berhenti merokok

Menolak Ajakan Berhenti Merokok untuk Ayah Se-Indonesia

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Mungkin ini adalah ajakan berhenti merokok yang paling yang aneh pernah terjadi di Indonesia. Seorang Menteri, Menko pula, meminta para ayah di Indonesia untuk berhenti merokok demi anaknya. Sekilas memang terdengar tulus, meski kemudian menimbulkan banyak hal tak tepat di dalamnya.

Beberapa waktu lalu, Menteri Kordinator  Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia Muhadjir Effendy mengajakn parah ayah se-Indonesia untuk menghentikan stunting dengan cara berhenti merokok. Setidaknya, begitulah media membuat frame terkait ucapan pak Menteri ini. Mentang-mentang pernah berkomentar miring, lantas dibuat begitu juga dalam ucapannya kali ini.

Sebenarnya, jika mengacu pada ucapannya saat kunjungan ke Nias, Ia menyatakan; “Saya meminta agar ayah dengan anak stunting untuk berhenti merokok dan mengalihkan uang rokok untuk memenuhi kebutuhan gizi anak.” Jika mengacu pada perkataan tersebut, ada salah kaprah yang dilakukan media, atau setidaknya Kompas.com terhadap ucapan Pak menko.

Pada konteks ucapannya, saya jelas setuju dengan statement Pak Menko. Anak stunting perlu dapat asupan gizi yang lebih. Karena itu, para orang tua yang anaknya mengalami stunting, saya kira lebih baik mengalihkan uangnya untuk gizi sang anak. Meski memang, hal itu tidak akan banyak membantu karena pada dasarnya kasus stunting bukan disebabkan aktivitas merokok sang ayah.

Baca Juga:  Sesat Pikir KPAI Terkait Tuduhan Eksploitasi Pada PB Djarum

Perlu diingat jika selama ini upaya menghubungkan kasus stunting dengan rokok dilakukan lewat faktor ekonomi. Kemiskinan orang tua, dihubungkan dengan konsumsi rokok, maka menghasilkan anak stunting. Padahal, jika mau melihat dengan jelas, pada dasarnya kemiskinan lah yang kemudian membuat banyak anak Indonesia mengalami stunting.

Bahwa orang tua yang anaknya terkena stunting perlu lebih memperhatikan anaknya jelas benar. Namun, jika pun uang rokok sang ayah dialihkan, apakah kemudian sang anak bakal berhasil lepas dari stunting, saya kira tidak. Mengingat kasus stunting ini terjadi akibat faktor konsumsi orang tua saat hamil atau asupan sang anak saat kecil, yang artinya telah terjadi sejak lama.

Lagipula, ketidakmampuan sebagian besar orang tua yang anaknya stunting untuk menyuplai gizi bukan disebabkan mereka merokok, tapi memang karena tidak punya uang. Ingat, aktivitas merokok tidak melulu membutuhkan uang besar. Dengan tingwe, yang kita bisa beli dengan uang Rp 10 ribu per pekan, seseorang sudah bisa merokok. Bahkan jika tidak punya, ya tetap bisa merokok juga.

Baca Juga:  Tidak Seperti Rokok, Pesan Kesehatan Pada Kemasan Makanan Tanpa Gambar Menakutkan

Toh dengan merokok atau tanpa merokok juga, saya kira kemiskinan lah yang membuat anak mereka terkena stunting. Karena itulah, ketimbang mengajak ayah sedunia untuk berhenti merokok, lebih baik pak menteri dan negara memikirkan bagaimana cara agar mereka bisa mendapatkan penghasilan yang lebih baik. Minimal membuka lapangan kerja, yang upahnya nggak murah gitu.

Karena itulah, jika pak menteri mengajak para ayah se-Indonesia untuk berhenti merokok, maka boleh lah saya untuk mengajak mereka untuk menolaknya dengan seruan: Ayah se-Indonesia bersatulah, ambilah korek, bakarlah rokok-rokokmu, kebulkan asap sebagai tanda menolak tunduk pada paksaan berhenti merokok.

 

Aditia Purnomo

Bukan apa-apa, bukan siapa-siapa | biasa disapa di @dipantara_adit