udud dan istilah rokok lainnya
Opini

Matikan Rokok, Sebelum Rokok Mematikan Anda

Sebuah jargon antirokok yang sangat populer berbunyi: “Matikan rokok sebelum rokok mematikan anda.”

Iya, kita bisa menemukan papan peringatan bertuliskan kalimat tersebut di banyak ruang publik. Beberapa ruang publik yang tidak mengizinkan aktivitas merokok sangat akrab dengan papan peringatan semacam ini.

Kalau mau sembarang tafsir, sebenarnya makna dari peringatan tersebut ya ajakan untuk berhenti merokok. Karena memang itu tujuan kampanye antirokok: membuat perokok pensiun. Salah satu cara andalan mereka ya menakut-nakuti perokok dengan ancaman kematian.

Kembali menyoal jargon di awal. Himbauan untuk matikan rokok, pada kondisi tertentu, bisa menjadi sangat relevan. Kondisi yang dimaksud tentu berbeda dengan yang dikampanyekan oleh antirokok.

Nah, ini yang perlu perokok pahami; tidak semua aktivitas bisa dilakukan bebarengan dengan merokok. Sebagai contoh, kita memang sudah sepatutnya untuk matikan rokok apabila sedang berada di dekat anak-anak dan ibu hamil. Kita juga harus menahan hasrat merokok saat tengah berkendara.

Satu lagi yang kadang disepelekan oleh perokok; merokok saat sedang mengisi bensin eceran. Ini bahaya. Kalau mengisi bahan bakar di SPBU kita pasti tidak merokok karena memang dilarang. Tapi beberapa perokok masih santai merokok saat mengisi bensin di pedagang eceran. Aktivitas merokok dan mengisi bensin bukanlah kegiatan yang layak dilakukan bersamaan.

Baca Juga:  Kesantunan Sosial Perokok

Di Aceh, seorang perokok harus dilarikan ke rumah sakit setelah mengalami luka bakar berat. Luka bakar tersebut dideritanya setelah tersambar api akibat merokok saat dekat dengan bahan bakar bensin. Jadi, jangan sekali-kali merokok saat sedang berada dekat dengan bahan bakar. Ngeri.

Dalam kondisi semacam itu, jargon “matikan rokok sebelum rokok mematikan anda” menjadi sangat relevan.

Kalau sedang asyik merokok, sebaiknya jangan mendekati area atau benda yang mudah terbakar. Pun sebaliknya, kalau sedang berada di area atau dekat dengan benda mudah terbakar, ya jangan merokok atau matikan dulu rokoknya.

Perokok harus bisa membuktikan bahwa rokok bukan produk adiktif. Kita bisa kok menahan hasrat merokok. Narasi yang dibangun antirokok bahwa rokok menyebabkan candu dan membuat konsumennya tak bisa mengendalikan hasrat merokok itu salah besar.

Bahwa masih ada perokok yang bandel, itu memang benar. Masih ada perokok yang tidak sadar ruang dan kerap menggangu kenyamanan orang lain. Kita tidak bisa menutup mata pada fenomena itu. Tapi, perokok bandel semacam itu tak bisa dijadikan alasan untuk lantas menyematkan stigma negatif pada perokok secara keseluruhan.

Baca Juga:  Cara Pemkab Kulonprogo Memelihara Kedunguan, Blokade Etalase Rokok Dengan Kampanye Kesehatan

Siapa pun, asal sudah cukup umur (18 tahun), boleh merokok yang penting tahu diri. Merokok di kawasan yang tidak terlarang saja kadang masih dipersoalkan, apalagi merokok di kawasan terlarang.

Aktivitas merokok yang serampangan akan melestarikan stigma negatif pada perokok secara umum. Lebih dari itu, bahkan berpotensi menimbulkan bahaya yang mengancam nyawa. Maka sesama perokok sekalipun harus berani saling menegur. Tabik.

Penulis di Komunitas Kretek