Rokok Adalah Penyebab Stunting?
Opini

Rokok Adalah Penyebab Stunting?

Sekelompok orang menilai bahwa rokok adalah sumber, penyebab dan asal-muasal segala macam penyakit. Intinya, rokok adalah pusat galaksi tata surya penyakit yang ada di dunia. Dan kelompok itu bernama anti-rokok.

Jangan heran kenapa bahasa yang saya gunakan sangat lebay, karena memang itu cara menggambarkan pola pikir dan aktivitas mereka: berlebihan. Betapa tidak, wong orang meninggal karena mengidap penyakit apapun, bakalan dibingkai salah rokok. Kalau orang yang meninggal bukan perokok, mereka akan mencari silsilah keluarganya yang merokok. Pokoknya harus salah rokok!!!

Ada yang lebih lebay, menyebut rokok itu kencing iblis, babi aja kagak mau. Semakin lebay lagi ketika pandangan itu diklaim sebagai hadits yang belakangan diketahui sebagai hadits palsu. Satu lagi, semakin banyak klaim bahwa anak balita dari seorang perokok bakalan mengidap stunting atau tumbuh kerdil. Semua dipropagandakan layaknya kebenaran mutlak. Ngawur!

Entah sejak kapan kebencian pada rokok dan perokok tumbuh subur seperti ini. Narasi-narasi tentang bahaya merokok semakin menuju wilayah tak masuk akal. Saran saya, bagi yang merokok ya lanjut saja merokok. Jangan mau diintimidasi pakai narasi lebay yang gak valid begitu. Buat yang tidak merokok, ya saya sih gak menyarankan untuk merokok, yang penting jangan lebay kayak anti-rokok.

Tapi, apapun itu, kalian para perokok harus tetap berlaku santun di mana pun kalian berada. Bahasa sederhananya: punya adat lah! Jangan merokok saat berkendara, di dekat anak kecil dan di dekat ibu hamil.

area merokok
Orang merokok di smoking area yang jauh dari anak dan ibu hamil

Kenapa gak boleh merokok dekat ibu hamil? Ya karena ibu-ibu hamil memang tergolong manusia yang harus diberikan perhatian khusus. Kadang cuma duduk diam sambil nonton drama korea di ruang ber-AC sekalipun, ibu hamil alias bumil bisa tiba-tiba mual dan pengen muntah, apalagi kalau terpapar aroma yang kuat seperti asap rokok dan knalpot. Beeeh, bisa muntah-muntah kayak habis main komedi putar yang putarannya 7 hari 7 malam gak berhenti. Pokoknya, kalian jangan ngudud di tempat yang asapnya tercium sama bumil. Ingat, kalian para lelaki suatu saat akan menjadi ayah dari anak yang dikandung bumil.

Ya itu alasan kenapa perokok harus jauh-jauh dari ibu hamil. Kelak, setelah sang bayi lahir, kita (perokok) tetap harus jaga jarak dengan ibu dan balita. Maksudnya, ya jangan merokok di depan si ibu. Jangan merokok di depan si balita. Dan, jangan merokok bersama alias join dengan mereka. Jangan!

Baca Juga:  3 Keisengan Perokok Sebelum Rokoknya Dibakar

Terlepas dari narasi tentang stunting yang makin masif dikampanyekan, kita tentu sepakat bahwa produk olahan tembakau bernama rokok (beserta asap yang dihasilkan) memang bukan diperuntukkan bagi anak-anak, apalagi balita. Dengan berpegang pada kesepakatan itu saja sudah cukup bagi kita untuk tidak merokok di sekitar mereka.

Narasi yang menyebut bahwa rokok dan orangtua perokok adalah penyebab stunting masih perlu diterjemahkan lebih kompleks. Maksudnya, diagnosa itu tidak bisa berdiri semaunya, harus ada penjelasan ilmiah dan bisa diterima akal sehat. Kenapa demikian?

Begini. Saya sendiri punya teman yang dilahirkan dan dibesarkan oleh seorang ibu perokok. Bahkan, teman saya kini sudah punya tiga anak hebat yang bebas dari ciri-ciri stunting. Salah satu anak dari teman saya bahkan sudah punya anak lagi. Sudah tiga garis keturunan dari seorang ibu perokok ternyata bebas dari stunting. Hal semacam itu umum terjadi di desa-desa. Kita sama-sama tahu itu.

Lantas, bagaimana antirokok menjelaskan fenomena tersebut?

ibu perokok
Mbah Jainah asal Desa Junti, Indramayu, penikmat kretek sejak masih muda hingga berusia 70 tahun lebih

Begini, setiap hal di dunia ini menanggung risiko. Tidak ada yang tidak berisiko. Nasi putih saja berisiko jika dikonsumsi berlebih oleh penderita diabetes. Artinya, kondisi pengguna dan dosis penggunaan turut menjadi variabel yang mempengaruhi. Lha, kok tuduhan-tuduhan pada rokok dan perokok seringkali dikampanyekan secara serampangan?

Baca Juga:  Cukai Rokok Dongkrak Pemasukan Negara Awal Tahun

Sebagaimana nasi putih, rokok juga punya faktor risiko, itu harus diakui. Tapi, tidak bisa dipukul rata semua perokok pasti blablabla. Ada variabel lain yang perlu diperhatikan juga. Masalahnya, antirokok sudah dari dulu mengampanyekan bahaya rokok, bahwa rokok adalah penyebab berbagai macam penyakit, tanpa peduli pada variabel lain yang mengikuti di belakang. Ini yang ditanamkan ke benak publik bertahun-tahun.

Bahkan, pernah ada menteri yang mengimbau pada semua ayah di Indonesia agar berhenti merokok demi mencegah stunting. Alasannya, agar para ayah mengalokasikan uang rokoknya untuk pemenuhan gizi anak. Ini simplifikasi namanya.

Saya jadi bertanya, memang ada ya ayah yang egois pengen ngudud tapi ogah memenuhi gizi anaknya? Ya masa sekelas menteri menekan stunting dengan mengambinghitamkan rokok. Ingat, kekurangan gizi disebabkan oleh kemiskinan. Faktor ekonomi ini terlepas dari seseorang merokok atau tidak. Ya kan ada korban stunting dari keluarga non perokok. jadi gizi si anak tidak bisa terpenuhi ya karena secara ekonomi gak sanggup memenuhi. Ada yang begitu. Banyak!

Prevalensi ayah perokok itu satu hal. Dan pemenuhan gizi serta kesehatan rakyat itu hal lain. Jangan dicampur aduk. Penuhi kewajiban negara untuk memastikan rakyatnya sejahtera, sehat, dan bergizi. Jangan kabur.

Di atas itu semua, perokok harus tetap berlaku santun. Ingat, perokok santun saja masih distigma negatif, apalagi yang bandel. Tabik.

Penulis di Komunitas Kretek