Merokok di Motor Sungguh Perbuatan Menjengkelkan

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Seorang pria harus mengalami pecah pembuluh darah di kelopak mata hanya karena rokok. Bukan. Ini bukan karena bahaya rokok seperti yang dikampanyekan antirokok. Tapi dikarenakan oknum bandel yang merokok di motor. Sungguh menjengkelkan.

Orang yang merokok di motor terkadang tidak sadar bara api dari rokoknya terbang, kemudian hinggap di kelopak mata atau bagian tubuh orang lain yang juga sedang mengendarai motor tepat di belakang si perokok. Sial betul nasib Belva. Kejadian pada tahun 2019 tersebut lantas viral di media sosial. Kemudian dibumbui narasi ala antirokok.

Dua tahun berselang, di tahun 2021, seorang pengendara motor di Pontianak ngamuk karena nyaris mengalami kecelakaan akibat bara rokok dari pengendara lain. Kisahnya pun viral di media sosial–kemudian berkembang di berbagai platform juga dengan berbagai narasi khas antirokok. Kalau kejadian semacam ini terus berulang, lama-lama seluruh perokok kena getahnya; dilabel negatif.

Padahal, ya banyak juga perokok santun. Mereka tidak akan merokok di motor. Kalau sedang berkendara dan ingin merokok, mereka akan berhenti di warung kopi, atau di pinggir jalan, atau di mana pun yang tidak mengganggu kenyamanan orang lain. Hal ini bukan perkara sulit. Yang sulit adalah mengingatkan para perokok bandel ini. Itulah tantangan bagi kita para perokok santun.

Baca Juga:  BPPC, Monopoli Gaya Orde Baru

Gerakan perokok santun akan efektif hanya jika dikampanyekan secara masif. Maksudnya, para perokok yang merasa kesal dengan teman-teman perokok bandel harus mulai berani mengedukasi. Dimulai oleh yang membaca teks ini. Semakin besar bangunan kesadaran, semakin berkurang kisah-kisah viral seperti di atas. Percayalah.

Tapi, bukan berarti fenomena ini hanya menjadi tanggung jawab para perokok santun. Pemerintah juga harus ambil bagian. Bukan dengan jadi jagoan yang hanya bisa menghukum, tapi juga melakukan tindakan preventif.

Seperti apa? Ya, pemerintah bersama para pengelola ruang publik harus menyediakan ruang merokok di titik-titik tertentu. Misal, di kawasan tanpa rokok harus tersedia smoking area. Ini bukan tuntutan yang berlebihan, toh konstitusi juga mengamanatkan demikian. Jadi, memang sudah kewajiban pemerintah dan pengelola ruang publik.

Kalau smoking area sudah dibangun secara proporsional, lengkap dengan fasilitas yang memadai, tapi masih ada perokok bandel, ya saya sih sepakat kalau mereka disentil orang. Tapi, ya mereka saja, jangan pukul rata ke semua perokok.

Baca Juga:  Sandiaga Uno dan Janji-janji Mulianya Tentang Tembakau

Sekali lagi, kita harus prihatin pada para korban. Oknum yang merokok di motor memang sungguh menjengkelkan. Tapi, pemerintah dan pengelola ruang publik yang sengajai abai pada amanat konstitusi juga tidak lebih baik dari para perokok bandel itu. Jadi, ya mari sama-sama memenuhi tanggung jawab kita.

Tabik.

Aris Perdana

Warganet biasa | @arisperd