Menolak Narasi Rokok Gerbang Menuju Narkoba

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Rokok gerbang masuk menuju narkoba. Seorang perokok disebut-sebut sebagai calon pemabuk. Pada level selanjutnya perokok akan mencoba-coba konsumsi ganja dan/atau jenis narkoba lainnya. Begitulah stigma yang dibangun oleh banyak orang untuk mendiskreditkan rokok dan perokok.

Pertanyaannya: apa benar demikian?

Begini. Rokok dan narkoba berbeda dalam banyak hal. Pertama, rokok barang legal. Peredarannya diregulasi negara. Kedua, merokok bukan tindak pidana. Lain hal dengan nyabu, nyimeng, dan berbagai aktivitas mengonsumsi narkoba lainnya.

Memang ada sebagian perokok yang juga mengonsumsi narkoba. Tapi banyak pula perokok yang tidak mengonsumsi narkoba. Vice versa. Ada banyak konsumen narkoba yang tidak merokok. Ada. Banyak. Jadi, rokok tidak bisa serta-merta diasosiasikan dengan narkoba.

Alasan yang membuat banyak orang menyamakan rokok dengan narkoba adalah faktor adiksi. Padahal, rokok tidak adiktif seperti narkoba. Perkara merokok, faktor kebiasaanlah yang mempengaruhi pola konsumsi seseorang. Seseorang sering merokok karena terbiasa, bukan kecanduan. Apapun barang konsumsinya, ketika sudah terbiasa dikonsumsi maka akan membentuk pola.

Baca Juga:  Tidak Manusiawinya Penerapan Kampung Bebas Asap Rokok di Sunter

Seorang pengguna narkoba akan merasakan efek langsung apabila tren konsumsinya terputus. Istilah yang umum dipakai untuk menyebut kondisi tersebut adalah sakau. Mereka yang sakau biasanya akan merasakan sakit atau beberapa efek buruk lain ketika putus obat.

Bagaimana dengan perokok yang putus rokok, apakah sama? Jawabannya tentu tidak. Seorang perokok tidak akan menggigigil, kesakitan, atau mengalami dampak buruk lain apabila rokoknya habis. Paling-paling efeknya ya bored totally alias BT (bete). Efek yang paling maksimal ya merasa asam di mulut. Itu pun karena faktor kebiasaan tadi.

Setelah itu semua, jelas sudah, bahwa rokok dan narkoba adalah dua hal yang jauh jauh jauh berbeda. Sayangnya, masih ada saja orang-orang yang ngotot menyatakan kalau tren konsumsi rokok dan narkoba itu linear. Rokok dianggap gerbang masuk menuju narkoba.

Siapa sih orang-orang yang menyebut demikian? Ada, banyak. Bukan cuma orang awam, bahkan pejabat pun ada yang bicara begitu.

Juliari Batubara, mantan Menteri Sosial Republik Indonesia, pernah mengusulkan agar harga rokok dinaikkan setinggi mungkin, kalau bisa hingga Rp 100 ribu per bungkus, katanya. Alasannya apa? Agar anak-anak tidak bisa mengakses rokok dan terhindar dari bahaya rokok. Usul ini lahir saat beliau masih menjabat menteri.

Baca Juga:  Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti

Apa bahaya yang beliau maksud?

“Harus diingat pengenalan narkoba dari rokok. Lama-lama nyobain ganja lalu sabu. Begitu masuk ke narkoba ya sudah habis. Mau rehab seperti apa pun, kalau sudah narkoba sejak dini itu sudah sulit,” kata Pak Menteri saat itu.

Saat ini beliau jadi tahanan KPK. Semoga beliau tidak tergoda untuk merokok selama masa penahanan.

Aris Perdana

Warganet biasa | @arisperd