harga rokok naik

Cukai Terus Naik, Harga Rokok Masih Murah?

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Harga rokok di Indonesia itu mahal. Bahkan jika dibandingkan dengan negara lain, perkara harga produk olahan tembakau yang satu ini tergolong salah satu yang paling tinggi di dunia. Setidaknya, itulah yang pernah diungkapkan Direktorat Jendral Bea Cukai melalui Kepala Subdirektorat Komunikasi dan Publikasi, Deni Surjantoro.

Tidak hanya itu, hal serupa juga dinyatakan oleh Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis Yustinus Prastowo. Menurutnya, rokok di Indonesia lebih mahal dibandingkan beberapa negara, seperti Jepang, Korea, Tiongkok, Hong Kong, Australia, Singapura, atau Malaysia. Australia yang kerap disebut memiliki harga rokok paling mahal, masih dibilang lebih murah dari Indonesia.

Ini memang bukan pernyataan baru, karena semua pernyataan di atas mengutip sebuah berita 3 tahun lalu. Meski begitu, jika melihat kondisi hari ini, maka harga di Indonesia menjadi semakin mahal mengingat kenaikan tarif cukai dan harga rokok yang eksesif dalam dua tahun terakhir. Karena itulah, pernyataan caleg gagal Hasbullah Thabrany terkait harga murah rokok perlu dikoreksi.

Baca Juga:  Menolak Ajakan Berhenti Merokok untuk Ayah Se-Indonesia

Menurut profesor doktor dari Universitas Indonesia yang berposisi sebagai antirokok ini, harga rokok di Indonesia masih murah. Karena itu harus diperketat dan dipersulit terutama untuk pengendalian rokoknya. Tentu saja, saya sebagai seseorang yang bukan profesor doktor, bahkan S1 saja tidak mau lulus, merasa perlu untuk mengoreksi pernyataan beliau.

Begini, jika mengacu pada nominal, mungkin harga rokok di Indonesia tergolong murah. Lah gimana nggak mau dibilang begitu, nilai tukar rupiah juga jelek. Di Australia harga rokok di kisaran 10 dollar, di sini udah 30 ribu rupiah. Kalau disamakan kursnya, ya jelas lebih mahal Australia. Namun, jika kita menghitung secara rasio pendapatan, harga rokok di Indonesia jelas lebih mahal ketimbang negara lain.

Jika mengacu pada pernyataan Yustinus Prastowo yang saat ini menjadi staff ahli di Kementerian Keuangan, berdasar indeks keterjangkauan yang diukur melalui rasio Price Relative to Income, harga rokok di Indonesia sudah termasuk tertinggi di dunia. Jadi, tidak bisa semata dinilai berdasarkan nominal saja, karena di Australia upah minimumnya juga jauh lebih besar, wajar harganya tinggi secara nominal.

Baca Juga:  Justru Rokok Tak Boleh Mahal!

Selain itu, kita juga tidak bisa melihat nominal secara utuh begitu saja. Soalnya, dengan nominal kurs yang sama pun, nilai yang didapat antar negara bisa berbeda. Karena hal itu juga bergantung pada pendapatan domestik bruto serta pendapatan per kapita masyarakat. Itulah yang kemudian menunjukkan sebenarnya harga rokok di Indonesia sudah termasuk yang paling mahal di dunia.

Pun jika mengacu pada kemampuan masyarakat hari ini, harga rokok sudah tidak masuk pada angka psikologis masyarakat. Ya masih ada sebaigan yang mampu membeli di kisaran angka RP 25-30 ribu. Namun, sejauh yang saya lihat di lapangan, lebih banyak orang membeli rokok di bawah angka itu. Karena itulah saat ini menjamur rokok dengan angka yang lebih terjangkau untuk masyarakat.

Jika kemudian, karena logika seorang profesor doktor yang menyatakan kalau harga rokok murah, lantas harga dan tarif cukai kembali diwacanakan naik, harusnya mereka belajar dulu dari masyarakat. Atau setidaknya belajar dulu dari saya lah yang DO dari UIN ini.

Baca Juga:  Mendiskreditkan Rokok Sebagai Budaya Tua Hanya Akal-akalan Pasar Obat

Dalam memperhatikan persoalan sosial ekonomi, kita tidak bisa menggunakan rumus matematika yang ajeg. Ada begitu banyak faktor yang harus dilihat. Menghilangkan satu dua faktor dampaknya bisa amat berbeda. Sama seperti yang biasa dilakukan antirokok dengan menghilangkan faktor daya beli masyarakat untuk membuat kesimpulan.

Karena itu, dalam membuat kesimpulan terkait masyarakat, hendaknya kita bersikap adil dulu sejak dalam pikiran. Jangan mentang-mentang sudah pernah nyaleg, terus punya gelar profesor doktor, lantas hal semacam itu mau menggurui. Mohoh maaf, bos, kalau cuma ilmu sosial begini, DO-an UIN juga paham.

Aditia Purnomo

Bukan apa-apa, bukan siapa-siapa | biasa disapa di @dipantara_adit