rokok elektrik

Solusi Berhenti Merokok Ala Antirokok

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Berhenti merokok jadi salah satu resolusi sebagian orang. Ya, itu hal biasa. Sama seperti orang yang membuat resolusi untuk berhenti makan daging, berhenti bermain media sosial, dan berhenti lainnya. Perkara berhenti merokok seringkali dikampanyekan sebagai sesuatu yang sangat sulit. Benarkah sulit?

Faktanya, ada banyak perokok yang meninggalkan rokok begitu saja. Ada banyak juga yang mampu mengendalikan hasrat merokok. Ini hanya masalah niat. Tapi kampanye adiksi rokok terus bergema. Hingga akhirnya muncul produk-produk yang dicitrakan sebagai solusi berhenti merokok.

Rokok elektrik, atau yang populer dengan istilah vape, adalah produk olahan tembakau yang tengah melejit perkembangannya. Konsumen rokok elektrik semakin meningkat jumlahnya dari tahun ke tahun. Di Indonesia sendiri sudah ada Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI) sebagai wadah organisasi para stakeholder vape.

Apa yang membuat rokok elektrik atau vape berkembang cukup pesat?

Ada beragam jawaban untuk satu pertanyaan tersebut. Pertama, vape digandrungi oleh anak muda yang menjadi mayoritas konsumennya. Seperti yang kita tahu, tren yang berkembang di kalangan anak muda sangat cepat mewabah dan menjadi gaya hidup. Tak bisa dipungkiri, ada sebagian orang yang mulai mengonsumsi produk tembakau alternatif ini karena terbawa arus tren.

Baca Juga:  ‘Khasiat Rokok' dalam Mistisisme

Kedua, karena vape memiliki banyak varian rasa yang cukup menarik. Rasa buah-buahan jadi varian yang cukup mampu menggugah hasrat publik (terutama yang sudah lebih dulu menjadi perokok konvensional) untuk ikut mencicipi. Hal ini juga yang membuat banyak orang yang non perokok mau mencoba vape.

Ketiga, seperti yang dibahas di awal, adalah karena vape dianggap sebagai produk tembakau rendah risiko alias lebih aman dikonsumsi dibandingkan dengan rokok konvensional. Nah, pada konteks ini vape dicitrakan sebagai produk untuk membantu berhenti merokok.

Kita semua (khususnya perokok) pasti akrab dengan narasi ini. Sudah banyak artikel di media dan internet yang turut melestarikan pandangan sejenis. Pandangan ini perlahan mengilusi publik, lantas percaya bahwa tembakau lebih aman dikonsumsi dengan cara dipanaskan dari pada dibakar.

Ilusi tersebut berkembang menjadi keyakinan untuk meninggalkan rokok konvensional dan beralih ke rokok elektrik. Pada titik paling antagonis, konsumen rokok elektrik diarahkan untuk terlibat pada agenda menihilkan eksistensi rokok konvensional seperti kretek. Atau dalam bahasa sederhana, konsumen dari kedua produk berbahan dasar tembakau ini diadudomba.

Perlu digarisbawahi, saya sangat menghargai perbedaan pendapat. Siapa pun berhak meyakini mana yang baik dan buruk menurut penilaiannya masing-masing. Tapi, kita juga perlu melihat setiap persoalan secara objektif.

Baca Juga:  Rokok, Kemewahan Terakhir Masyarakat yang Hendak Direbut Orang Kaya

Benarkah vape lebih aman dari rokok? Apa yang membuat kedua produk yang sama-sama berbahan dasar tembakau dan sama-sama mengandung nikotin tersebut dianggap punya efek samping yang berbeda? Apa kepentingan di balik perang propaganda uap vs asap?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut juga harus terjawab tuntas. Klaim vape lebih aman dari rokok jelas menuntut pembuktian yang komprehensif. Saya tidak anti pada produk tembakau seperti vape. Juga tidak membenci para vapers beserta uapnya. Tapi narasi timpang menyoal risiko rokok dan vape perlu ditinjau ulang.

Tembakau jadi komoditas yang hendak dikuasai oleh industri farmasi. Hal tersebut sudah jamak diketahui. Salah satunya dengan menciptakan produk alternatif dari tembakau seperti rokok elektrik, koyo tembakau, permen tembakau, dll. Analisa ini sudah lama dikemukakan oleh Wanda Hamilton dalam bukunya yang berjudul Nicotine War, jauh sebelum vape sepopuler hari ini.

Wanda Hamilton secara gamblang menggambarkan konteks ekonomi dan politik di balik agenda pengendalian tembakau. Ada banyak fakta yang disajikan. Dari sana diketahui bahwa segala upaya pengendalian tembakau hanya menjadi dalih penguasaan bisnis tembakau. Tak heran jika banyak pedagang vape yang merangkap jadi agen antirokok, atau setidaknya mengampanyekan untuk berhenti merokok sekaligus menyarankan untuk mengonsumsi vape.

Baca Juga:  Mari Mengucapkan Terima Kasih di Hari Kretek 2017

Global Forum on Nicotine, sebuah forum hasil kolaborasi kelompok antirokok internasional, melibatkan industri rokok elektrik, serta salah satu perusahaan rokok (sekaligus pemain di industri farmasi) raksasa di dunia, menyebut produk tembakau alternatif bisa mengurangi jumlah kematian, sedangkan rokok berdampak sebaliknya. Padahal berbahan dasar yang sama. Adanya forum ini membuat analisa Wanda Hamilton semakin mentereng.

Tidak ada hal di dunia ini yang tak menanggung akibat. Nasi putih juga bisa mematikan jika dikonsumsi berlebih oleh penderita diabetes. Artinya, kita tidak bisa menakar suatu hal secara serampangan. Dosis pemakaian, kondisi konsumen dan banyak faktor lain akan menentukan tingkat risiko.

Bagi saya pribadi, keberadaan vape bukanlah persoalan, sama seperti keberadaan rokok kretek yang legal. Namun sialnya, kampanye vape kerap menjadikan rokok sebagai musuh yang harus dilawan.

Alih-alih bersatu melawan kelompok anti-tembakau, sebagian–untuk tidak menyebut semua–kelompok vapers lebih sering menyudutkan rokok dan perokok. Vape sering ditawarkan sebagai solusi bagi mereka yang “dibelenggu” oleh rokok. Inilah goal point dari propaganda antirokok.

Kalau kampanye vape terus mendiskreditkan rokok dan perokok, rasanya tidak berlebihan jika muncul anggapan bahwa para stakeholder vape tengah berusaha merebut pasar perokok dengan dalih kesehatan. Terkesan menyarankan untuk “berhenti” padahal mengarahkan untuk “beralih”.

Komunitas Kretek

Komunitas Asyik yang Merayakan Kretek Sebagai Budaya Nusantara