orangmerokok
Opini

Bernapas Di Samping Orang Merokok Berbahaya?

Sempat memainkan hoaks filter rokok mengandung darah babi, antirokok nampaknya belum puas juga mendiskreditkan rokok dengan isu absurd. Mereka selalu kreatif dalam membangun citra buruk pada orang merokok.

Ada banyak model kampanye antirokok yang tidak hanya absurd, tapi juga terlalu dipaksakan. Maksudnya, narasi yang dibangun sering berlebihan dan terkesan mengada-ada. Salah satunya adalah sebuah artikel dengan judul “Studi: Bernapas di Samping Orang Merokok Tingkatkan Risiko Gagal Jantung“.

Sekali lagi, bernapas di samping orang merokok akan meningkatkan risiko gagal jantung. Anda tidak salah baca. Dalam imajinasi antirokok, bernapas merupakan sebuah kesalahan. Ngeri.

Mari bahas perlahan. Kita sudah sering mendengar tentang kampanye perokok pasif. Dan studi yang dimaksud di atas jelas mengarah ke sana. Kami sudah berulang kali memberi penjelasan mengapa kampanye perokok pasif adalah sesuatu yang tidak valid. Salah satu artikelnya bisa dibaca di sini.

Nah, jika kampanye perokok pasif adalah suatu hal, maka studi soal bernapas tadi adalah hal lainnya. Bagaimana mungkin karena bernapas seseorang menderita gagal jantung?

Baca Juga:  Soal Tarif Cukai, Pemerintah Terus Menuai Teguran

Studi yang dimaksud menyebut bahwa non perokok yang terpapar asap rokok berpotensi menderita gagal jantung 35 persen lebih besar dibanding mereka yang tidak terpapar. Tapi kesimpulan yang ditarik dan dijadikan judul sebuah berita sungguh sangat berlebihan.

Faktanya, bernapas di samping orang memasak, di samping orang pacaran, di samping orang-orangan sawah sekalipun, risiko penyakit ya selalu ada. Jadi, yang mau dipermasalahkan itu merokoknya atau bernapasnya?

Itulah yang dimaksud dipaksakan. Judul dan bingkai artikel yang membicarakan rokok kerap melampaui data dan fakta. Tujuan utamanya hanya sekadar membangun stigma negatif. Perkara logika sering dikesampingkan.

Antirokok sudah cukup sering menyerang rokok dan perokok dengan isu kesehatan. Ya, memang isu kesehatan adalah domain mereka. Perokok sudah sangat akrab dengan isu-isu itu. Tapi, ya masa mau pukul rata orang yang bernapas samping perokok bakal terkena serangan jantung.

Kalau dengan logika yang seperti itu, tindakan apa yang sebaiknya dilakukan oleh orang yang sedang berada di samping perokok? Bunuh diri agar segera berhenti bernapas? Atau segera merampas rokoknya sambil tahan napas, kemudian mematikannya? Atau apa?

Baca Juga:  Cacat Logika Birokrat dalam Memaknai Bantuan Tunai dan Perokok

Di atas itu, persoalan ruang bagi perokok saja masih belum adil. Padahal merokok aktivitas legal, tapi ruangnya semakin dikebiri dengan berbagai regulasi. Harusnya disediakan area-area khusus merokok, terutama di ruang publik. Sudahlah abai pada hak perokok, yang dimainkan selalu isu-isu absurd pula.

Penulis di Komunitas Kretek