Musim tanam tembakau

Kampanye Antirokok, Upaya Menguasai Tembakau Nusantara

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Sebagai negeri kepulauan, Indonesia memiliki beragam komoditas perkebunan yang mendunia, di antaranya tembakau Nusantara. Komoditas lainnya yang juga dikenal dari negeri ini adalah komoditas rempah-rempahnya.

Cengkeh adalah salah satu rempah-rempah yang kemudian lazim digunakan bersanding dengan tembakau. Sehingga jadilah rokok kretek. Tembakau dan cengkeh menjadi perpaduan yang khas sebagai produk kretek yang memiliki citarasa tersendiri. Cengkeh yang dulunya diketahui sebatas bumbu masak, kemudian turut dibutuhkan industri rokok.

Tembakau Nusantara adalah sebutan untuk jenis-jenis tembakau yang tumbuh di Indonesia. Seiring perkembangannya berganti istilah menjadi tembakau lokal. Bukan tanpa alasan memang, istilah ini muncul. Realitas pasar dan perubahan cara pandang dunia terhadap tembakau menjadi salah dua penyebabnya.

Secara umum penggolongan tembakau yang ada di Indonesia terbagi berdasar daerah tanamnya. Ada tembakau yang ditanam di lereng pegunungan, ada tembakau yang ditanam di sawah. Masing-masing memiliki kualitas dan pasar yang berbeda-beda.

Hampir rata-rata tembakau dari tanah Nusantara ini memiliki kandungan nikotin yang lebih tinggi, jika dibandingkan dengan tembakau-tembakau dari negara penghasil lainnya. Harga jualnya pun tak kalah saing dengan tembakau jenis virginia yang belakangan marak memenuhi permintaan industri.

Baca Juga:  Kalau Masih Butuh Duit dari Perokok, BPJS Jangan Diskriminasi Perokok

Sebagaimana kita tahu, sejak memasuki tahun 2000-an, semua produk rokok kena aturan pembatasan kadar nikotin dan tar-nya. Ini semua merujuk pada regulasi yang ditetapkan oleh rezim kesehatan dunia. Oleh karena itulah muncul golongan rokok Low Tar Low Nicotine (LTLN) yang kemudian disebut genre mild.

Pada periode itu disahkan pula traktak tentang pengendalian tembakau (FCTC), tepatnya tahun 2003. Indonesia di bawah pemerintahan Megawati kala itu tidak ikut menyetujuinya meski ikut aktif merancang konsepnya. Hingga hari ini Indonesia belum mengaksesi traktat tersebut.

Sementara itu, gerakan antirokok di Indonesia terus masif memainkan kampanye kesehatan yang mendiskreditkan rokok. Sebagai catatan, di balik agenda pengendalian tembakau ini terdapat kepentingan kapitalisme farmasi. Industri farmasi global menaruh kepentingan hegemoni bisnis nikotin di seluruh dunia.

Tembakau adalah tanaman yang memilki nilai perputaran ekonomi tinggi. Apalagi untuk Indonesia yang memiliki pasar yang cukup luas dan majemuk. Rokok dalam negeri berupa kretek ini memiliki konten dan pasar yang tersedia di dalam negeri. Dari bahan baku serta konsumennya. Di sisi lain, saking tingginya perputaran produksi, saat ini pasar rokok dalam negeri juga membutuhkan kuota tembakau impor.

Baca Juga:  FCTC dan Penggiringan Opini yang Meresahkan

Kampanye antirokok tidak sepenuhnya murni berjuang untuk kesehatan, isu kesehatan hanyalah dalih untuk mengubah paradigma publik dalam memandang produk kretek. Memaksa dan menekan masyarakat untuk berhenti mengonsumsi produk legal rokok, arahnya tak lain adalah penguasaan terhadap keakayaan tembakau yang Indonesia punya.

Jibal Windiaz

anak kampung sebelah