industri rokok

Industri Hasil Tembakau Tertekan Oleh PPKM

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Banyak sektor yang terdampak pandemi COVID-19. Oleh karena Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat, operasional sektor industri jadi terganggu. Salah satunya adalah Industri Hasil Tembakau (IHT).

Industri Hasil Tembakau merupakan industri padat karya. Artinya, keberlangsungan operasional melibatkan banyak pekerja. Ada banyak buruh linting di sektor ini. Pembatasan yang diterapkan oleh pemerintah tentu menjadi “beban” tersendiri bagi IHT.

Hanya 25 persen pekerja yang diperbolehkan selama masa PPKM. Industri pun atur strategi. Sistem shift bergantian diberlakukan agar tetap boleh beroperasi. Selain itu, pembatasan jam operasional juga wajib dilakukan. Dampaknya ya terjadi penurunan jumlah dan target produksi.

Kewajiban perusahaan pada pekerjanya pun turut dijalani. Menerapkan protokol kesehatan, menyediakan alat-alat pengaman, suplemen, dan lainnya, adalah hal yang tidak bisa ditawar. Hal itu ditunaikan oleh pabrikan sebagai bentuk dukungan pada kebijakan pemerintah.

Namun yang tidak bisa dihindari adalah efek ekonomis dari semua hal itu. Pada titik inilah IHT, sebagai salah satu tiang ekonomi negara, mengharapkan dukungan balik dari pemerintah.

Baca Juga:  Prevalensi Perokok Anak Indonesia Menurun

Performa industri hasil tembakau terpuruk. Kebijakan cukai, mau tidak mau, harus berpihak pada setiap stakeholder di dalamnya demi keberlangsungan. Sekali lagi, industri ini padat karya. Ada jutaan orang yang menggantungkan hajat hidupnya pada ekosistem kretek khususnya.

Sayangnya, di tengah situasi yang serba sulit, wacana simplifikasi cukai justru semakin menguat. Tak sedikit yang ketar-ketir menyambutnya. Belum lagi dorongan-dorongan untuk menaikkan kembali tarif cukai tembakau. Wacana tersebut tentu bukanlah yang diharapkan oleh para petani dan buruh pertembakauan.

Kondisi yang riskan ini tak hanya mengancam keberlangsungan hidup para pekerjanya, tapi juga mengancam sumber pendapatan negara. Kita tahu bahwa IHT jadi “donatur tetap” bagi negara dari sektor cukai. Harus hati-hati memperlakukannya, salah-salah bisa menimbulkan banyak kerugian.

Dampak dari kebijakan cukai tahun lalu dan tahun ini saja masih terasa, apalagi ditambah dengan kebijakan baru yang semakin memberatkan. Performa IHT memang terbukti tahan badai krisis, tapi, kalau terus-terusan dihantam dan ditekan, ya tetap akan berpengaruh. Utamanya bagi pabrik-pabrik kecil, sudah banyak yang gulung tikar.

Baca Juga:  Memerangi Corona Lebih Penting dari Sekadar Mengevaluasi Perda KTR

Melindungi mereka tidaklah sulit. Cukup dengan tidak menambah bebannya saja sudah sangat membantu. Jadi, bola kini ada di pemerintah. Kita nantikan keputusannya.

Aris Perdana

Warganet biasa | @arisperd