petani tembakau
Opini

Tembakau Jember Menuju Jerman

Jember sebagai daerah penghasil tembakau memiliki catatan historis yang tak singkat di peta perdagangan dunia. Tembakau Jember sudah dikenal sebelum tahun 1850, sejak masih berstatus distrik bagian dari Kota Bondowoso.

Kemudian pada tahun 1859, perusahaan tembakau pertama bernama NV Landbouw Maatschappij Oud Djember (LMOD) didirikan di distrik ini, berakhir di tahun 1909. Kemajuan daerah Jember sebagai daerah penghasil ditandai sejak berkembang menjadi regenschaft, setara Kabupaten–pada tahun 1883. Pasca itu pembangunannya lebih maju, menjadi ibukota dari karisidenan Besuki.

Sejak dulu, tembakau Jember sudah populer sebagai bahan dasar yang dibutuhkan pasar cerutu di Eropa. Pasca era kemerdekaan, semua perusahaan milik Belanda dinasionalisasi. Perlu diketahui juga, tak hanya Jember yang tembakaunya diekspor untuk pasar Eropa, Sumatera melalui tembakau Deli termasuk pemasok kebutuhan untuk cerutu di Jerman.

Kota Bremen di Jerman sejak dulu dikenal sebagai poros perdagangan tembakau berskala internasional. Pada tahun 1960-an, komoditas emas hijau asli Jember mendapatkan masa kejayaannya, oleh sebab itu bisa demikian bersaing harganya.

Baca Juga:  Ketika Muhammadiyah Menyerukan Perang Kepada Rokok

Satu dasawarsa kemudian, persisnya di tahun 1970, mulai dirasakan adanya kemunduran. Seturut dinamika pasar serta regulasi tentang pertembakauan. Banyak perusahaan tembakau di Jember yang kukut. Tercatat pada tahun-tahun itu hanya tinggal 18 eksportir yang masih bertahan.

Lompat ke masa sekarang, Bupati Jember dan para pihak yang terkait dengan pertembakauan di derahnya melangsungkan rapat koordinasi, membahas wacana Bupati yang ingin mengembalikan kejayaan Jember, terutama di pasar Bremen.

Di tengah gempuran regulasi pertembakauan yang demikian masif melalui kenaikan cukai, tentu wacana Bupati Jember untuk mengangkat derajat kesejahteraan petani perlu kita paresiasi. Iya apalagi ini sudah memasuki musim tanam. Menjadi semacam isyarat baik yang dapat dibaca secara linear maupun secara analisa politik.

Wacana tersebut memang bukan tanpa alasan. Disampaikan bahwa pada beberapa waktu lalu dirinya telah melakukan koordinasi dengan Menteri Perekonomian seturut permintaanya akan lapak di Bremen. Gayung bersambut, Menteri Perekonomian langsung berkoordinasi dengan duta besar RI di Jerman.

Hal itulah yang mendasari rapat koordinasi yang dilangsungkan Bupati Jember dengan sejumlah pihak untuk mengakat kejayaan tembakau daerahnya. Sebagaimana kita ketahui, di Jember juga terdapat museum tembakau yang mengangkat aspek historis dan budaya pertembakauan Jember.

Baca Juga:  Operasi Senyap Revisi PP 109/2012 Tanda Matinya Demokrasi

Wacana untuk mengembalikan kejayaan pertembakauan Jember tentu saja membawa angin segar bagi para pihak. Mengingat daerah ini secara historis dan kultur perekonomiannya dibesarkan oleh komoditas tembakau. Tak dipungkiri, beberapa komoditas perkebunan lainnya pun.

Dari sisi ini, setidaknya kita dapat menengarai adanya upaya pemerintah daerah dalam mengoptimalisasi sumber penghasilan masyarakatnya. Bukan hal mustahil, bila tembakau dari Jember kembali meroket dan tidak mengalami persoalan harga yang anjlok lagi.

Iya memang diperlukan sinergi antar pihak untuk saling menguatkan dalam konteks ini. Baik pengusaha, petani, dan simpul-simpul terkait. Utamanya dalam mengontrol harga dan pasokan yang nantinya akan dapat mengangkat pamor daerah serta derajat ekonomi masyarakat.

Penulis di Komunitas Kretek