Opini

Karpet Merah Untuk IQOS

Produk tembakau tanpa dibakar dan tanpa asap itu bernama Iqos. Kemunculan produk ini menambah lengkap daftar produk sejenis rokok dengan kecanggihannya. Setelah jauh sebelumnya pasar penikmat produk tembakau diguncang oleh tren rokok elektrik seperti vape, kali ini muncul ditawarkan sensasi merokok tanpa asap.

Unik memang, inovatif tentu. Itulah kesan pertama bagi kalangan awam. Bahkan digadang-gadang oleh pihak Philip Morris melalui Presiden Direktur HM Sampoerna yang menyatakan, produk ini merupakan alternatif yang lebih baik bagi perokok dewasa. Ya dengan kata lain, rokok konvensional yang biasa dikonsumsi perokok dewasa itu tidak lebih baik ataupula tidak lebih aman.

Sebagaimana kita tahu, rokok konvensional yang merajai pasar di dalam negeri adalah golongan kretek. Baik itu berfilter maupun non filter. Para penikmat rokok khas Indonesia yang di dalamnya terdapat komponen cengkeh ini pada era ini dihadapkan pada satu pilihan baru. Pilihan produk yang hanya mengandung nikotin tanpa unsur cengkeh di dalamnya.

Peluncuran produk terbaru ini diresmikan dan disambut baik oleh Menko Perekonomian Airlangga Hartanto, yang kemudian diperkuat melalui pernyataan menteri investasi Bahlil Lahadalia, bahwa investasi Philip Morris melalui emiten HMSP dipandang sejalan dengan semangat pemulihan ekonomi nasional. Di lain sisi, dianggap pula sebagai motor penggerak untuk menarik lebih banyak investor ke Indonesia. Luar biasa memang.

Baca Juga:  Mengenal Kawasan Tanpa Rokok

Namun, jika ditilik lebih lanjut, kemunculan produk tembakau tanpa asap ini secara langsung mengukuhkan keberadaannya dalam menyingkirkan pasar kretek. Di tengah gencarnya kampanye kesehatan yang mendiskreditkan rokok, serta desakan kepentingan berbasis regulasi yang juga mulai menyasar ruang penjualan rokok, kita dapat menalar apa yang sebenarnya terjadi di balik ini semua. Yap. Perang dagang nikotin.

Hantaman terhadap ekosistem kretek melalui regulasi cukai saja sudah membuat banyak pihak terseok-seok, baik hulu maupun hilir. Perlu menjadi catatan, produk kretek selama ini bukan hanya menyerap hasil panen tembakau sebagai bahan baku, juga ada komoditas penting sebagai penegas produk kretek yakni cengkeh.

Keberadaan petani cengkeh nyaris tak terlalu menjadi perhatian dalam beragam pembicaraan di isu rokok. Kampanye kesehatan yang dimainkan antirokok melulu hanya menyoal rokok dan bahaya nikotin yang dikandungnya, sementara Indonesia memiliki produk yang disebut kretek.

Produk kretek berbeda dari rokok lain yang dijadikan basis logika kesehatan antirokok, yang sebagian besar suplai penelitiannya berdasar riset ahli kesehatan asing terhadap rokok non kretek.

Jadi, sebetulnya kalau mau bicara soal produk berbasis tembakau mana lebih baik atau lebih aman, menurut saya, tak ada yang pantas dinyatakan tidak memiliki faktor risiko. Namun, secara ekonomi politik, yang penting menjadi perhatian pemerintah dalam upaya pemulihan ekonomi nasional, janganlah terjebak pada paradigma investasi yang melulu dilihat secara angka. Ada aspek intrinsik (sosial-budaya) yang lebih dari sekadar angka.

Baca Juga:  Menyoal Bocah Merokok Yang Viral Di Yogyakarta

Ada yang juga penting untuk disikapi dalam konteks ini, yakni ketika IHT dan pasar rokok konvensional semakin tersingkir akibat desakan regulasi. Pasarnya mengalami degradasi. Maka keberadaan produk khas dalam negeri yang telah memberi andil besar melalui serapan bahan baku, tenaga kerja, serta pasarnya, ini semua akan beralih termakan oleh produk inovasi yang dicap lebih aman alih-alih investasi dan pemulihan ekonomi. Jangan sampai hanya karpet merah untuk produk inovasi semacam Iqos, tetapi karpet lusuh bagi IHT dalam negeri.

Ada jutaan petani cengkeh yang mesti jadi perhatian pemerintah, hasil panen mereka sebagian besar terserap untuk sektor kretek. Sekira 97% industri kretek terserap untuk komposisi produk kretek.

Petani cengkeh banyak yang bergantung hidup dari sektor industri kretek. Dari sektor bumbu dan parfum tak seberapa besar. Namun, dengan munculnya produk canggih Iqos itu, kita dapat menangkap sinyal atas sikap pemerintah yang abai terhadap dampak ‘perang dagang’ yang di baliknya mengancam nasib rakyat akar rumput yang selama ini bersetia menyumbang devisa melalui sektor kretek.

Sumber gambar: iaslc.org

Penulis di Komunitas Kretek