Merokok Dalam Pesawat Itu Konyol

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Merokok dalam pesawat adalah tindakan konyol. Siapa pun pelakunya, di mana pun kejadiannya, apa pun rokoknya, apa pun alasannya, tetap konyol.

Belakangan publik dikejutkan dengan video viral di media sosial yang menampilkan aksi seorang pria merokok dalam pesawat. Sudahlah konyol tindakannya, semakin konyol setelah diketahui bahwa pria tersebut merupakan anggota DPR RI. Said Abdullah namanya.

Dalam video berdurasi 44 detik tersebut terdengar percakapan yang menunjukkan bahwa aktivitas tersebut terjadi di dalam pesawat pribadi. Tapi, sekali lagi, itu tidak merubah penilaian saya; konyol.

Ada beberapa alasan. Pertama, demi menjaga kualitas udara, aktivitas merokok memerlukan jalur sirkulasi udara. Itu sebabnya ruang merokok dibuat terbuka, atau paling tidak memiliki penyedot udara (exhaust fan). Dan pesawat terbang tidak didesain untuk itu.

Kedua, aktivitas merokok memerlukan api. Artinya, ada api yang harus dinyalakan sebelum bisa mengisap rokok. Dalam video terlihat yang digunakan adalah korek gas.

Penerbangan komersil pada umumnya memang masih mengijinkan korek gas masuk ke dalam kabin, tapi hanya untuk di simpan, bukan digunakan. Itu pun dengan ketentuan yang ketat; tidak boleh ada dalam bagasi dan harus dilapisi bahan lain seperti kain atau plastik.

Baca Juga:  Benarkah Asap Rokok Mengandung Virus Corona?

Risiko keamanan yang ditimbulkan oleh api jelas sulit untuk ditangani jika terjadi di atas ketinggian (dalam penerbangan udara). Oleh karena itulah aktivitas merokok tidak diperkenankan di dalam penerbangan.

Ketiga, pelaku adalah wakil rakyat. Alasan ini di luar konteks rokok dan perokok. Tapi, sebagai representasi sekaligus pemegang mandat dari rakyat, kebodohan kekonyolan semacam ini tidak sepatutnya dilakukan. Kita tidak pernah memilih anggota legislatif untuk berbuat seperti itu, kan?

Di samping itu, kita masih dalam situasi pandemi. Jangankan merokok dalam pesawat, untuk bisa naik pesawat (tanpa merokok) saja rakyat masih dipersulit dengan beragam regulasi yang rumit. Dan, para politisi juga yang kerap mengampanyekan protokol kesehatan, tapi mereka memberi tontonan yang kontradiktif. Maksud hati tampil keren, malah dirujak warganet.

Yang paling menyebalkan dari semua ini adalah dampak bagi perokok. Iya, oknum perokok konyol dan bandel kerap dijadikan landasan banyak pihak (utamanya antirokok) untuk melabel perokok secara umum.

“Perokok di mana-mana emang gak tau diri,”

“Perokok itu orang paling egois,”

“Perokok itu blablabla wasweswos…..”

Ada banyak cibiran yang lahir dan tersemat ke perokok hanya karena tabiat satu dua orang macam ini. Kita-kita perokok santun yang tertib merokok ya kena getahnya.

Baca Juga:  Amerika Serikat Baru Wacanakan Peringatan Gambar di Bungkus Rokok, Selama Ini Kemana Saja?

Fenomena ini sekaligus jadi pelajaran bagi kita untuk tidak segan menegur rekan sesama perokok yang berlaku konyol di ruang publik. Terutama pada mereka yang dengan penuh kesadaran mendokumentasikan serta mempublikasikan laku konyol tersebut. Omelin aja, Bos!

Aris Perdana

Warganet biasa | @arisperd