Menyoal Label Peringatan Pada Rokok Elektrik

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Paguyuban Asosiasi Vape Nasional (PAVENAS) menyatakan sepakat apabila produk rokok elektrik dilengkapi dengan label peringatan kesehatan. Pada setiap produk rokok elektrik yang dipasarkan ke konsumen kelak akan tertera peringatan yang serupa tapi tak sama dengan rokok konvensional.

Konon, mereka bahkan sudah memberlakukan hal itu. Semua asosiasi produsen dan konsumen rokok elektrik di bawah naungan PAVENAS secara sukarela menempelkan label tekstual. Nah, itulah maksud serupa tapi tak sama; hanya ada peringatan tekstual, tak ada gambar penyakit sebagaimana yang menempel di bungkus rokok.

Hal tersebut mereka lakukan sambil terus mengampanyekan narasi vape lebih aman dari rokok. Mereka menilai tidak tepat jika label peringatan kesehatan pada produk Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya (HPTL) diperlakukan sama seperti label peringatan kesehatan pada rokok.

“Rokok elektrik, produk tembakau yang dipanaskan, dan produk HPTL lainnya diciptakan untuk membantu perokok dewasa untuk beralih dari kebiasaan merokok. Jika label peringatan kesehatannya disamakan dengan rokok, maka perokok dewasa akan menganggap bahwa produk tersebut tidak berbeda dan bahkan tidak tertarik untuk beralih ke produk HPTL,” sebut I Gede Agus Mahartika, ketua Asosiasi Vaporiser Bali.

Baca Juga:  Sanksi Pidana Dalam Peraturan Daerah Tentang KTR, Bolehkah?

Sepintas nampak mulia sekali, menyerahkan diri agar diregulasi oleh negara. Ternyata narasi yang dibangun justru melestarikan ‘konflik’ rokok vs vape. Dalam terminologi lain; asap vs uap. Ini benar-benar menyebalkan. Kretekus tidak semestinya mendukung ribut-ribut ini.

Kita semua (khususnya perokok) pasti akrab dengan narasi ini. Sudah banyak artikel di media dan internet yang turut melestarikan pandangan sejenis. Pandangan ini perlahan mengilusi publik, lantas percaya bahwa tembakau lebih aman dikonsumsi dengan cara dipanaskan dari pada dibakar.

Ilusi tersebut (diharapkan) berkembang menjadi keyakinan untuk meninggalkan rokok konvensional dan beralih ke rokok elektrik. Pada titik paling antagonis, konsumen rokok elektrik diarahkan untuk terlibat pada agenda menihilkan eksistensi rokok konvensional seperti kretek.

Benarkah vape lebih aman dari rokok? Apa yang membuat kedua produk yang sama-sama berbahan dasar tembakau dan sama-sama mengandung nikotin tersebut dianggap punya efek samping yang berbeda? Apa kepentingan di balik perang propaganda uap vs asap?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut juga harus terjawab tuntas. Klaim vape lebih aman dari rokok jelas menuntut pembuktian yang komprehensif. Saya tidak anti pada produk tembakau seperti vape. Juga tidak membenci para vapers beserta uapnya. Tapi narasi timpang menyoal risiko rokok dan vape perlu ditinjau ulang.

Baca Juga:  Ladang Tembakau dan Seremoni Simbolis

Tembakau jadi komoditas yang hendak dikuasai oleh industri farmasi. Bagaimana caranya? Salah satunya dengan menciptakan produk alternatif dari tembakau seperti rokok elektrik, koyo tembakau, permen tembakau, dll. Analisa ini sudah lama dikemukakan oleh Wanda Hamilton dalam bukunya yang berjudul Nicotine War, jauh sebelum vape sepopuler hari ini.

Wanda Hamilton secara gamblang menggambarkan konteks ekonomi dan politik di balik agenda pengendalian tembakau. Ada banyak fakta yang disajikan. Dari sana diketahui bahwa segala upaya pengendalian tembakau hanya menjadi dalih penguasaan bisnis tembakau. Tak heran jika banyak pedagang vape yang merangkap jadi agen antirokok.

Bagi saya pribadi, keberadaan vape bukanlah persoalan, sama seperti keberadaan rokok yang legal. Namun sialnya, kampanye vape kerap menjadikan rokok sebagai musuh yang harus dilawan. Alih-alih bersatu melawan kelompok anti-tembakau, kelompok vapers lebih sering menyudutkan rokok dan perokok.

Vapers dan perokok justru harus bersatu melawan segala stigma negatif yang melekat pada konsumen produk tembakau. Vapers dan perokok juga harus sama-sama menolak segala narasi kesehatan yang jelas-jelas selalu mengharamkan nikotin. Jangan malah menumpang isu kesehatan untuk kemudian merebut pasar.

Baca Juga:  Memerangi Corona Lebih Penting dari Sekadar Mengevaluasi Perda KTR
Aris Perdana

Warganet biasa | @arisperd