rokok LA Ice

Rokok Membunuhmu, Mitos Atau Fakta?

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Matikan rokok sebelum rokok mematikanmu. Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin. Rokok membunuhmu. Rokok merenggut kebahagiaan satu persatu. Dan masih banyak lagi jargon kampanye antirokok yang sudah sangat familiar di telinga publik.

Pertanyaannya: apakah perokok tidak tahu atau bahkan tidak pernah mendengar peringatan tersebut? Perokok tentu sangat tahu. Betapa tidak, peringatan tersebut wajib terpampang di tiap kemasan rokok yang beredar di Indonesia. Sebagai kelompok yang lebih sering membeli rokok, perokok tentu lebih sering pula membacanya dibanding non perokok.

Lalu, kalau sudah baca dan sudah tahu, kenapa masih terus merokok?

Nah, itu kehendak bebas. Perkara peringatan rokok membunuhmu itu ya diatur regulasi. Maksudnya, peraturan di negara ini mewajibkan produsen rokok untuk menyematkan pesan peringatan tersebut di kemasan produknya. Tapi, konsumen tetap bebas memilih; percaya pada jargon “rokok membunuhmu” atau sebaliknya. Tidak ada kewajiban soal keyakinan.

Kalau menyoal validitas peringatan tersebut ya butuh ilmu dan ruang besar untuk pembuktian. Maksudnya, stigma negatif pada rokok masih memiliki ruang perdebatan. Klaim bisa apa saja dan dari mana saja. Pun demikian dengan masyarakat, bebas meyakini klaim yang mana.

Baca Juga:  Simplifikasi Cukai, Cara Perusahaan Asing Matikan Pesaing di Indonesia

Sebagai perokok tentu tidak elok juga kalau memaksakan keyakinannya lantas mengajak dan mendorong orang-orang yang tidak menyukai rokok agar turut mulai kebiasaan merokok. Itu jelas di luar dari etika perokok santun. Perokok paham betul soal itu.

Berbeda dengan antirokok, klaim yang mereka yakini akan selalu mereka paksakan agar diterima khalayak. Beragam narasi dan kampanye pun dilakukan untuk “memaksa” perokok agar segera pensiun alias berhenti merokok. Ya, kewajiban menempel peringatan “rokok membunuhmu” pada kemasan rokok itu salah satu caranya.

Sekali lagi saya tegaskan, merokok adalah pilihan bebas. Batasannya jelas, hanya boleh dikonsumsi oleh individu berusia di atas 18 tahun. Dan sebaiknya dikonsumsi di ruang yang membolehkan merokok. Kalau sudah 18 tahun tapi memilih untuk tidak mau mencoba rokok barang sekalipun, ya gak masalah juga. Bebas.

Rokok adalah benda mati. Manusia adalah makhluk hidup. Artinya, kitalah yang punya kuasa berkehendak. Kita yang menentukan. Kita yang mengatur. Kita pula yang menjalankan. Jadi, agak aneh kalau kita harus mengambinghitamkan benda mati sebagai pihak yang menentukan bagaimana nasib manusia. Hanya saja kita perlu memahami bahwa rokok punya faktor risiko tertentu.

Baca Juga:  Melecehkan Kewarasan Publik, Seputar Kontroversi Gambar Pria Merokok di Bungkus Rokok

Rasanya tidak ada hal di dunia ini yang tak menanggung akibat. Bahkan, air putih saja jadi tidak akan menyehatkan jika diminum lewat hidung. Nasi putih juga bisa menyebabkan penyakit yang berujung kematian jika dikonsumsi secara berlebih oleh penderita diabetes. Artinya, kita tidak bisa menakar suatu hal secara serampangan. Metode penggunaan, dosis pemakaian, kondisi konsumen dan banyak faktor lain akan menentukan tingkat risiko.

Setelah demikian, lagi-lagi, semua berhak meyakini mana yang baik dan buruk sesuai penilaiannya masing-masing.

Aris Perdana

Warganet biasa | @arisperd