker paru-paru.

Kemudian riset dari EPA menuai kritik. Salah satunya oleh Congressional Research Service (CRS) USA. Pada November tahun 1995, CRS merilis laporan analisis kritis terhadap metode dan kesimpulan EPA setelah melalui studi selama 20 bulan. Kemudian pada tahun 1998, hakim federal menyatakan riset EPA batal dan tidak berlaku.

Selain itu, pada tahun 2003 British Medical Journal merilis sebuah makalah definitif tentang secondhand smoker dan kematian akibat kanker paru. Dalam makalah ini, dilakukan penelitian yang melibatkan sekitar 35 ribu warga California yang tidak merokok. Hasilnya, tidak ditemukan hubungan statistik yang signifikan antara paparan asap rokok terhadap orang yang tidak merokok dan kematian akibat kanker paru-paru.

Baca Juga:  Regulasi Soal Kretek dan Produk Alternatif Tembakau Tidak Boleh Dibedakan

Kedua penelitian di atas cukup untuk membuktikan bahwa konsep secondhand smoker alias perokok pasif (?) hanyalah akal-akalan anti rokok belaka.

Harus diakui, masih banyak oknum perokok bandel yang, pada titik tertentu, menimbulkan dampak yang mengganggu pihak lain. Hal ini yang perlu diminimalisir dengan partisipasi aktif dari semua perokok dalam mendukung gerakan perokok santun.

Di samping itu, yang perlu menjadi catatan adalah minimnya ketersediaan ruang merokok. Kita tidak bisa menutup mata pada fakta bahwa sebagian orang yang merokok di ruang publik memang karena ketiadaan ruang merokok. Alhasil, banyak orang yang memutuskan untuk membakar rokoknya hanya dengan sekadar memastikan tidak ada larangan tertulis di sekitarnya.

Kalau beberapa catatan itu bisa diperbaiki, niscaya perkara berbagi ruang antar perokok dan non perokok akan lebih mudah disiasati. Kampanye perokok pasif pun perlahan akan gugur dengan sendirinya.

Komunitas Kretek

Komunitas Asyik yang Merayakan Kretek Sebagai Budaya Nusantara