Penjualan rokok

Daftar Negara Dengan Jumlah Perokok Terbesar

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tak bisa dipungkiri, Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah perokok terbesar di dunia. Jumlah penduduk yang sangat besar tentu menjadi faktor penting. Worldometer menempatkan Indonesia di urutan keempat negara dengan penduduk terbanyak di dunia. Tercatat ada 273.523.615 populasi Indonesia per tahun 2020.

Kaitannya dengan prevalensi perokok yang tinggi juga disebabkan faktor kultural. Kretek, sebagai rokok khas nusantara, merupakan warisan budaya. Ditemukan dan dilestarikan secara turun temurun oleh leluhur lokal. Oleh karenanya, penduduk lokal Indonesia punya keterikatan khusus dengan rokok pada umumnya, dan kretek pada khususnya.

Fakta bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah perokok terbesar kerap dicitrakan miring. Ya, kelompok antirokok adalah elemen yang bermain. Tak tanggung, mereka bahkan menyebut Indonesia surganya perokok. Citra tersebut dibangun di atas narasi murahnya harga rokok, masifnya iklan ruang terbuka, televisi, dan media sosial.

Semua pihak bebas bernarasi, tentunya. Akan tetapi, tak bisa pula kita kesampingkan faktor lain seperti faktor populasi dan faktor kultural yang dibahas di awal. Kedua faktor tersebut boleh jadi merupakan faktor dominan dari tingkat prevalensi perokok, mengingat harga rokok di Indonesia yang terus melambung dari tahun ke tahun. Jadi, menyebut Indonesia surga bagi perokok dengan argumentasi harga, justru kelewat absurd.

Baca Juga:  Penyederhanaan Golongan Cukai Rokok Hanya Menguntungkan Perusahaan Rokok Putih

Sebuah riset menunjukan bahwa per tahun 2019 China menempati urutan teratas negara dengan jumlah perokok terbesar, diikuti India, Indonesia, Amerika Serikat, Rusia, Bangladesh, Jepang, Turki, Vietnam, dan Filipina. Dari daftar tersebut, 4 negara teratas juga merupakan negara dengan populasi terbesar di dunia. Artinya, jumlah penduduk yang besar berbanding lurus dengan prevalensi perokoknya.

Masih berdasarkan penelitian yang sama, beberapa dari negara-negara tersebut justru termasuk kategori negara maju. Sebut saja China, Amerika Serikat, Jepang, Rusia, Turki, kita tidak bisa menempatkan mereka di daftar negara-negara berkembang, bukan? Artinya, prevalensi perokok tidak secara otomatis menentukan level kemajuan suatu negara. Tidak seperti yang selama ini dikampanyekan oleh antirokok–bahwa rokok merupakan penghambat pembangunan SDM dan kemajuan suatu bangsa.

Menjadikan agenda pengendalian tembakau sebagai tolak ukur produktivitas dan kemajuan bangsa sungguh sangat bias. Tak bisa pula dilabel sebaliknya. Perokok bahkan tak akan mengklaim bahwa rokok meningkatkan produktivitas dan kemajuan sebuah peradaban.

Terlepas dari perkara prevalensi konsumennya, tembakau dalam negeri punya kontribusi positif dalam konteks pembangunan. Nilai ekonomis dari komoditas berjuluk emas hijau ini terbilang sangat tinggi dan menjadi ‘ladang pemasukan‘ bagi keuangan negara. Dari sana akan berubah secara kualitatif menjadi fasilitas umum, teknologi, dan beberapa hal lain di bidang pembangunan.

Baca Juga:  Konspirasi Global Jatuhkan Sitti Hikmawatty dari Tahta KPAI
Aris Perdana

Warganet biasa | @arisperd